DetikNews
Sabtu 12 Januari 2019, 07:18 WIB

Revolusi Moral Amien Melawan Revolusi Mental Jokowi

Haris Fadhil, Nur Azizah Rizki Astuti - detikNews
Revolusi Moral Amien Melawan Revolusi Mental Jokowi Amien Rais (Foto: Grandyos Zafna-detikcom)
Jakarta - Amien Rais kembali mengkritik Presiden Joko Widodo (Jokowi). Kali ini, Amien ingin mengakhiri Revolusi Mental yang digagas Jokowi dan menggantinya dengan Revolusi Moral.

Keinginan Amien itu disampaikannya saat meluncurkan buku berjudul 'Hijrah: Selamat Tinggal Revolusi Mental, Selamat Datang Revolusi Moral'. Ketua Dewan Kehormatan PAN itu menyebut tidak adanya dokumen autentik untuk Revolusi Mental dari Jokowi.

"Jadi menurut saya, Revolusi Mental Pak Jokowi itu memang tidak jelas, tidak ada dokumen autentik yang sebetulnya," kata Amien saat peluncuran buku itu di Jalan Daksa I, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (11/1/2019).


Mental, menurut Amien, merupakan sebuah sikap yang muncul dari suasana batin kejiwaan seseorang. Sedangkan moral adalah kemampuan seseorang membedakan suatu hal yang baik dan buruk. Dia mengatakan rezim Jokowi tak punya penunjuk moral. Hal itu menurut Amien membuat pemerintahan Jokowi lemah.

"Lo ini saya justru mengakhiri revolusi mental. Pak Jokowi itu kan mental. Saya mengatakan bahwa rezim Jokowi ini tidak punya moral kompas. Tidak punya kompas paradigma atau penunjuk moral, sehingga sangat lemah," ucapnya.

Amien menyebut dalam bukunya ada perkataan Nabi Muhammad soal kearifan. Dia kemudian mencontohkan soal mutiara yang akan tetap jadi mutiara meski keluar dari mulut hewan.


"Jadi saya katakan di dalam buku ini bahwa Nabi Muhammad SAW mengatakan bahwa wisdom atau kearifan itu barang hilangnya orang beriman. Jadi mutiara itu, sekalipun keluar dari mulut anjing atau babi, tetap mutiara, tetap berlian. Maka pesan itu sangat luas kebenaran, dari mana pun bisa diambil. Saya sebagai seorang muslim insyaallah orang beriman," ujar Amien.

Dia mengatakan isi bukunya juga berisi kutipan dari John Buchan, sejarawan dan novelis Skotlandia. Revolusi moral, menurut dia, lebih penting ketimbang revolusi mental.

"Yang dikatakan Buchan itu saya kutip, bedanya sama Jokowi, dia (Buchan) mengatakan revolusi moral atau persenjataan moral itu dibutuhkan lebih penting daripada persenjataan militer dan lain-lain," katanya.

Dia menilai bahwa apa yang disampaikan Buchan dirasa cocok dengan ajaran Islam, di mana akhlak adalah hal penting di dalam agama Islam. Amien mengatakan akhlak adalah mahkota umat Islam.

"Kebetulan omongan dia (Buchan) itu cocok dengan Islam, yaitu akhlak itu adalah yang paling penting di dalam agama Islam. Di atas ibadah-ibadah itu, akhlak adalah mahkota-mahkotanya, makanya saya mengatakan bahwa rezim Jokowi ini tidak punya moral kompas," papar Amien.


Kembali ke soal ketiadaan kompas moral, menurut Amien Rais, hal itu sangat mengganggu. Dia pun menyinggung budaya baru yang muncul di masyarakat. "Budaya tipu-tipu," sebutnya.

"Jadi ini yang betul-betul mengganggu saya. Bahwa there's something very, very, very wrong 4 tahun ini," imbuhnya.

Meski kini mengkritik, Amien mengaku sempat mengapresiasi gagasan revolusi mental pemerintahan Jokowi. Tapi konsep itu disebut Amien tak berjalan. Karena itu, Amien Rais menawarkan konsep revolusi moral. Moralitas, menurutnya, menjadi landasan dari tegaknya keadilan.

Sebenarnya, apa yang dimaksud Revolusi Mental?

Dikutip dari situs revolusimental.go.id, terdapat 8 prinsip dasar Revolusi Mental. Pertama, Revolusi Mental adalah gerakan sosial untuk bersama-sama menuju Indonesia yang lebih baik.

Berikutnya, Revolusi Mental harus didukung oleh tekad politik (political will) pemerintah, dan harus bersifat lintas sektoral. Selanjutnya, masih dalam situs itu, Revolusi Mental disebut harus memiliki kolaborasi masyarakat, sektor privat, akademisi dan pemerintah.

Dilakukan dengan program 'gempuran nilai' (value attack) untuk senantiasa mengingatkan masyarakat terhadap nilai-nilai strategis dalam setiap ruang publik. Desain programnya harus mudah dilaksanakan , menyenangkan bagi seluruh segmen masyarakat.


Kemudian, nilai-nilai yang dikembangkan terutama ditujukan untuk mengatur moralitas publik (sosial) bukan moralitas privat (individual). Terakhir, dapat diukur dampaknya dan dirasakan manfaatnya oleh warga masyarakat.

Jokowi sendiri telah meneken Instruksi Presiden Nomor 12 Tahun 2016 tentang Gerakan Nasional Revolusi Mental. Inpres ini dikhususkan untuk memperbaiki serta membangun karakter bangsa Indonesia dalam melaksanakan revolusi mental.

Di situs resmi Setkab yang dilihat Selasa (10/1/2017), inpres itu antara lain mengacu pada nilai-nilai integritas, etos kerja dan gotong-royong untuk membangun budaya yang bermartabat, modern, maju, makmur, dan sejahtera berdasarkan Pancasila. Inpres ini juga ditujukan kepada para menteri Kabinet Kerja; Sekretaris Kabinet; Jaksa Agung Republik Indonesia; Panglima Tentara Nasional Indonesia; Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri); para kepala lembaga pemerintah nonkementerian; para kepala sekretariat lembaga negara; para gubernur; dan para bupati/wali kota.

Menurut inpres tersebut, ada lima program Gerakan Nasional Revolusi Mental yang harus digalakkan, yaitu:

I. Program Gerakan Indonesia Melayani,
II. Program Gerakan Indonesia Bersih,
III. Program Gerakan Indonesia Tertib,
IV. Program Gerakan Indonesia Mandiri,
V. Program Gerakan Indonesia Bersatu.



Tonton juga video 'Amien Rais Kritik Revolusi Mental Jokowi Lewat Buku':

[Gambas:Video 20detik]


(haf/haf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed