detikNews
Jumat 30 November 2018, 20:31 WIB

Serunya Peter Gontha-Luhut Panjaitan Bicara Tantangan Bonus Demografi

Jabbar Ramdhani - detikNews
Serunya Peter Gontha-Luhut Panjaitan Bicara Tantangan Bonus Demografi Duta Besar RI untuk Polandia Peter F Gontha (Foto: Rachman Haryanto)
Jakarta - Dubes Indonesia untuk Polandia Peter F Gontha menceritakan perbincangan dengan Menko Maritim Luhut Binsar Panjaitan soal tantangan bonus demografi Indonesia. Peter mengatakan Presiden Joko Widodo tengah menyiapkan pergeseran kebijakan pembangunan Indonesia.

"Presiden Jokowi segera menerapkan 'Shifting Strategy', menggunakan terminologi pakar manajemen tersohor Rhenald Kasali, pergeseran kebijakan pembangunan Indonesia," kata Peter lewat keterangan tertulisnya, Jumat (30/11/2018).

Awalnya Peter dan Luhut bicara soal ekspor Indonesia yang tak kunjung mendukung neraca perdagangan Indonesia. Barang ekspor Indonesia yang mayoritas merupakan hasil kekayaan alam berupa hasil tambang dan pertanian belum bisa diandalkan karena harga di pasar internasional terus menurun.


Di sisi lain, industri pariwisata belum memberi devisa secara memadai. Keduanya lalu menyoroti soal barang produksi Indonesia yang tidak mempunyai muatan teknologi.

"Alih-alih kita mendapat bonus demografi malah yang didapat petaka demografi!" kata Peter menirukan Luhut.

Luhut berkata kepada Peter persoalan ini disebabkan sistem pendidikan Indonesia selama dua generasi (2x25 tahun) belum jauh masuk ke sains dan teknologi. Kemudian Peter pun ingat soal proses Korea Selatan bisa menjadi negara pengembang teknologi.


"Saya tertegun. Saya teringat kisah bagaimana bangsa Korea bisa maju seperti ini. Pada tahun 1969 orang Korea masih saling bertanya: 'Apakah anda sudah makan nasi hari ini?'," ucap Peter.

Saat itu Presiden Park Chung Hee berikrar bersama rakyatnya. Segenap elemen Korea berikrar kerja sekuat tenaga mendidik dan menyiapkan generasi yang siap menjawab tantangan jaman. Ikrar tersebut pun membuahkan hasil.

Kemudian Luhut mengatakan saat ini pemerintah punya fokus untuk untuk menggenjot pembangunan infrastruktur manusia Indonesia. Hal ini dilakukan setelah pembangunan infrastruktur dijalankan.

"Pada tahun-tahun mendatang Presiden Joko Widodo, apa bila terpilih kembali, akan menggenjot pembangunan infrastruktur manusia Indonesia," ucap Peter menirukan Luhut.


Luhut mengatakan Jokowi berencana mengirim jutaan anak muda untuk belajar sains dan teknologi. Menariknya, pemuda yang dikirimkan bukan cuma yang pandai.

"Masa kita cuman bisa bangun gedung, jembatan dan jalan. Bikin jalanan kereta api atau MRT saja harus dibangun orang asing. Teknologi farmasi dan kedokteran saja kita impor semua," kata Peter.

Perbincangan keduanya menyimpulkan bahwa Indonesia harus memindahkan penggunaan mayoritas anggaran negara ke pembangunan infrastruktur manusia Indonesia yang berkualitas. Peter dan Luhut sadar, buah dari pembangunan infrastruktur manusia memakan waktu dua generasi seperti yang terjadi di Korea.

"Kita tidak lagi dapat menunggu. Siapa pun Presiden RI untuk 50 tahun mendatang harus fokus membangun Infrastruktur Manusia Indonesia. Inilah Shifting Strategy yang akan mengantarkan bangsa Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan yang dicita-citakan para pendiri bangsanya," tutur Peter.
(jbr/van)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com