DetikNews
Sabtu 12 Januari 2019, 19:25 WIB

Prediksi Masa Depan Ojek Sepeda Ontel

Adhi Indra Prasetya - detikNews
Prediksi Masa Depan Ojek Sepeda Ontel Foto ilustrasi. (Rengga Sencaya/detikcom)
Jakarta - Moda transportasi ramah lingkungan yang satu ini merasa berada di tubir zaman. Para penarik ojek sepeda ontel tak melihat adanya masa depan cerah di balik polusi kendaran bermotor Ibu Kota.

Rata-rata, usia penarik ojek ontel ini tak lagi muda. Saat detikcom mengunjungi sejumlah titik ngetem mereka, terlihat pria-pria usia lewat paruh baya mendominasi pekerjaan ini. Tak ada wajah pemuda di lapangan pekerjaan ini.

Penarik ojek ontel termuda yang berhasil kami temui secara acak adalah usia 41 tahun. Yang paling senior bahkan mengaku berusia 80 tahun. Itu bukan paruh baya lagi, namun sudah lanjut usia.

Jamari (41) di Pasar Pagi Lama Asemka, Pinangsia Jakarta Barat mengakui ojek sepeda ontel ini tidak mengalami kemajuan sejak pertama kali dia melakoni pekerjaan ini 15 tahun lalu. Bahkan dia merasakan, pekerjaan ini semakin lesu dari tahun ke tahun. Tanda yang dia lihat yakni berkurangnya jumlah penarik ojek.

"Lama-kelamaan berhenti sendiri. Sekarang satu demi satu, kalau sudah nggak kuat tenaganya kan sudah nggak bisa ngojek. Dulu di sini banyak, ada 20-an orang, sekarang paling tinggal 12 orang. Yang tua-tua tenaganya sudah nggak ada," kata Jamari.

Prediksi Masa Depan Ojek Sepeda OntelFoto: Tukang ojek sepeda, Jamari, di Pasar Pagi Lama Asemka. (Adhi Indra Prasetya/detikcom)

Pria asal Serang Banten ini mengaku kadang dapat penghasilan bagus Rp 1 juta dalam sepekan untuk menghidupi dirinya sendiri di Jakarta, serta istri plus tiga anaknya di kampung. Namun penghasilan tak melulu bagus. Kadang-kadang dia tak berhasil dapat Rp100 ribu dalam sehari. "Pengeluaran kan sudah pasti, pemasukan nggak ada. Sekarang ini pengeluaran sudah Rp 100 ribu per hari," kata dia.



Penarik ojek lain di kawasan pasar ini, Trimo, lebih tua dari Jamari. Trimo berusia 57 tahun dan sudah dua dekade menjadi penarik ojek ontel. Pria asal Tegal ini tertarik menjadi tukang ojek sepeda karena melihat ada sesuatu yang tak bisa dia dapatkan di pekerjaan buruh.

"Pertama, ojek sepeda itu bebas. Kedua, nggak ada hambatan, yang penting rajin," kata Trimo yang bekerja sebagai buruh pabrik sebelum ngojek sepeda ini.

Prediksi Masa Depan Ojek Sepeda OntelFoto: Trimo, tukang ojek di Pasar Pagi Lama Asemka (Adhi Indra Prasetya/detikcom)

Namun pekerjaan ini menurutnya tak bisa bertahan lebih lama lagi. Itu karena generasi muda ogah melakoni pekerjaan yang mengandalkan kekuatan kaki ini. Adapun penarik ojek sepeda yang kini masih bertahan sudah berusia tua-tua.

"Menurut saya kayaknya nggak ada lagi. Generasi mudanya kayaknya nggak bakalan ada yang mau kayaknya. Sekarang saja sudah ojek online semua, otomatis anak mudanya lari ke ojek online," kata Trimo yang tak bisa naik sepeda motor ini. Dia sendiri sebenarnya ingin menjadi pedagang bila cukup modal.



Di sekitar Stasiun Jakarta Kota, belasan pengojek juga masih setia dengan sepeda ontelnya. Ada Syahirin (42) yang punya pendapat lebih optimis tentang regenerasi ojek sepeda ontel di masa depan. Menurutnya, bakal ada angkatan lebih muda yang datang meneruskan ojek ontel ini.

"Seperti waktu saya masuk dulu, banyak sekali. Setelah saya masuk, tetap ada saja tukang ojek sepeda yang baru. Yang lama sekarang mungkin sudah pulang kampung atau cari kerja lain, tapi ini berputar gantian," kata Syahirin.

Prediksi Masa Depan Ojek Sepeda OntelFoto ilustrasi (Rengga Sencaya/detikcom)

Tak jauh dari tempat Syahirin ngetem, ada Darmadi yang lebih senior. Dia sudah berusia 60 tahun dan masih mampu mengantarkan penumpang dengan sepeda ontelnya. Meski sudah lanjut usia, namun jasmaninya masih prima. "Kalau masih sehat ya ngonthel. Kalau nggak, ya pulang kampung, sudah tua ini," kata dia.

Bukannya tak pernah mencoba pekerjaan selain ojek sepeda, tapi percobaan yang dia lakukan tak pernah berhasil. Di tengah penghasilan ojek sepeda yang tak menentu, pria-pria ini juga pernah menjajal pekerjaan lain. Thamrin misalnya, pria 48 tahun asal Brebes ini Pernah pada 12 tahun silam, Thamrin menjajal peruntungan dengan membuka warung tegal (warteg) di bangunan yang tidak dipakai, di daerah Jembatan Besi I, Tambora, Jakarta Barat. Sempat laris, namun sialnya warung itu digusur setelah dua tahun dijadikan warteg. Lima tahun kemudian, dia juga membuka warteg di dekat Stasiun Jakarta Kota ini, namun warung hanya bertahan dua tahun karena yang punya tempat tak memperpanjang kontrak.

"Akhirnya saya ngojek lagi," kata Thamrin. Dia juga tak tertarik menjadi pengemudi ojek sepeda motor online karena tak bisa mengoperasikan ponsel pintar. Darmadi juga demikian, tak bisa mengopersikan ponsel pintar, alat penting pekerjaan ojek online.

Simak berita-berita detikcom tentang ojek sepeda dan pesepeda.
(dnu/dnu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed