DetikNews
Rabu 26 Desember 2018, 18:34 WIB

BNPB: Indonesia Rawan Tsunami, Sejak 1629 Ada 177 Kejadian

Farih Maulana Sidik - detikNews
BNPB: Indonesia Rawan Tsunami, Sejak 1629 Ada 177 Kejadian Kelurahan Sumur, Pandeglang, Banten, merupakan tempat terparah yang terdampak tsunami Selat Sunda. Begini kondisi di Kelurahan Sumur, Selasa (25/12). (Rifkianto Nugroho/detikcom)
FOKUS BERITA: Tsunami Selat Sunda
Jakarta - Tsunami di sekitar Selat Sunda terjadi berselang hampir tiga bulan setelah tsunami Palu. Tercatat ada 177 kejadian tsunami yang menerjang Indonesia sejak 1629.

"Kalau kita melihat wilayah Indonesia yang rawan tsunami seperti ini dari tahun 1629 sampai dengan sekarang tercatat 177 kejadian bencana besar dan kecil," kata Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam konferensi pers di kantornya, Jl Pramuka Raya, Jakarta Timur, Rabu (26/12/2018).


Dia mengatakan tsunami paling sering dipicu aktivitas gempa tektonik dibanding longsor laut dan erupsi gunung api. Sutopo mengatakan saat ini Indonesia baru punya alat pendeteksi tsunami yang dipicu gempa tektonik.

Data tsunami di Indonesia sejak 1629Data tsunami di Indonesia sejak 1629. (Foto: dok. BNPB)

"Dan sistem peringatan dini untuk tsunami yang dibangkitkan oleh longsor bawah laut dan gunung api kita belum memiliki yang kita miliki adalah Indonesia tsunami early warning system yang dioperasionalkan BMKG, yaitu tsunami yang dibangkitkan oleh aktivitas tektonik," ucap dia.


Berdasarkan catatan yang ada, wilayah timur Indonesia lebih rawan dilanda tsunami. Sutopo mengatakan upaya mitigasi bencana mesti dikuatkan lagi.

Sutopo mengatakan tercatat warga yang rawan terdampak gempa sebanyak 148 juta jiwa. Sedangkan warga pinggir pantai yang rawan terdampak tsunami sebanyak 3,8 juta jiwa. Jumlah orang yang terdampak bisa lebih besar karena wilayah pesisir pantai sering didatangi wisatawan.


"Bayangkan dari penduduk Indonesia saat ini, 265 juta jiwa mereka yang tinggal di daerah rawan gempa 148,4 juta jiwa. Sementara masyarakat yang tinggal di pantai, pantai-pantai yang rawan daripada tsunami sebanyak 3,8 juta jiwa," tuturnya.

Sutopo mengatakan warga yang rawan terkena tsunami punya waktu menyelamatkan diri (golden time) kurang dari satu jam. Golden time bagi warga begitu pendek karena gempa yang memicu tsunami di Indonesia bersifat lokal alias jaraknya dekat.

BNPB mencatat tsunami lebih berpotensi muncul di wilayah timur IndonesiaBNPB mencatat tsunami lebih berpotensi muncul di wilayah timur Indonesia. (Foto: dok. BNPB)


Begitu juga pemicu tsunami lainnya yang membuat datangnya gelombang tsunami ke darat begitu cepat. Sutopo mengambil contoh tsunami yang menerjang Palu, Sulteng, beberapa waktu lalu.

"Gempa-gempa yang terjadi di wilayah Indonesia sangat dekat, tsunaminya datang begitu cepat, apalagi longsor bawah laut. Palu, tsunami Palu kemarin hanya 4 menit setelah gempa. Sedangkan yang longsor di Selat Sunda kemarin ada sebenarnya tenggat waktu 24 menit. Setelah terjadi terjadi longsoran sampai menerjang ke pantai. Tapi karena kita tidak memiliki teknologinya, tidak memiliki sistem informasi, sehingga tidak ada warning kepada masyarakat. Masyarakat tidak sempat evakuasi," bebernya.



Tonton juga video 'Mengenang 14 Tahun Tsunami Aceh':

[Gambas:Video 20detik]


(jbr/rvk)
FOKUS BERITA: Tsunami Selat Sunda
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed