DetikNews
Rabu 10 Oktober 2018, 13:21 WIB

Median: Jokowi Vs Prabowo Seperti Adu Emosi

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Median: Jokowi Vs Prabowo Seperti Adu Emosi Ilustrasi (Edi Wahyono/detikcom)
Jakarta - Kontestasi politik kubu capres nomor urut 01, Joko Widodo, dengan capres nomor urut 02, Prabowo Subianto, diisi dengan saling adu emosi. Hal itu terlihat dari beragam isu yang mencuat belakangan ini, khususnya terkait kasus hoax Ratna Sarumpaet.

Pendapat di atas disampaikan Direktur Eksekutif lembaga survei Median, Rico Marbun, via pesan singkat, Rabu (10/10/2018). Rico menyarankan agar baik kubu Jokowi maupun Prabowo sadar bahwa pilpres merupakan ajang adu gagasan, bukan adu emosi.

"Masing-masing kandidat tidak berusaha bertarung secara dominan dengan menggunakan rasio, tapi lebih senang mengaduk-aduk emosi pemilih yang nantinya akan terpolariasi ke salah satu kandidat," kata Rico.

Rico memahami mengaduk-aduk emosi pemilih akan lebih menimbulkan efek bagi elektabilitas paslon. Namun potensi konflik yang timbul dengan cara tersebut juga cenderung besar.


"Kedua kandidat sebaiknya sadar bahwa pilpres ini ajang adu kuat gagasan, bukan adu otot," ujarnya.

Di sisi lain, Rico juga menyoroti adanya saling lapor di antara kedua kubu yang menjadi buntut dari kasus hoax Ratna. Meskipun sebenarnya hukum memang tempat untuk menyelesaikan sengketa, saling gugat dan saling lapor tersebut bisa menjadi pisau bermata dua.

"Di sisi lain, bila overdosis, ada juga ancaman politisasi aparat hukum, yang itu bisa saja tidak terjadi secara fakta, tapi sudah telanjur terbentuk secara persepsi. Di sini aparat harus netral senetral-netralnya," tutur Rico.

Median: Jokowi vs Prabowo Seperti Adu EmosiRico Marbun (Ari Saputra/detikcom)

Apalagi, kata Rico, jika kemudian kasus hoax Ratna ini menjadi berkepanjangan hingga mempengaruhi peta Pilpres 2019. Salah satunya ke arah pembatalan kepesertaan salah satu kandidat, yakni Prabowo, yang juga dilaporkan karena ikut menyuarakan kebohongan Ratna.

"Ini sangat berbahaya dan memancing konflik horizontal," ujar Rico.


"Geger Pilkada Jakarta silam salah satunya ditunjukkan oleh data survei, kuatnya persepsi ada keberpihakan dan ketidaknetralan oknum instrumen hukum pada salah satu kandidat," imbuhnya.

Untuk itu, Rico meminta kubu Jokowi dan Prabowo segera menyudahi persoalan ini. Dia tidak ingin kasus ini kemudian berbuntut panjang menjadi perpecahan di antara masyarakat Indonesia.

"Pilpres itu ajang adu otak, bukan adu otot. Daripada rakyat ikut berantem, bagusnya dua kandidat kasih sarung tinju suruh naik ring. Biar rakyat nggak ikut 'bonyok'," pungkas Rico.


Simak Juga 'Median: Jokowi Masih Teratas, tapi Elektabilitasnya Turun':

[Gambas:Video 20detik]



(mae/elz)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed