detikNews
Sabtu 15 Desember 2018, 11:42 WIB

Pasukan Laut Legendaris Papua: Menghalau VOC, Mengharu Biru Lautan

Danu Damarjati - detikNews
Pasukan Laut Legendaris Papua: Menghalau VOC, Mengharu Biru Lautan Foto ilustrasi: Jalur Perdagangan VOC sekitar 1700 (Wikimedia Commons)
Jakarta - Papua punya pasukan laut legendaris yang ditakuti di perairan Nusantara Timur. Kekuatan angkatan laut Papua sempat mengharu biru hegemoni VOC.

Papuase Zeerovers alias Bajak Laut Papua. Demikian orang Belanda Abad 18 menyebut pelaut-pelaut dari ujung Kepala Burung Pulau Cenderawasih. Bajak laut itu berasal dari kepulauan Raja Ampat.

Catatan soal pelaut legendaris Papua itu dituliskan dengan apik oleh peneliti Muridan Satrio Widjojo dalam buku 'Pemberontakan Nuku: Persekutuan Lintas Budaya di Maluku-Papua, Sekitar 1780-1810'.

Para bajak laut Papua dideskripsikan orang Barat berpenampilan telanjang, kecuali bagian paling pribadinya saja yang ditutup cawat. Mereka mengenakan dekorasi manik-manik di leher dan lengan. Sangat lugu dan bodoh, namun juga sangat kejam, rakus, dan tak segan-segan membunuh. Senjata mereka adalah busur, panah, tameng, pedang, dan lembing.
Begitulah deskripsi Pieter Arend Leupe tentang bajak laut Papua. Namun ternyata, pelaut berperangai bak Viking Skandinavia itulah yang turut berjasa mendongkel pengaruh VOC dari Kesultanan Tidore.

Siapa Mereka?

Mereka adalah orang-orang gagah dari Raja Ampat, terdiri dari daerah kekuasaan empat raja: Salawati, Waigeo, Misool, dan Waigama. Sejak awal Abad 18, Raja Ampat berada di bawah otoritas Sultan Tidore. Perairan Raja Ampat dahulu dikenal punya reputasi buruk untuk kapal-kapal yang melintas.
Pasukan Laut Legendaris Papua: Menghalau VOC, Mengharu Biru LautanFoto ilustrasi: Festival Teluk Humboldt (Wilpret Siagian/detikcom)
Penduduk Raja Ampat sendiri punya nenek moyang dari Kepulauan Biak di utara Teluk Cenderawasih. Mereka berlayar hingga ke Raja Ampat, mendongkel orang-orang asal Pulau Seram yang sudah bermukim di kepulauan Raja Ampat. Orang Raja Ampat keturunan Biak yang terkenal sebagai bajak laut adalah klan Omkai. Mereka beroperasi hingga Seram dan Ambon, ditakuti karena bisa mengambil perempuan sebagai sandera. Mereka biasa bernyanyi "Snonsja nggo mun, binsja nggo mun" yang artinya "Kami bunuh pria dan ambil perempuannya."

Ada satu sosok semi mitologis yang dikenal oleh Tidore dan Kepulauan Raja Ampat, yakni seorang pahlawan bernama Sekfamneri dari Pulau Waigeo. Dikisahkan, Sekfamneri dan bala tentaranya merupakan pelaut andal dan sakti mandraguna, mampu mendatangkan hujan ketika kehausan di tengah laut dan bisa mendatangkan ikan ketika kelaparan di samudera. Sekfamneri berlayar sampai jauh ke Seram, Ambon, Makassar bahkan Pulau Jawa, menculik orang-orang dari pulau itu untuk dijadikan tenaga pendayung kapalnya.

Suatu hari, Sekfamneri dimintai tolong oleh Sultan Tidore untuk melawan kerajaan Jailolo di Halmahera. Sekfamneri dan bala tentaranya berhasil menyerang perahu Jailolo, maka dia dihadiahi Sultan Tidore anak perempuannya sebagai istri dan dibantu Sultan untuk menjadi Raja di Waigeo. Tiap angin monsun timur berembus, Sekfamneri diwajibkan membayar upeti ke Sultan Tidore. Terlepas dari kebenaran cerita rakyat itu, tersirat hubungan yang erat antara Raja Ampat dan Kerajaan Tidore.
Menurut catatan masa lalu, Orang Papua dari Onin (Fakfak, Papua) terkenal dengan gerakannya yang cekatan di perahu dan bisa melakukan serangan tiba-tiba dengan panah, tombak, dan pedang. Bajak laut dari Teluk Geelvink (saat ini bernama Teluk Cenderawasih) biasa berkomplot dengan bajak laut dari Misool (Raja Ampat). Mereka sudah beroperasi sejak Abad ke-17.

Berperan Mengusir VOC

Nuku Muhammad Amiruddin (1738-1805) atau lebih dikenal sebagai pahlawan nasional dengan nama Sultan Nuku, merupakan sosok yang meminta bantuan para pelaut Papua itu untuk melawan VOC di Kesultanan Tidore. Adapun Kesultanan Tidore punya daerah kekuasaan meliputi Pulau Tidore, Halmahera Tengah, Halmahera Timur, Pulau Seram, Raja Ampat, dan Fakfak.
Pasukan Laut Legendaris Papua: Menghalau VOC, Mengharu Biru LautanFoto: Kembalinya Ekspedisi ke Asia Jilid II dari Jacob van Neck (Lukisan Cornelis Vroom/Wikimedia Commons)
VOC Belanda telah merusak tradisi pewarisan raja di Kesultanan Tidore. Ayah Pangeran Nuku yakni Sultan Jamaluddin disingkirkan VOC ke Batavia pada 1779. Namun bukan Nuku yang lantas menjadi Sultan, melainkan orang lain. Itu karena Belanda tak suka dengan Nuku. Belakangan malah adik Nuku yang menjadi Sultan yakni Kamaluddin. Maka Nuku cabut dari Tidore ke Papua, menggalang aliansi.

Pada 1779, kekuatan anti-Belanda di Tidore berkonsolidasi, isinya orang Seram, orang Papua, dan orang Gamrange. Mereka bersatu meneror Belanda. Mereka adalah Raja Lukman dari Keliluhu, Sangaji Patani, Raja Rumasoal (Misool/Raja Ampat), Sangaji Salawati (Raja Ampat), pemimpin Onin (sekarang Fakfak), dan Kapiten Laut dari Gah, dan Orangkaya (pemuka adat) Agnisa dari Rarakit.

Konfederasi pelaut tangguh beda bahasa ini bergerak di bawah panji-panji Pangeran Nuku, penyerangan terhadap Belanda dilancarkan pada 1780. Akhir tahun itu, Pangeran Nuku dinobatkan menjadi Sultan Papua dan Seram oleh pemimpin Raja Ampat dan Gamrange. Mereka menggerakkan 150 kapal, satu kapal mengangkut sekitar 50 orang, maka diperkirakan seluruh kelompok Sultan Nuku berjumlah 7.500 orang.

Pasukan Sultan Nuku menyerang Amblau, Haia, Hatiling, Sula dan Besi, termasuk Obi dan Bacan, bahkan Selayar, Buton, dan Bawulang di selatan Sulawesi dan Talaud di ujung utara. Semuanya diserang oleh kelompok Sultan Nuku dalam gerilya laut lima bulan. 300 Orang ditangkap dari pulau-pulau yang mereka serang. Pada 1783, terjadi insiden pembantaian di Batanta, Raja Ampat. Seorang Belanda Coenraad van Dijk dan para tentaranya dibantai oleh orang-orang Papua yang menjalankan strategi pura-pura menyerah sebelumnya.

Pasukan Sultan Nuku menderita kekalahan oleh Sultan Kamaluddin Tidore, yang tak lain adalah adiknya sendiri. Pasukan Nuku bahkan kalah di Salawati, Raja Ampat, pada 26 Februari 1789. Sebagian besar elite Gamrange dan Raja Ampat tak lagi mendukung Nuku. Setahun kemudian, Sultan Nuku berhasil mendapatkan kembali dukungan. Singkat cerita, Tidore berhasil dia kuasai kembali pada 1801. Pertempuran demi pertempuran melawan VOC masih berlangsung selepas itu, hingga Sang Sultan tutup usia.
Pasukan Laut Legendaris Papua: Menghalau VOC, Mengharu Biru LautanFoto: Seputar Raja Ampat, Kepulauan Maluku, hingga Sulawesi. ('Gambar dari Pemberontakan Nuku' oleh Muridan S Widjojo)
"Kita perlu berterima kasih atas peran orang-orang Papua di masa lalu, karena orang Papua termasuk yang pertama bisa mengusir kekuatan kolonial membantu Sultan Nuku," kata sejarawan JJ Rizal dari Komunitas Bambu yang turut menerjemahkan karya Muridan tentang Sultan Nuku itu, dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia.

Menurut Rizal, catatan tentang kekuatan Papua yang menyokong Sultan Nuku telah menguatkan narasi kesatuan Papua dan kawasan lainnya di Indonesia. Papua dan masyarakat lainnya di kawasan ini sama-sama berjuang mengusir pihak kolonial Belanda. Namun dia menilai sejarah soal peranan Papua ini tak pernah terdengar.
"Itu karena selama 32 tahun kita dipimpin oleh sebuah rezim yang tidak kenal pendekatan kebudayaan, tetapi pendekatan kekerasan. Orientasi harus diarahkan ke pendekatan kultural, karena yang membuat orang Papua dan orang Indonesia yang lainnya sama adalah sejarah kebudayaan yang sama di masa lalu," tutur Rizal.
Pasukan Laut Legendaris Papua: Menghalau VOC, Mengharu Biru LautanFoto: Sultan Nuku Muhammad Amiruddin (Dok Kementerian Sosial RI)

(dnu/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com