DetikNews
Sabtu 06 Oktober 2018, 05:56 WIB

Tapal Batas

Menyantap Ransum TNI di Titik Terdepan Indonesia, Begini Rasanya!

Danu Damarjati - detikNews
Menyantap Ransum TNI di Titik Terdepan Indonesia, Begini Rasanya! Ransum TNI di tapal batas RI-PNG, di Skouw, Distrik Muara Tami. (Danu Damarjati/detikcom)
Kota Jayapura - Ransum TNI semakin populer saja untuk diulas, dan kami juga telah merasakan sendiri makanan itu. Tapal Batas detikcom tidak menyantapnya di atas meja depan kamera seperti banyak video di YouTube, namun kami menyantapnya di titik terdepan Republik Indonesia usai berpatroli patok perbatasan.

Memang apa bedanya? Apakah bila disantap di titik terdepan negara ini lantas memengaruhi rasa ransum TNI? Tidak juga. Hanya saja kami dapat menikmati makanan ini sesuai konteksnya, yakni dinikmati di tengah kegiatan militer yang otentik. Sangar!

Kami mendapat kesempatan menikmati makanan-makanan TNI itu pada Minggu (9/9/2018) siang, usai mengikuti derap para personel Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) dari Yonif Para Raider 501 Kostrad.

Menyantap Ransum TNI di Titik Terdepan Indonesia, Begini Rasanya!Patroli patok perbatasan RI-PNG mencapai patok MM1 di Skouw Sae, Papua. (Muhammad Ridho/detikcom)

Tebing telah dilalui, jurang telah dituruni, medan perjalanan berat berhasil diatasi. Patok MM1 batas negara Republik Indonesia-Papua Nugini telah dicapai. Semua kondisi dipastikan baik-baik saja. Namun kami, anak-anak Jakarta yang tak biasa mengikuti langkah tegap tentara perbatasan, nampak tidak baik-baik saja. Mata sayu, keringat bercucuran, kaki bergetar.

"Ayo! Makan dulu," ajak Perwira Seksi Operasi (Pasiops) Satgas, Lettu Inf Dian Nurhuda kepada kami. Semuanya duduk merapat di tepi pantai karang, pinggir Samudera Pasifik.


Tentu saja atas dasar nilai kemanusiaan, para tentara ini berbaik hati membagi bekal yang mereka bawa. Mereka meletakkan senjata laras panjangnya dan mulai mengeluarkan kompor mini. Parafin dinyalakan.

Menyantap Ransum TNI di Titik Terdepan Indonesia, Begini Rasanya!Parafin dinyalakan untuk memanaskan ransum kalengan. (Danu Damarjati/detikcom)

Maka nampaklah ransum-ransum militer. Jenisnya disebut dengan T2SP. Entah kenapa namanya begitu, singkatan-singkatan seperti itu khas sekali tanpa ada yang tahu kepanjangannya.

Wujudnya adalah makanan kalengan. Ukurannya kira-kira setara dengan kotak makanan normal, hanya saja ini lebih gepeng. Warnanya hijau tanpa gambar kecuali logo TNI.

"Khusus TNI, dilarang memperjualbelikan," demikian bunyi tulisan di kaleng ransum TNI ini.

Menyantap Ransum TNI di Titik Terdepan Indonesia, Begini Rasanya!Melihat lebih dekat ransum kalengan TNI. (Danu Damarjati/detikcom)

Tertulis pula keterangan Netto 300 gram, berlaku sampai dengan Februari 2019. Di bagian samping, tertulis nama makanan di dalamnya. Ada nasi tumis daging cincang, nasi ayam asam manis, nasi ikan masak habang, dan nasi ikan saos tomat.

"Demi kenyamaan sebaiknya dipanaskan," demikian saran penyajian yang tertera di kaleng. Entah kenapa kata yang dipilih adalah "kenyamanan", bukan "kenikmatan" atau "kelezatan".


Kaleng makanan itu kemudian hendak ditumpangkan ke atas kompor parafin yang telah menyala. Namun terlebih dahulu mereka menarik tuas pembuka di atas kaleng itu, sedikit saja.

"Kita buka sedikit. Kalau sudah terbuka baru kita panaskan. Biar tidak meledak," kata Nugroho, salah seorang personel yang ikut memasak.

Menyantap Ransum TNI di Titik Terdepan Indonesia, Begini Rasanya!Foto: Menikmati ransum TNI di tapal batas RI-PNG, di Skouw, Distrik Muara Tami. (Danu Damarjati/detikcom)

Meski suasana santai, namun prosedur formal tetap diberlakukan. Tidak semuanya ikut memasak. Ada pula yang masih berjongkok di pojok kiri dan kanan, di belakang batu karang. Mata mereka mengawasi sekeliling, memastikan semuanya bakal aman.

Kembali ke kaleng makanan bekal patroli ini, aroma sudah mulai tercium, terbawa oleh angin pantai. Saya tidak mengantisipasi baunya bakal semenggoda ini. Tak lama, barangkali 5 menit saja, kaleng makanan ini diangkat dari kompor dan penutupnya dibuka lebih lebar.


"Awas, itu pinggiran tutup kaleng tajam ya, bisa menggores," kata Nugroho sambil menyodorkan kaleng ini kepada kami.

Saya dan rekan-rekan mulai menyendok makanan dalam kaleng ini. Wujudnya adalah nasi dicampur lauk. Warnanya bervariasi tergantung nama makanannya. Ada yang merah, ada juga yang kuning.

Tepat setelah memakan sesuap pertama ransum 'nasi ikan masak habang' yang berwarna merah, saya sudah menyimpulkan bahwa makanan ini enak. Rasanya seperti masakan normal namun sedikit lebih tajam, tapi hanya sedikit saja. Penilaian ini tentu saja dipengaruhi selera dan daerah asal.

Nasinya juga dicampur daging ikan sesungguhnhya. Tekstur daging ikannya masih jelas. Begitu pula 'nasi tumis daging cincang', yang disajikan benar-benar daging asli. Rasanya asin-pedas sedikit manis.

Menyantap Ransum TNI di Titik Terdepan Indonesia, Begini Rasanya!Foto: Menikmati ransum TNI di tapal batas RI-PNG, di Skouw, Distrik Muara Tami. (Danu Damarjati/detikcom)

Nasinya lebih berminyak ketimbang yang biasa dimakan di warung. Tekstur seperti ini juga memudahkan saat menelan, tidak seret.

"Ini cocok untuk anak kos ini," celetuk rekan saya, Hafiz.

Menurutnya, bila saja makanan jenis ini dijual bebas dengan harga normal, barangkali konsumen terbanyak adalah anak kos. Soalnya, makanan ini praktis dan cepat dikonsumsi. Namun makanan ini dilarang untuk dijual bebas.

Menyantap Ransum TNI di Titik Terdepan Indonesia, Begini Rasanya!Foto: Menikmati ransum TNI di tapal batas RI-PNG, di Skouw, Distrik Muara Tami. (Danu Damarjati/detikcom)

Makanan habis, perut kenyang, mata memandang ke Samudera Pasifik, telinga mendengar deburan ombak. Setelah bengong sejenak dan membereskan sisa-sisa kemasan makanan, kami bergegas untuk menaiki tebing, kembali ke Pos Komando Taktis.

Simak terus kabar dari kawasan terdepan Indonesia di Tapal Batas detikcom.

Simak Juga 'Patroli Patok Menyusuri Perbatasan RI-PNG':

[Gambas:Video 20detik]


(dnu/haf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed