detikNews
Jumat 23 November 2018, 08:28 WIB

Banyak Sampah, Jumlah Kepiting di Hutan Mangrove Teluk Benoa Menurun

Aditya Mardiastuti - detikNews
Banyak Sampah, Jumlah Kepiting di Hutan Mangrove Teluk Benoa Menurun Foto: Udang di Hutan Mangrove Teluk Benoa (dhita/detikcom)
Denpasar - Kawasan hutan mangrove di Teluk Benoa, Bali rupanya tak hanya menjadi salah satu destinasi wisata alternatif bagi para turis. Ternyata banyak juga warga yang mencari udang maupun kepiting di lokasi tersebut.

Salah satunya Wayan Kunak (64) yang sore itu terlihat berendam di genangan air di kawasan mangrove. Dia terlihat berjalan pelan-pelan di dalam air, terkadang hanya kepalanya saja yang terlihat menyembul di permukaan air.

"Ini lagi cari udang, memang diraba pakai tangan saja," kata Wayan saat berbincang di kawasan mangrove, Jl By Pass Ngurah Rai, Bali, Kamis (22/11/2018) kemarin.

Sore itu Wayan hanya mendapat tiga ekor udang yang disimpannya di dalam kantong bajunya. Rupanya dia baru saja memasang bubu sebagai perangkap kepiting.

"Tadi habis pasang bubu, ada 16. Besok pagi-pagi baru diambil, ini lagi iseng aja kepengin cari udang," terangnya.

Dia juga bercerita jumlah tangkapannya kian hari makin berkurang. Dia mengingat masa-masa saat tahun 1990-an di mana satu bubu bisa mendapatkan dua hingga tiga kepiting.

"Kalau sekarang sulit, 16 bubu maksimal dapat sekilo kepiting, kadang pernah nggak dapat. Kan yang diambil cuma yang beratnya 5-7 ons, di bawah itu nggak diambil. Kalau dulu sebelum tercemar pasang bubu 22 biji bisa dapat 30-an kepiting," kenangnya.

"Kalau nggak salah mulai tahun 1990 mulai banyak pencemaran seperti sampah, plastik, limbah garmen tangkapan sudah jauh berkurang," sambung Wayan.

Dia menuturkan satu kg kepiting tangkapannya biasa dibeli pengepul seharga Rp 80 ribu. Terkadang dia mengumpulkan dulu kepiting atau udang tangkapannya setelah jumlahnya banyak baru dia jual.

Warga Desa Pakraman Kepaon, Suwung Kawuh itu mengatakan kini dia sudah menikmati masa pensiun. Mencari kepiting maupun udang dia lakukan untuk mengisi waktu luang setelah merawat cucunya.

"Kalau dulu saya juga nelayan nyari ikan dan penghidup saya di laut. Sekarang saya sudah tua pensiun ke laut merawat cucu saja," ceritanya sambil mencari udang.

Wayan mengatakan saat air laut pasang para nelayan di kawasan mangrove juga banyak yang menyewakan kapalnya untuk wisatawan. "Sekarang ada tamu, kapal-kapal ini bisa dia lancong-lancong ke laut," ujarnya.

Dia juga mengaku setuju kawasan mangrove itu bakal ditata menjadi pusat studi mangrove dan taman. Dia berharap penataan itu bisa menjadi berkah bagi warga di sekitar lokasi tersebut.

"Saya setuju, dari dulu sudah ada orang yang mau. Kalau pakai itu kan (mangrovenya) dirawat bukan jadi rusak. Supaya anak-anak punya kerja, kalau saya kan sudah tua," harap Wayan.

Selama wawancara, Wayan sibuk menyelam untuk mencari udang. Dia juga bercerita sempat memarang ikan belut berukurang besar namun ikan itu berhasil lepas. Mendekati maghrib, kami bertemu lagi di parkiran rupanya dia berhasil menemukan belut jumbo yang sempat hilang itu.

"Harus sabar nyarinya," ujarnya sambil tersenyum semringah dan berjalan pulang.
(ams/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com