DetikNews
Senin 22 Oktober 2018, 18:49 WIB

Gestur Menunduk Tiap Kereta Berangkat Jadi Pro-Kontra, Ini Kata KAI

Indah Mutiara Kami - detikNews
Gestur Menunduk Tiap Kereta Berangkat Jadi Pro-Kontra, Ini Kata KAI Porter dan pegawai PT KAI menunduk saat kereta berangkat. (Marlinda Oktavia Erwanti/detikcom)
Jakarta - Gestur menunduk yang dilakukan oleh porter dan pegawai PT KAI kerap terlihat setiap kali kereta berangkat dari stasiun. Meski sudah lama diberlakukan, gestur itu masih menimbulkan pro dan kontra.

Seperti diketahui, setiap kali kereta hendak berangkat dari stasiun, sejumlah porter dan pegawai KAI yang bertugas berdiri menghadap gerbong kereta yang akan berangkat. Mereka meletakkan tangan di dada. Setelah itu, ketika kereta mulai beranjak, mereka menundukkan kepala hingga kereta benar-benar meninggalkan stasiun.



Di Twitter, gestur ini ramai diperbincangkan. Ada yang mengkritik karena gestur itu dianggap berlebihan, ada yang mengapresiasi, ada juga yang mengusulkan agar lebih baik gestur itu diganti.

Apa kata PT KAI? Senior Manager Humas KAI Daop 1 Jakarta, Edy Kuswoyo, mengatakan gestur itu awalnya memang diterapkan di Daop 1. Sejak masa angkutan Lebaran 2018, kebiasaan itu lalu diterapkan di wilayah lain.

"Itu sebuah bentuk penghormatan dan terima kasih dari PT KAI kepada pengguna jasa kereta api," kata Edy saat dihubungi, Senin (22/10/2018).

"Kalau dianggap perbudakan, nggak setara, nggak benar seperti itu," tambahnya.



Edy menegaskan kebiasaan itu tidak hanya dilakukan porter. Direksi, komisaris, hingga dirinya juga melakukan gestur penghormatan itu.

"Semua pegawai, kepala daop, komisaris, direksi memberikan penghormatan kepada penumpang. Bukan hanya porter saja," ucap Edy.

Gestur Menunduk Tiap Kereta Berangkat Jadi Pro-Kontra, Ini Kata KAIKepala Daop I Jakarta Dadan Rudiansyah (paling kiri) saat menunjukkan gestur hormat. (Dok. PT KAI)


Ada usulan agar gestur menunduk itu diganti jadi melambaikan tangan atau tersenyum. Edy menegaskan hingga saat ini pihaknya tetap melakukan gestur menunduk sebagai bentuk penghormatan.

"SK-nya kan sudah ada. Nggak (evaluasi)," ujarnya.
(imk/hri)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed