detikNews
Sabtu 27 Oktober 2018, 07:42 WIB

Golkar ke PSI: Sebaiknya Saling Menjaga Rekan Koalisi

Gibran Maulana Ibrahim - detikNews
Golkar ke PSI: Sebaiknya Saling Menjaga Rekan Koalisi Ace Hasan Syadzily (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Partai Solidaritas Indonesia (PSI) bermanuver dengan menyinggung apa yang mereka sebut 'dosa' partai-partai lama. Beberapa partai seperti PDIP, Partai Golkar, PKB dan PPP yang satu koalisi dengan PSI di Pilpres 2019, melontarkan serangan balik. Koalisi Joko Widodo-Ma'ruf Amin jadi gaduh?

"Memang yang jadi masalah kan sebetulnya tidak semua partai koalisi... ini kan partai-partai koalisi yang baru PSI sama Perindo, tentu hak mereka untuk menawarkan, menyerang kita," kata Ketua DPP Partai Golkar Ace Hasan Syadzily saat dimintai tanggapan apakah manuver PSI bikin gaduh koalisi Jokowi, Sabtu (27/10/2018).




Ace menegaskan Golkar tak masalah dengan cara PSI bermanuver politik. Namun, kata dia, alangkah lebih baik jika PSI bisa saling menjaga sesama rekan koalisi.

"Tapi memang sebaiknya menurut saya lebih bagus kita selalu menjaga masing-masing di antara kita," tegas Ace.

Ketua DPP PSI Tsamara Amany tiba-tiba bicara tentang 'dosa-dosa' partai yang sudah lama berdiri namun masih menjadi 'kebiasaan'. Setidaknya ada dua 'dosa' partai lama yang disebutkan Tsamara. Pertama, Tsamara menyinggung soal komitmen partai lama terhadap pemberantasan korupsi.




Dia menilai, hingga ini komitmen itu jauh dari kata terealisasi. Karena komitmen pemberantasan korupsi tak jua terealisasi, maka imbasnya akan mempengaruhi proses rekrutmen partai. Dua aspek itu saling berhubungan satu dengan yang lain. Bobroknya proses rekrutmen inilah 'dosa' partai lama. Menurut Tsamara, tak dapat dipungkiri bahwa proses rekrutmen partai lama tak jauh dari kata 'mahar politik'.

"Partai harus berani membuka sistem rekrutmen caleg secara transparan untuk menghindari kecurigaan. Ketika partai-partai politik lama gagal karena terbenam dalam tradisi usang dan berbahaya, kehadiran sebuah partai baru yang menawarkan antitesis menjadi sangat relevan," papar Tsamara.



Tonton juga video 'Politik Sontoloyo Jokowi Sindir Siapa?':

[Gambas:Video 20detik]


(gbr/idn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com