DetikNews
Senin 29 Oktober 2018, 15:29 WIB

90 Tahun Sumpah Pemuda

Dear Milenial, Sarjana Sastra Ini Pilih Ngajar Suku Pedalaman

Chaidir Anwar Tanjung - detikNews
Dear Milenial, Sarjana Sastra Ini Pilih Ngajar Suku Pedalaman Foto: Pengajar suku pedalaman (chaidir/detikcom)
Jambi - Di usia muda, umumnya generasi milenial lebih asik berlama-lama menghabiskan waktu di mal dan nonton. Ada juga yang membunuh waktu berjam-jam di kafe. Tapi tidak dilakukan Jauharul Maknun (33). Apa yang ia lakukan?

Warga Kabupaten Merangin Provinsi Jambi itu meraih gelar sarjana sastra Inggris dan lebih memilih jalan hidupnya mengabdikan buat anak-anak Orang Rimba di tengah kawasan hutan.

Maknun tak pernah menyesali keputusannya bergabung dengan Komunitas Konservasi Indonesia WARSI, menjadi guru di Kelompok Orang Rimba. Meski tidak memiliki belakang latar belakang dari jurusan pendidikan, namun itu tidak menyurutkan langkahnya untuk mendedikasikan diri mendidik anak-anak rimba di pedalaman Taman Nasional Bukit Duabelas (TNBD), Provinsi Jambi.

Keputusannya ingin mengajar anak-anak di rimba awalnya sempat ditentang oleh pihak keluarga. Namun itu bukan penghalang baginya. Keluarga beralasan, jika ingin menjadi guru kenapa harus mengajar jauh-jauh ke dalam rimba, maka bekerja di kota atau minimal kabupaten jauh lebih baik dan tentu prestisius.

Mengajar Orang Rimba yang dalam sebutan Melayu dinamai Kubu, dianggap masyarakat kebanyakan bukanlah pekerjaan prestisius. Kubu, dianggap sebagai kelompok masyarakat bawah, jorok kotor dan penuh magik.

"Apalagi kalau keluarga tahu aku akan tinggal hari-hari bersama Orang Rimba, makin kuat penolakan itu," kata Maknun, panggilan akrabnya dalam keterangannya kepada detikcom, Senin (29/10/2018).

Namun seiring waktu ayah dua orang anak ini bisa meyakinkan keluarganya, bahwa mengajar anak-anak rimba merupakan pekerjaan suatu kebaikan untuk bisa mengangkat derajat kelompok masyarakat penghuni hutan itu.

"Aku sering cerita betapa semangatnya anak-anak itu ketika ku kunjungi, bagaimana mereka menyambutku. Bahkan selalu mau belajar ketika aku datang, tak peduli malam sekalipun mereka selalu mengerubungi aku, minta diajarkan berbagai hal," kata Maknun.

Cerita yang disampaikan dan foto-foto bahagianya anak rimba ketika di ajar Maknun, akhirnya meluluhkan keluarga.

"Ketika kita hidup membawa kepagian untuk orang lain, disitu kita merasa hidup itu bermakna," kata pria kelahiran Lubuk Resam, Kabupaten Merangin, Jambi 8 Juni 1985 ini.

Orang Rimba masih tertinggal jauh dalam pendidikan. Pola hidup mereka di dalam hutan dan memiliki pandangan budaya yang berbeda dengan masyarakat Melayu. Orang Rimba dalam sejarah hidup mereka mengambil posisi berkebalikan dengan masyarakat Melayu.

Konon dahulu antara nenek moyang Melayu dan nenek moyang Orang Rimba sudah bersumpah untuk pola hidup berkebalikan. Jika orang Melayu berumah, maka Orang Rimba tidak berumah dan tinggal di dalam pondok. Jika Melayu berkampung dan beragama, maka Orang Rimba tidak berkampung dan beragama nenek moyang.

Pun demikian dalam hal makanan, jika hewan ternak halal di makan masyarakat Melayu maka itu pantang di makan Orang Rimba. Pun sebaliknya hewan liar yang dikonsumsi Orang Rimba haram bagi masyarakat Melayu.

Pola ini terbentuk sudah turun temurun, mempengaruhi aspek kehidupan kedua kelompok masyarakat. Ketika hutan masih luas, masing-masing kelompok masyarakat Melayu dan Orang Rimba bisa menjalankan tradisi mereka tanpa ada benturan. Ketika hutan makin sempit interaksi kedua kelompok makin dekat.

"Di sini konflik mulai sering muncul. Pendidikan adalah satu cara yang kami kembangkan untuk meminimalisir konflik sosial yang mungkin terjadi," kata Maknun.

Kondisi Orang Rimba yang bisa diibaratkan berada di persimpangan, diantara gempuran perubahan sumber daya hutan yang memaksa mereka berubah. Namun tanpa pendidikan yang memadai hangat sulit bagi Orang Rimba untuk bertahan hidup layak dan nyaman. Kenyataan ini juga yang semakin motivasi dan menguatkan niat Maknun bersama tim WARSI lainnya untuk terus berbuat bersama Orang Rimba.

Lulusan Sastra Inggris Akademi Bahasa Asing (ABA) Nurdin Hamzah Jambi ini mulai bergabung menjadi guru anak rimba terhitung sejak bulan Oktober 2013. Sejak itu ia mulai sibuk keluar-masuk menjelajah hutan di TNBD untuk memberikan pendidikan baca, tulis, dan hitung (BTH) di beberapa kelompok Orang Rimba.

Tanpa kenal lelah ia jelajahi hutan belantara di Bukit Duabelas untuk menemui anak-anak didiknya. Selama di dalam hutan ia tak berdiam di satu lokasi saja, namun selalu berkeliling dari satu kelompok ke kelompok lainnya.

Di masing-masing kelompok yang didatangi, jumlah murid yang diajar juga tidak banyak. Hanya berkisar antara 8 hingga 12 orang saja. Itu saja sudah membuatnya semringah. Celoteh anak-anak rimba membuatnya betah tinggal berlama-lama di tengah hutan belantara.

Banyak kisah menarik yang dialami Maknun kala mengajar anak-anak rimba. Satu di antaranya yang paling berkesan adalah kala hidup dalam kepungan 'banjir'. Saat itu dia mengajar anak-anak rombong Tumenggung Grip di Kedudung Muda Taman Nasional Bukit Duabelas.

Setelah seminggu di sana, ia juga harus mengunjungi anak-anak muridnya di Aer Behan tempat Tumenggung Bebayang. Perjalanan Kedudung Muda dan Aek Behan bisa ditempuh dengan berjalan kaki sekitar 7 jam.

Hari sudah menjelang sore kala Maknun memulai perjalanannya. Ada lima anak rimba yang menemaninya Ceriap, Nahan. Besati, Bepuncak dan Besimbur. Perjalanan itu berlangsung ceria, aneka cerita menemami perjalanan malam itu. Sekitar jam 8 malam, mereka rehat.

Tanoh Kepayong, demikian Orang Rimba menamakan daerah itu. Maknun dan seorang anak rimba yang menemaninya, membangun tenda. Masak makan malam dengan kemudian mereka lanjut tidur. Tak disangka, tengah malam turun hujan deras. Mereka melanjutkan tidur.

Menjelang pagi, mulai terasa lembab. Maknun bergegas bangun, anak-anak rimba lainnya juga sudah ada yang terbangun. Banjir. Teriak Maknun ketika ia membuka tenda dome yang mereka tampati.

Hujan masih belum reda, air sungai makin naik. "Kami di kepung sungai mau pindah sudah tidak bisa menyeberang karena sungai sudah terlanjur dalam. Tenda sudah di masuki air, logistik basah. Untungnya alat-alat tulis dibungkus dengan plastik sehingga aman dari serbuan air," katannya.

Maknun dan anak-anak rimba itu duduk jongkok dalam tenda. Ada anak yang bosan berdiam diri dalam tenda. Memilih untuk memanjat pohon. Matahari sudah tinggi, lapar pun mulai terasa.

"Kami makan roti, untung persediaan ada. Sampai malam air sungai masih tinggi kami masih belum bisa menyeberang," kenang Maknun pada kejadian Februari 2018 lalu.

Malam itu ia kembali menginap di sana, untungnya tenda sudah tidak terendam. Hanya saja untuk memasak masih belum bisa, kayu basah. Malam itu mereka mengganjal perut dengan mie instan tanpa dimasak.

"Dikasih bumbu dan kami makan seperti kerupuk," kenangnya.

Tiga hari lamanya mereka menunggu air surut dan bisa menyeberangi sungai dan melanjutkan perjalanan.

Setelah sampai di Aek Behan, Tumenggung Bebayang dan anggota kelompoknya tidak ada. Rupanya sungai yang lagi meluap dimanfaatkan Orang Rimba itu untuk menghilirkan manau-rotan dengan ukuran besar.

"Semua anggota keluarganya ikut, ya sudah saya menyusul mereka ke Lancar Tiang, yang penting bisa berjumpa dengan anak-anak didik saya," ujar Maknun.

Selain mengajar anak-anak di dalam rimba, ia juga mendampingi anak-anak rimba yang melanjutkan ke jenjang pendidikan formal. Tahun ini ada 9 anak yang bersekolah di SD SD 191/VII Pematang Kabau melalui program kelas jauh.

"Anak-anak yang sudah sekolah formal pun harus di dampingi, karena suasana belajar di kelas kadang membuat mereka kesulitan, kami hadir untuk menyemangati mereka dan memastikan semua keperluan sekolah mereka tercukupi," katanya.

Meski saat ini sudah banyak anak rimba yang mengenal baca, tulis dan hitung, namun ia berharap ke depan bisa lebih baik lagi. Untuk itu perlu adanya dukungan pemerintah dan berbagai pihak demi memberikan pendidikan yang lebih layak bagi komunitas Orang Rimba.

"Harapan ke depan agar lebih banyak lagi pihak yang mau peduli dengan pendidikan Orang Rimba. Karena mereka punya hak yang sama untuk mendapatkan akses pendidikan yang layak," tandasnya.
(cha/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed