DetikNews
Jumat 09 November 2018, 13:51 WIB

Warga Patenkan Kerajinan Perak Celuk Bali Agar Tak Diakui Asing

Aditya Mardiastuti - detikNews
Warga Patenkan Kerajinan Perak Celuk Bali Agar Tak Diakui Asing Foto: Kerajinan Celuk (dita/detikcom)
Gianyar - Desa Celuk di Gianyar, Bali terkenal sebagai sentra kerajinan perak di Pulau Dewata. Belakangan Desa Celuk mengajukan hak paten berupa Hak Indikasi Geografis di Kementerian Hukum dan HAM. Apa latar belakangnya?

Pengajuan paten tersebut berupa permohonan pendaftaran Hak Indikasi Geografis. Pendaftaran tersebut diajukan atas nama Celuk Design Centre (CDC) yang merupakan organisasi masyarakat pengrajin di Desa Celuk.

Ketua CDC Made Megayasa mengatakan pengajuan itu berawal dari keinginan untuk melestarikan budaya yang sudah berkembang di Desa Celuk. Apalagi kerajinan perak menurutnya adalah warisan turun-temurun dari nenek moyang di Desa Celuk.

"Celuk Design Center ini masyarakat Celuk yang dominan berpofesi sebagai pengrajin perak. Kami ingin juga memformulakan semuanya kami ingin mendesain awalnya, tata produksinya, SDM, bagaimana kita memasarkan. Dalam ranah yang besar itu kami ingin melegalkan dulu, ya melalui Indikasi Geografis ini," kata Made di Kantor Desa Celuk, Gianyar, Bali, Kamis (8/11/2018).

"Di Celuk dari dulu sudah mengenal kalau bicara perak Bali pasti Celuk. Perak di domestik perak Bali, perak Celuk. Itu kan diinformasikan secara legal belum ada," sambungnya.

Dia menambahkan sejak 2017 Desa Celuk sudah mulai mendaftarkan puluhan motif yng menjadi ciri khas Celuk. Meski begitu, dia berharap ada perlindungan yang lebih luas bagi seluruh warga desanya.

"Kami 2017 mendaftarkan HAKI kerajinan Celuk 20 motif dari hampir ratusan motif. Itu idaman kami sejak 2012 untuk meng-indikasigeografiskan, mulanya kan terganjal aturan karena harus menghasilkan bahan sementara Celuk bukan daerah tambang perak," tuturnya.

"Dengan regulasi baru bahan baku tidak diwajibkan ditambah dengan keadaan lingkungan alam kalau sudah ada produk unik, bahan alam dan SDM itu bisa diajukan sebagai indikasi geografis. Maret 2018 kami bekerja sama dengan Kementerian Koperasi untuk pengajuan Indikasi Geografis untuk kerajinan perak Celuk di Gianyar," sambung Made.

Made mengatakan butuh proses panjang untuk melengkapi seluruh persyaratan indikasi geografis tersebut. Hingga akhirnya Juli 2018 ini mereka akhirnya bisa mendaftarkan indikasi geografis kerajinan perak celuk, proses untuk mendapatkan paten itupun masih panjang akan ada tim dari pusat untuk melakukan pengecekan.

Made mengatakan ada motif khas Desa Celuk yaitu motif Jawan, motif Bun, motif Buah Gonda, dan motif Liman Paya. Made menyebut dengan stempel atau label indikasi geografis Celuk, dia berharap para pengrajin bisa lebih rapi dan teliti dalam membuat produknya.

"Kita harapkan kerajinan Desa Celuk menyebar, tapi kerajinan Celuk Gianyar motif yang tadi itu. Ke depannya saya yakin masyarakat menginginkan yang berstandar, dengan indikasi geografis ini kita (pengrajin) diinstruksikan untuk bekerja rapi, sesuai SOP, dan kita harapkan kerajinan kita dicari masyarakat dunia, sambil kita melindungi budaya yang sudah ada," ujarnya.
Warga Patenkan Kerajinan Perak Celuk Bali Agar Tak Diakui AsingFoto: Kerajinan Celuk (dita/detikcom)

Tak hanya itu, CDC juga bermimpi memiliki tim pengendali kualitas untuk memastikan produk kerajinan perak Celuk sesuai standar. Ke depan, produk yang mendpatkan stempel IG diharapkan memiliki tiga bahan dasar yaitu pelat, jawan, dan kawat.

"Untuk mendapatkan IG yang karena perhiasan yang dikomersilkan tidak cukup model tiga tadi. Harus rapi keurutannya, terstruktur, kuat, dan standar bahan (peraknya) harus 9,25. Tidak boleh dalam perhiasan perak kurang (kadarnya) tidak akan di-IG, kalau dalam perhiasan sudah mengandung tiga unsur tersebut, perhiasan ini berhak mendapatkan IG, meski dari Denpasar, mana saja itu (dinamakan) perhiasan perak Celuk, tapi dia harus menjadi masyarakat peduli perhiasan Celuk," urainya.

Hal senada juga disampaikan Perbekel Desa Celuk, Nyoman Rupadana. Nyoman mengatakan selama ini usaha pelestarian rutin dilakukan kepada warga sejak usia dini melalui lomba gambar hingga mengadakan festival.

"Sekarang ini jumlah pengrajin menurun karena pendapatannya menurun. Dulu setengah hari di sekolah sisanya membantu orang tua, sekarang anak muda tamat SMA baru belajar membuat perak. Kalau menurut saya telat dia, makanya kami bikin lomba-lomba gambar desain perhiasan untuk anak-anak, Celuk Jewelry Festival untuk mengenalkan," tuturnya.
(ams/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed