DetikNews
Jumat 05 Oktober 2018, 06:59 WIB

Tapal Batas

Menyambangi Patok Negara di Balik Jurang, Tepi Samudera Pasifik

Danu Damarjati - detikNews
Menyambangi Patok Negara di Balik Jurang, Tepi Samudera Pasifik Satgas Pamtas RI-PNG Yonif Para Raider 501 (Danu Damarjati/detikcom)
Kota Jayapura - Butuh perjuangan dan nyali untuk mengakses patok tapal batas yang satu ini. Para tentara yang berpatroli harus menuruni jurang terjal berkarang tajam di tepian Samudera Pasifik.

Patok itu ada di Skouw Sae, Distrik Muara Tami, Jayapura, berbatasan dengan Wutung, Papua Nugini. Keamanan kondisi penanda teritori negara harus selalu dipastikan oleh para personel Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) RI-PNG dari Yonif Para Raider 501 Kostrad.

Pada Minggu (9/9/2018) pagi, 17 personel Satgas Pamtas bersiap untuk berpatroli ke patok yang berada di balik jurang, di punggung Bumi Cenderawasih. MM1, begitulah mereka menyebut nama patok itu.


Helm, rompi, senjata laras panjang dengan peluru terisi, radio komunikasi, tali karmantel panjat tebing, hingga peranti GPS disiagakan untuk patroli. Strategi direncanakan dengan matang dalam penyampaian perintah operasi.

Menyambangi Patok Negara di Balik Jurang, Tepi Samudera PasifikPatroli dimulai. (Danu Damarjati/detikcom)

Perwira Seksi Operasi (Pasiops) Satgas, Lettu Inf Dian Nurhuda memberi perintah. Pergerakan menuju patok menggunakan formasi berbanjar taktis. 17 Personel yang berangkat dibagi menjadi tiga kelompok, yakni pengaman, penyerbu, dan bantuan. Pukul 07.40 WIT, mereka mulai berderap ke jurang perbatasan.

Tim Tapal Batas detikcom mengikuti tiap langkah mereka. Medan awal yang dilewati adalah tanah berkarang menuju area pepohonan.

Nampak ada pagar kawat yang jebol. Lettu Inf Dian Nurhuda menjelaskan, pagar kawat itu sudah berkali-kali diperbaiki, namun berkali-kali pula dijebol oleh orang. Di seberang pagar kawat adalah teritori Papua Nugini. Ini merupakan jalan tikus yang terkadang dimanfaatkan untuk menyelundupkan barang ilegal.


"Sudah sering kita tambal-tutup pakai kawat, tapi dijebol lagi dan lagi. Kita koordinasi juga dengan pihak kepolisian. Kami pernah dapatkan, orang yang melintas membawa ganja, membawa miras," kata Dian.

Menyambangi Patok Negara di Balik Jurang, Tepi Samudera PasifikMedan perjalanan menuju patok MM1, curam! (Danu Damarjati/detikcom)

Para tentara melanjutkan patrolinya. Tak lama melangkah, permukaan tanah mulai menurun. Medan yang semula rata kini telah berganti dengan lereng. Semakin ke depan, semakin besar derajat kemiringan permukaan yang dilalui.

Sampailah para personel Satgas di tepian jurang. Tiga tentara tinggal di titik ini, yakni cek poin pertama. Mereka ditugasi untuk berjaga karena sisa personel lainnya akan turun ke bawah jurang.


Tali karmantel diikatkan di pohon yang paling kuat. Tali ini akan menjadi alat bantu utama untuk menuruni jurang. Sebenarnya ada kayu-kayu yang menempel di tebing, sisa-sisa konstruksi tangga sederhana dari orang-orang terdahulu. Namun kondisinya sudah sangat rusak sehingga berbahaya bila terlalu percaya dengan daya topang kayu lapuk itu.

Menyambangi Patok Negara di Balik Jurang, Tepi Samudera PasifikAwas, jangan salah berpijak di kayu lapuk! (Danu Damarjati/detikcom)

Wujud jurang ini adalah tebing karang. Salah gerak, tangan bisa terluka kena gores karang yang tajam. Salah pijak, badan bisa menggelinding ke bawah. Tanah, kayu, batu, hingga karang di bawah jurang bisa menyambut tubuh siapapun yang kurang waspada.

Ada satu tebing karang yang dijuluki para tentara sebagai "pantat sapi" karena bentuknya yang menggembung di atas dan cekung di bagian tengahnya. Kami menuruni pantat sapi dengan cara "rappeling", satu per satu mendapat gilirannya.

Saya ikut menuruni pantat sapi. Tangan memegang tali, tubuh merebah ke belakang, maka bergeraklah badan secara perlahan. Kaki sibuk mencari pijakan turun. Sebagian dari kami terlihat ragu-ragu. Kaki bergetar, keringat bercucuran.


Tinggi pantat sapi ini sekitar 6 meter saja, tapi setelah itu turunan yang curam masih belum berakhir. Tali masih harus dipegang erat, kadang-kadang akar pohon dan ranting juga diraih supaya langkah tidak tergelincir.

Menyambangi Patok Negara di Balik Jurang, Tepi Samudera PasifikTebing Jurang Pantat Sapi (Danu Damarjati/detikcom)

Saking curamnya, lutut salah satu rekan jadi terlalu lemas untuk menopang badan. Maka pantat menjadi tumpuan untuk menuruni jurang alias menggunakan jurus mengesot sehingga celana kotor semua. Meski berbahaya, namun selalu ada momen jenaka yang meredakan ketegangan di tapal batas ini, caranya dengan menertawai diri sendiri yang ternyata tak terlalu pemberani menuruni bukit curam.

Namun para tentara terlihat sangat meyakinkan dalam menuruni jurang dan lereng curam ini. Mereka bergerak di medan sulit sambil menggendong senjata laras panjang. Namun tetap saja mereka waspada, karena seorang tentara pun dikatakan mereka pernah tergelincir jatuh di titik ini.

Suara deburan ombak sudah terdengar jelas. Suasana gelap yang sebelumnya menaungi tebing jurang mulai beranjak cerah. Kami sudah sampai di pantai tepian Samudera Pasifik.

Pantai di sini bukan pantai berpasir, melainkan batu karang tajam. Di kejauhan terlihat ada batu yang meruncing ke atas, ada yang cekung di bawah, dan ada yang bulat. Air laut yang menabrak karang ini seolah menyuarakan bunyi Samudera Pasifik di kawasan terdepan Indonesia.

Menyambangi Patok Negara di Balik Jurang, Tepi Samudera PasifikMenuruni Tebing Jurang Pantat Sapi (Danu Damarjati/detikcom)

Para tentara terus berderap, terkadang mereka sembunyi di balik batu karang dan mengamati kondisi di depannya. Senjata mereka pegang, seolah siap digunakan, namun tentu saja semuanya terkendali. Setelah kondisi dipastikan aman, mereka melangkah.

Sampailah pada patok perbatasan yang dituju, MM1. Bentuknya adalah tugu beton bertuliskan nomor titik koordinat. Ada pelat logam tertempel di patok setinggi sekitar 165 cm ini. Tulisan di pelat logam itu berbunyi:

"Joint Papua New Guinea-Indonesia Survey. 1987. Border Monument No MM1. Date Established: October 1987"

Di bawah, ada logam bundar yang ditempel di beton, bunyinya, "Departement Surveys and Mines. Permanent Survey Mark. Penalty for Interference."

Menyambangi Patok Negara di Balik Jurang, Tepi Samudera PasifikFoto: Satgas Pamtas RI-PNG Yonif Para Raider 501 (Danu Damarjati/detikcom)

Pukul 10.30 WIT, Lettu Inf Dian mendekat ke patok sambil membawa peranti GPS. Dia memastikan posisi patok tidak bergeser dari yang seharusnya.

"Kita sudah sampai di patok MM1, ini merupakan patok paling ujung utara, batas wilayah RI-PNG. Ini merupakan tanggung jawab dari Satgas Pamtas kita, yakni Yonif Para Raider 501/Bajra Yudha. Kita sudah laksanakkan pengecekan patok, ternyata di atas peta dan di GPS, patok ini tetap pada posisinya dan masih utuh," kata Dian.

Tiang Sang Saka ditancapkan di patok, Merah Putih berkibar. Para personel Satgas Pamtas membentuk formasi setengah lingkaran menghadap ke patok dan memberi hormat ke Merah Putih.

Simak terus kabar-kabar dari kawasan terdepan Indonesia di Tapal Batas detikcom.


Simak Juga 'Patroli Patok Menyusuri Perbatasan RI-PNG':

[Gambas:Video 20detik]





(dnu/nvl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed