DetikNews
Rabu 12 Desember 2018, 13:55 WIB

Bambang Darmono Ingatkan Papua Tidak Dipaksa Berubah Cepat

Sudrajat - detikNews
Bambang Darmono Ingatkan Papua Tidak Dipaksa Berubah Cepat Letjen TNI (PUrn) Bambang Darmono (Foto: Hasan Alhabshy)
Jakarta -

Mantan Kepala Unit Percepatan Pembangunan Papua dan Papua Barat (UP4B) Letjen TNI (Purn) Bambang Darmono mengingatkan agar semua pihak tidak memaksakan perubahan dengan cepat di Papua atas nama pembangunan. Dia khawatir, itikad baik untuk menunjukkan keberpihakan dan keadilan terhadap Papua justru malah memunculkan kesenjangan baru yang lebih hebat.

"Mari membangun apa yang orang Papua mau, bukan apa yang kita mau. Kalau pembangunan terlalu dipaksakan seperti sekarang, saya khawatir orang Papua tidak ikut menikmati kekayaan alamnya," kata Bambang saat ditemui detik.com di kediamannya di kawasan Cibubur, Senin (11/12/2018).

Saat memimpin UP4B, 2011-2014, dia mengaku merancang dan mendesai pembangunan infrastruktur jalan untuk membuka isolasi antara daerah. Dia memprioritaskan pembangunan jalan untuk menghuungan kabupaten-kabupaten pemekaran khusus di daerah-daerah pegunungan.

"Waktu saya bangun jalan di Papua, saya tidak memikirkannya untuk truk-truk besar kapasitas belasan ton, tapi truk dengan tonase 4 ton saja sudah cukup kok," ujarnya.

Idealnya, dia melanjutkan, pembangunan di Papua memperhatikan betul aspek budaya dan antropologis di sana. Dia mencontohkan, karakter orang Papua sangat bersahabat dengan sungai.

Sebab bagi mereka sungai adalah ibarat air susu ibunya, dan tanah berikut hutan sekitar tempat mereka tinggal adalah ibunya. Karena itu tak heran bila mereka sangat menjaga keseimbangan ini agar tetap lestari.

Hal ini berbeda dengan masyarakat di Jawa dan dan daerah lain yang punya banyak sungai seperti di Jawa Barat. Di Jawa, kata dia, sungai adalah halaman belakang. Karena itu tak heran bila sungainya kotor penuh limbah.

Karena sungai di Papua menjadi salah satu sumber kehidupan, Bambang menyarankan agar pembangunan infrastruktur lebih banyak diarahkan untuk membangun dermaga-dermaga sebagai tempat perahu mereka bersandar. Dia mencontohkan dari Boven Digul, Yahukimo, sampai Asmat itu dialiri sungai besar.

"Bila ini yang dilakukan, saya membayangkan orang Papua yang di gunung-gunung itu akan turun dengan sendiri untuk ikut berpartisipasi," kata jenderal bintang tiga itu.


Dia mengklaim, saat dirinya memimpion UP4B sengaja melibatkan TNI untuk membuka isolasi dengan membangun jalan dari Wamena ke Mamugu, Timika, terus dibelokkan ke arah sungai. Bukan bablas masuk ke hutan lindung, Taman Nasional Lorenz. Membangun jalan menembus masuk hutan itu selain rawan dari sisi keamanan, juga merusak lingkungan.

"Unesco itu sempat protes, makanya saya belokam ke jalur lain yang tembus ke sungai, bukan diterabas," jelasnya.

Selain membangun jalan, infrastruktur lain yang sempat dirancangnya untuk dibangun adalah Depo Pertamina di Mamugu dan Yahukimo, agar suplai BBM lebih mudah. Ia mendukung Presiden Jokowi yang berani membuat keputusan dengan menetapkan satu harga untuk BBM dan semen. Itu salah satu wujud keberpihakan yang nyata.

"Tapi jika suplainya masih mengandalkan jalur udara, itu sangat mahal. Karena itu membangun depo Pertamina di sana," Bambang menyarankan.


Saksikan juga video 'Sudah 91 Persen, Lihatlah Pesaing GBK yang Ada di Papua':

[Gambas:Video 20detik]


(jat/erd)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed