DetikNews
Kamis 04 Oktober 2018, 19:23 WIB

Tapal Batas

Sensasi Nyeker di Hutan Tapal Batas, Dipandu Agung Berkaki Empat

Danu Damarjati - detikNews
Sensasi Nyeker di Hutan Tapal Batas, Dipandu Agung Berkaki Empat Hutan Mosso di tapal batas RI-PNG. (Danu Damarjati/detikcom)
Kota Jayapura - Bagaimana rasanya bertelanjang kaki (nyeker) di belantara Papua? Apakah nyeker di hutan lebih nyaman ketimbang memakai alas kaki? Begini pengalaman kami.

Sensasi nyeker di hutan kawasan terdepan Indonesia saya rasakan saat Tim Tapal Batas detikcom berjalan menuju mata air panas Kampung Mosso, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Kamis (8/9/2018).

Kami berangkat ditemani oleh enam tentara Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) dari Yonif Para Raider 501 Kostrad. Ada satu lagi yang ikut, namun bukan manusia, namanya adalah Agung. Sosok Agung ini punya kaki empat. Agung adalah anjing kepunyaan Satgas Pamtas.

Sensasi Nyeker di Hutan Tapal Batas, Dipandu Agung Berkaki EmpatAgung si anjing. (Danu Damarjati/detikcom)

Nyeker di hutan ini bukan karena kami ingin menyatu dengan alam, lebih intim dengan Bumi Cenderawasih, menguji kesaktian, atau alasan muluk-muluk lainnya. Sebenarnya, ini karena sandal kami putus terjebak lumpur.

Di antara enam orang yang ikut jalan ke mata air panas, ada dua orang yang memakai sandal gunung, termasuk saya. Pertimbangannya, kami sudah menggunakan sandal seperti ini untuk menempuh medan tapal batas di Belu Nusa Tenggara Timur (NTT), Merauke, dan Entikong.

Meski sebenarnya sandal ini dibikin hanya untuk berjalan-jalan di sekitar tenda, namun kami tak menemui kendala saat menggunakannya di hutan, semak belukar, lumpur, dan sungai pada perjalanan sebelumnya. Namun ini tak berlaku di hutan Mosso.

Di hutan kawasan perbatasan RI-Papua Nugini ini, sandal putus setelah terjebak lumpur. Hujan sehari sebelumnya membuat tanah di sini gembur. Kaki kiri terjebak lumpur setinggi mata kaki. Ternyata cukup berat juga untuk melepaskan diri dari lumpur.

Sensasi Nyeker di Hutan Tapal Batas, Dipandu Agung Berkaki EmpatMedan perjalanan di hutan Mosso. (Danu Damarjati/detikcom)

Dengan tenaga ekstra, kaki kiri berhasil ditarik dari lumpur, namun konsekuensinya tali sandal lepas dari alas karetnya. Duh!

Perjalanan masih panjang, bahkan belum setengahnya. Karena berjalan dengan satu sandal malah terasa tak nyaman, maka sandal ditinggal. Jadilah nyeker di hutan. Belakangan saya mengetahui, satu rekan yang lain juga mengalami putus tali sandal gunung.

Ada sensasi tersendiri saat melangkah tanpa alas kaki di hutan, yakni sensasi takut menginjak duri. Kewaspadaan meningkat dua kali lipat ketimbang melangkah di hutan menggunakan alas kaki.

Di hutan ini mudah dijumpai rotan berduri dan palem berduri. Benda tajam alami itu ada di permukaan tanah, melintang di depan badan, atau juga di posisi yang setara dengan kepala. Terkadang duri itu juga menyangkut di baju dan juga menggores kulit.

Tentu saja kami menginjak duri dan jelas terasa. Barangkali karena suasana mendukung dan adrenalin sedang terpacu, rasa sakit karena duri yang menancap menjadi berkurang. Sebenarnya kaki ini juga sudah cukup kapalan.

Kubangan lumpur justru terasa melegakan. Meski lumpur membuat rawan terpeleset (di samping ada turunan yang mengarah ke jurang pula), namun lumpur justru membuat duri-duri tajam menjadi lapuk sehingga aman bagi telapak kaki.

Sensasi Nyeker di Hutan Tapal Batas, Dipandu Agung Berkaki EmpatNyeker di hutan Mosso. (Danu Damarjati/detikcom)

Kaki menjadi lebih rileks saat melangkah di atas papan kayu. Papan kayu ini dibikin oleh orang-orang proyek penebangan pohon di tengah hutan. Selain mempermudah jalur perjalanan, papan kayu ini juga lumayan menyelamatkan kaki telanjang dari ancaman duri. Namun ancaman duri bisa berganti menjadi kengerian menginjak paku papan kayu, atau imajinasi horor saat kuku jempol kaki menyandung tepian kayu yang keras ini.

Saat papan kayu berakhir di titik penebangan pohon, terik mentari langsung menyengat permukaan hutan. Tanah menjadi kering dan daun-daun berduri terserak begitu saja, bercampur dengan kayu-kayu yang tumbang. Ini sungguh meningkatkan kewaspadaan menjadi tiga kali lipat.

Langkah kaki menjadi lebih lambat karena khawatir kena duri. Maklum, ini kaki yang biasa terbungkus sepatu. Terlihat Agung yang sama-sama nyeker mampu berjalan lincah.

Agung mengibas-ngibaskan ekornya, dan menjulurkan lidah. Seolah Agung sedang mengejek saya yang menjadi terlalu lambat, meski tentu saja sebenarnya tidak demikian. Dia kemudian berlari ke barisan terdepan untuk mengecek keamanan medan perjalanan sebelum manusia-manusia ini melewatinya. Agung seolah menjadi pemandu jalan.

Kami bertemu dengan buruh penebang kayu yang beristirahat di tenda tengah hutan. Saya meminta izin untuk meminjam sepatu bot karetnya. Mereka mengizinkan kami meminjam sepatu itu, dengan syarat sepatu bot itu harus dikembalikan saat perjalanan pulang melewati tenda ini lagi.
Sensasi Nyeker di Hutan Tapal Batas, Dipandu Agung Berkaki EmpatSepatu milik buruh penebang pohon. (Danu Damarjati/detikcom)


"Silakan, Pak," kata salah seorang buruh penebang kayu.

Ada impresi ambigu yang muncul saat penebang kayu hutan itu bersedia meminjamkan sepatu. Di satu sisi, penebangan pohon di hutan dikecam banyak orang karena membikin rusaknya hutan. Namun di sisi lain, buruh penebang pohon yang bekerja keras mencari nafkah ini telah berbaik hati meminjamkan sepatunya untuk saya.

Saya kemudian melangkah menggunakan sepatu pinjaman buruh penebang pohon, melanjutkan perjalanan. Sesampainya di tepi sungai, Agung nyebur duluan meskipun dalam percobaan pertamanya tak langsung sukses menyeberang. Dia terlihat hampir hanyut terbawa arus, menepi lagi, dan mencoba lagi hingga berhasil.

Sensasi Nyeker di Hutan Tapal Batas, Dipandu Agung Berkaki EmpatAgung menyeberangi Sungai Mosso yang berarus kuat. (Danu Damarjati/detikcom)

Sesampainya di mata air panas Mosso, Agung diteriaki oleh salah seorang prajurit Satgas Pamtas, "Gung! Jangan ke sana! Di situ panas! Nanti bisa mateng kamu!"

Simak terus kabar-kabar dari kawasan terdepan Indonesia di Tapal Batas detikcom.


(dnu/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed