DetikNews
Jumat 04 Januari 2019, 23:24 WIB

Kerja, Kerja, Kerja Tak Cukup buat Sandiaga

Sofyan - detikNews
Kerja, Kerja, Kerja Tak Cukup buat Sandiaga Sandiaga di Tarakan (Sofyan/detikcom)
Tarakan - Cawapres Sandiaga Uno memotivasi para milenial dan pengusaha muda untuk terus berinovasi. Menurut cawapres nomor urut 02 itu, menjadi milenial dan pengusaha yang sukses tak hanya cukup kerja, kerja, kerja.

Motivasi itu disampaikan Sandiaga saat berkampanye di Tarakan, Kalimantan Utara (Kaltara). Di sana mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu bertemu dengan pengusaha milenial serta para penjual udang dan kepiting.

"Kaltara dan Tarakan punya potensi ekonomi yang luar biasa. Dari perkebunan, pertambangan, dan hasil bumi. Negara ini kaya. Harus dikelola dengan baik untuk kepentingan anak bangsa sendiri, bukan dinikmati oleh orang asing," terang Sandi di Warung Kopi Indra (Aseng), Kota Tarakan, Kaltara, Jumat (4/1/2019).

"Jangan hanya kerja, kerja, dan kerja, tapi lupa esensi untuk membangun ekonomi masyarakat," imbuhnya.

Cawapres Sandiaga Uno saat berkampanye di Tarakan, Kalimantan Utara.Cawapres Sandiaga Uno saat berkampanye di Tarakan, Kalimantan Utara. (Sofyan/detikcom)

Sandiaga mengatakan, dalam membangun ekonomi bangsa, peran milenial harus berkembang. Menurutnya, milenial bukan lagi harus mencari kerja, tetapi bagaimana menciptakan lapangan pekerjaan.

"Pemerintah harus hadir. Fokus Prabowo-Sandi adalah ekonomi yang berfokus pada penyediaan dan penciptaan lapangan kerja serta harga-harga kebutuhan pokok stabil serta terjangkau. Dan milenial harus berfokus pada penciptaan lapangan kerja, bukan mencari kerja. Maksimalkan kekayaan yang kalian punya di sini. Tahun 2019 Kaltara harus lebih maju lagi," ucap Sandiaga.

Cawapres yang juga terkenal sebagai pengusaha sukses itu banyak mendengar keluhan saat berkampanye di Kaltara. Pelaku budi daya kepiting, Munir, curhat ke Sandiaga soal kebijakan yang membuat pengusaha tidak bisa melakukan ekspor besar-besaran.



"Jadi pasar kepiting ini pasar terbesarnya saat Imlek. Antara 5 Desember hingga 15 Januari. Pembatasan ekspor untuk kepiting betina yang sedang bertelur. Itu memang kalau tangkapan alam Pak memang nggak apa-apa," cerita Munir.

"Tapi ini kan budi daya. Malah kalau dibiarkan, kepiting ini bisa menjadi hama, merusak tambak ikan dan udang. Harga pun turun dari Rp 200 ribu per kilogram menjadi hanya Rp 40 ribu per kilogram," sambungnya.

Sandiaga memastikan keluhan yang disampaikan akan diserap dan dikaji. Sandi berjanji, jika pada 2019 ia dipercaya melayani masyarakat Indonesia, pemerintah pasti akan hadir membantu para pengusaha dan nelayan.
(zak/idn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed