DetikNews
Kamis 24 Januari 2019, 07:53 WIB

Anomali Pemilih Jokowi vs Prabowo

Tim detikcom - detikNews
Anomali Pemilih Jokowi vs Prabowo Rilis survei Indikator. Foto: Nur Azizah/detikcom
Jakarta - Rupanya pemilih partai politik belum tentu menyesuaikan pilihan capres-cawapres sesuai yang diusung parpol pilihannya. Temuan itu terungkap dalam survei yang dibuat oleh lembaga Indikator, sehingga tampak ada anomali dari pemilih Joko Widodo (Jokowi)-Ma'ruf Amin maupun Prabowo Subinto-Sandiaga Uno.

"Secara umum, partai-partai yang berada di koalisi pendukung Jokowi-Ma'ruf masih banyak yang mendukung pasangan ini, di atas 50 persen. Akan tetapi memang ada variasinya itu masing-masing partai. PDIP 90,1 persen mendukung Jokowi-Ma'ruf sementara 6 persen mendukung Prabowo-Sandi. PPP mengalami split ticket voter paling besar, 53,7 persen mendukung Jokowi-Ma'ruf sementara 43,2 persen mendukung Prabowo-Sandi," kata peneliti senior Indikator Rizka Halida di kantornya, Jalan Cikini V, Menteng, Jakarta Pusat, Rabu (23/1/2019).



Di koalisi Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Gerindra menjadi partai paling solid mendukung dan Berkarya menjadi partai yang paling banyak terbelah suaranya, disusul oleh Demokrat.

"Kalau di koalisi Prabowo-Sandi ini yang paling solid dukungannya adalah pemilih Gerindra di mana 81,5 persen pemilih Gerindra mendukung Prabowo-Sandi. Yang paling tidak solid Partai Berkarya, terbelah dukungannya ke Jokowi-Ma'ruf. Yang cukup banyak juga adalah dari Partai Demokrat, 40,5 persen lebih banyak yang memilih Jokowi-Ma'ruf," paparnya.

Tanggapan Kubu Jokowi-Ma'ruf

Sebanyak 43,2 persen konstituen PPP mendukung Prabowo Subianto di Pilpres 2019 berdasarkan survei Indikator. PPP pun mengungkit sejarah bahwa partainya pernah berseberangan dengan capres Joko Widodo sejak Pilkada di Solo tahun 2005.

"Ya bahwa sejarah politik PPP sebanyak 5 kali berhadapan dengan Jokowi mulai dari Pilkada Solo 2015, Pilkada Solo 2010, Pilkada DKI 2012 putaran pertama, Pilkada DKI 2012 putaran kedua dan Pilpres 2014. Waktu itu PPP solid berhadapan dengan Jokowi dan selalu kalah," ujar Wasekjen PPP Achmad Baidowi saat dimintai konfirmasi, Rabu (23/1/2019).

Menurut pria yang akrab disapa Awiek itu, memang tak mudah mengubah preferensi konstituennya. Tapi dia yakin nantinya para pemilih PPP akan mendukung Jokowi.



Selain PPP, pemilih Golkar juga cukup banyak yang tak mendukung Jokowi-Ma'ruf berdasarkan survei Indikator. Ada 31% responden yang memilih Golkar rupanya lebih mendukung Prabowo-Sandiaga.

"Angka ini sebetulnya masih lebih baik dibandingkan dengan survei-survei sebelumnya. Awalnya, pemilih Partai Golkar pada 2014 yang memilih Pak Jokowi hanya 17%," ujar Ketua DPP Partai Golkar, Ace Hasan Syadzily.

Sementara itu Ketua Lembaga Pemenangan Pemilu PKB Marwan Jafar tetap yakin partainya solid memenangkan Jokowi-Ma'ruf meski ada 27% pemilihnya yang mendukung Prabowo-Sandiaga. Kemudian Sekjen NasDem Johnny G Plate memaparkan strategi kampanye.

"Kita mulai akhir Maret akan mulai rapat terbuka, akan melakukan iklan-iklan politik, penggunaan internet, sebagaimana amanat UU, dengan media-media cetak maupun elektronik. Saat itu nanti, secara masif koalisi 9 partai ini akan bekerja untuk memastikan Pak Jokowi-Ma'ruf basis elektoral elektabilitasnya dipertahankan atau kalau bisa ditingkatkan. Kami sih sampai saat ini secara internal membuat analisa itu masih cukup yakin bahwa keunggulan itu dapat dipertahankan," kata Johnny.

Tanggapan Kubu Prabowo-Sandiaga

Pemilih Partai Berkarya disebut paling banyak persentasenya yang mendukung Jokowi-Ma'ruf. Meski bukan pengusung, Partai Berkarya adalah pendukung Prabowo-Sandiaga.

"Saya kira hal yang wajar karena Partai Berkarya partai baru yang fokus di Pemilihan Legislatif (Pileg). Kami kan hanya pendukung bukan pengusung, SDM kami pun terbatas. Beban berat kami bagaimana lolos PT 4%. Di mata kami Capres Prabowo sudah menanglah, ada sekjen kami sudah fulltime di BPN (Badan Pemenangan Nasional Prabowo-Sandiaga) kok, tinggal kami fokus Caleg saja," ujar Ketua DPP Partai Berkarya, Badaruddin Andi Picunang ketika dimintai konfirmasi, Rabu (23/1/2019).

Bahkan, kata Andi, Ketum Berkarya Hutomo Mandala Putra (HMP) alias Tommy Soeharto mengimbau kader fokus ke Pileg. Sedangkan, kader yang menjadi timses Prabowo tetap diminta memaksimalkan tugasnya.

"Di daerah basis capres pun para caleg kami juga menyesuaikan dukungannya. Saya kira tidak hanya Partai Berkarya, partai lain juga begitu jadi bunglon/menyesuaikan suhu politik di dapil/daerahnya. Ketua Umum HMP pun mengimbau agar fokus Pileg biar konsentrasi tidak terbelah, bagi yang diberi amanah jadi timses capres ya silahkan dimaksimalkan di daerah masing-masing," ujar Andi.

Selain Berkarya, ada pula Partai Demokrat yang persentase pemilihnya banyak tak mendukung Prabowo-Sandi menurut Survei Indikator. Politikus PD Roy Suryo lalu bicara pengaruh Ketum PD Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) untuk memenangkan Prabowo-Sandiaga.

"Jadi dulu ketika awal deklarasi Demokrat kan dikatakan 50-50, ada yang memilih 01 dan sebagian memilih 02, apalagi waktu itu kita juga, Pak SBY belum turun langsung. Sekarang beliau terjun langsung, alhamdulillah membawa perubahan yang signifikan," ujar Roy.

Penyebab Munculnya Split Ticket Voting

Berdasarkan survei Indikator terkait pemilih dari parpol yang memberikan suara kepada pasangan calon lain yang tidak diusung partainya (split ticket voting), salah satu penyebabnya karena adanya isu personal. Isu miring yang menyerang personal masing-masing capres rupanya masih mempengaruhi pemilih.

Isu personal yang menerpa capres Joko Widodo (Jokowi) yaitu terlahir dari orang tua non-Islam, isu Jokowi beretnis China/Tionghoa, isu Jokowi lebih memihak kelompok China/Tionghoa, hingga isu keterkaitan Jokowi dengan PKI. Sementara, isu personal yang menerpa capres Prabowo Subianto yaitu soal keterlibatan dalam kasus penculikan aktivis 1998.

"Isu personal Jokowi yang dikaitkan dengan isu keturunan PKI dan sebagainya. Sementara isu Prabowo mengenai keterlibatan dalam kasus '98. Untuk basis koalisi Prabowo-Sandi lebih besar terbelah pada kelompok yang tidak tahu isu personal Jokowi," kata peneliti senior Indikator Rizka Halida.

Survei dilakukan pada 16-26 Desember 2018 terhadap 1.220 responden. Populasinya seluruh warga yang memiliki hak pilih. Survei dilakukan menggunakan metode multistage random sampling. Margin of error survei +/- 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Berikut ini persentase konstituen partai Koalisi Indonesia Kerja yang memilih Prabowo-Sandi:

PDIP: 6,0 persen
Partai Golkar: 31,2 persen
PKB: 27,0 persen
Partai NasDem: 27,8 persen
PPP: 43,2 persen
Partai Hanura: 39,6 persen
Partai Perindo: 27,9 persen
PSI: 8,1 persen
PKPI: 0,0 persen

Berikut ini persentase konstituen partai Koalisi Indonesia Adil Makmur yang memilih Jokowi-Ma'ruf:

Partai Gerindra: 14,1 persen
PKS: 21,1 persen
PAN: 26,0 persen
Partai Demokrat: 40,5 persen
Partai Berkarya: 42,1 persen

Ikuti perkembangan Pemilu 2019 hanya di detik.com/pemilu!
(bag/nvl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed