DetikNews
Rabu 12 Desember 2018, 18:07 WIB

Sidang Perdana Keluarga Korban Lion PK-LQP Vs Boeing Digelar Januari

Matius Alfons - detikNews
Sidang Perdana Keluarga Korban Lion PK-LQP Vs Boeing Digelar Januari Konferensi pers pihak pengacara keluarga korban Lion Air (Matius Alfons/detikcom)
Jakarta - Sidang perdana gugatan keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP bakal digelar pada 17 Januari 2019. Sidang bakal digelar di Chicago, Amerika Serikat.

"Nanti 17 Januari pukul 09.00 WIB akan ada mulai persidangan pertama di Chicago. Gugatan ini akan dilakukan di wilayah hukum di Cook County, Illinois," kata pengacara Firma Ribbeck Law, Manuel Von Ribbeck, di Hotel Ritz-Carlton, Jakarta Selatan, Rabu (12/12/2018).

Dia mengatakan gugatan diajukan oleh 25 keluarga korban jatuhnya pesawat Lion Air PK-LQP. Ada tiga poin yang menjadi pokok gugatan para keluarga korban.

"Ini adalah komplain yang kita dapatkan dari keluarga Bapak Irianto. Jadi nanti ada 24 komplain tambahan yang akan kita gabungkan dengan komplain dari keluarga Bapak Irianto," ujarnya.


"Gugatan pertama itu adalah keberhasilan produk itu sendiri, Boeing punya kewajiban untuk memberikan Lion Air pesawat yang bagus dan aman. Oleh sebab itu, Boeing bertanggung jawab terhadap Lion Air karena faktanya Boeing tidak siapkan pesawat yang bagus untuk Lion Air. Gugatan kedua itu adalah gugatan terhadap kelayakan produk itu sendiri, pertanggungjawaban produk itu sendiri. Gugatan ketiga ini adalah tanggung jawab Boeing untuk merawat pesawatnya sendiri untuk menunjukkan dan mempresentasikan pesawatnya secara bagus, kemudian secara spesifik pihak Boeing sendiri ada kekurangan pada peringatan dari pihak Boeing ke pihak pilot dan kopilotnya," ujar Manuel.

Manuel melanjutkan, Boeing tidak memberikan buku manual dan buku panduan yang jelas kepada pilot dan kopilot hingga tak ada panduan terhadap kerusakan pesawat. Dia juga menyebut sistem manual yang ada di pesawat tidak memberi peringatan saat pesawat dalam kondisi berbahaya.

"Kita juga tahu bahwa ada dari pihak Boeing itu tidak memberi manual dan buku panduan yang jelas ke pilot dan kopilot. Jadi tidak ada panduan terhadap kerusakan pesawat ini. Juga manual yang ada di pesawat itu, juga tidak berikan peringatan. Seharusnya manual ini memberikan peringatan kalau ada situasi emergency. Tapi manual yang baru ini gagal merespons bahwa ada situasi emergency di pesawat itu. Terutama ada sistem yang baru, yaitu sistem autodef feature ini," jelasnya.


(haf/haf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed