DetikNews
Selasa 16 Oktober 2018, 21:53 WIB

Polisi akan Periksa Pemilik Senjata Peluru Nyasar ke Gedung DPR

Kanavino Ahmad Rizqo - detikNews
Polisi akan Periksa Pemilik Senjata Peluru Nyasar ke Gedung DPR Barang bukti terkait kasus peluru nyasar di gedung DPR (Kanavino/detikcom)
FOKUS BERITA: Peluru Nyasar di DPR
Jakarta - Penyidik Polda Metro Jaya menyebut senjata yang digunakan dua tersangka berinisial IAW dan RMY terkait insiden peluru nyasar ke gedung DPR milik orang lain. Pemilik senjata akan diperiksa polisi.

"A dan G akan diperiksa, apakah yang bersangkutan mengizinkan atau tidak," kata Direktur Kriminal Umum (Dirkrimum) Polda Metro Jaya Kombes Nico Afinta di Mapolda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Selasa (16/10/2018).

Nico menjelaskan senjata yang dipakai kedua tersangka disimpan di gudang Perbakin. Kedua tersangka juga tidak memiliki izin menggunakan senjata dan bukan anggota Perbakin.

"Senjata ini kalau untuk olahraga aturannya disimpan dan dititipkan di gudang senjata Perbakin, sehingga seseorang apabila ingin latihan, datang, menunjukkan surat KTA, menunjuk senjatanya, diambil dari gudang. Kemudian mereka latihan, bisa melakukan latihan. Selesai latihan, senjata ditaruh lagi di gudang, dibersihkan, dititipkan. Aturannya seperti itu," ujarnya.

Selain pemilik senjata, polisi akan memeriksa dua orang yang mendampingi latihan menembak kedua tersangka. Polisi ingin mengetahui soal mekanisme latihan di Lapangan Tembak Senayan tersebut.

"Ada yang dampingi, di sini ada inisial H dan S. Yang mendampingi itu adalah orang yang bertugas menyiapkan senjata, membersihkan senjata, ada. Dan ini sedang kami lakukan pemeriksaan terkait mekanisme dan prosedur dalam mendampingi seseorang di sini," ujarnya.

Sebelumnya, peluru nyasar menembus ruangan kerja Wenny Warouw dari Fraksi Gerindra dan ruangan Bambang Heri Purnama dari Golkar sekitar pukul 14.35 WIB. Dari hasil penyelidikan, polisi menyebut peluru yang ditemukan di dua ruangan tersebut identik dengan senjata yang digunakan oleh kedua pelaku.

IAW dan RMY ditetapkan tersangka karena diduga lalai dan dijerat dengan Pasal 1 ayat (1) UU Darurat No 12 Tahun 1951 dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara.

Barang bukti yang diamankan dalam kasus ini adalah satu pucuk senjata api jenis Glock 17, 9×19 buatan Austria, warna hitam-cokelat, 3 buah magasin berikut 3 kotak peluru ukuran 9×19.

Selain itu, polisi menyita satu pucuk senjata api merek AKAI Costum buatan Austria kaliber 40 warna hitam, dua buah magasin, berikut 1 kotak peluru ukuran 40.
(knv/fdn)
FOKUS BERITA: Peluru Nyasar di DPR
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed