DetikNews
Kamis 04 Oktober 2018, 16:42 WIB

Tapal Batas

Ada Mata Air Panas Tersembunyi di Kampung Mosso, Perbatasan RI-PNG

Danu Damarjati - detikNews
Ada Mata Air Panas Tersembunyi di Kampung Mosso, Perbatasan RI-PNG Mata Air Panas Kampung Mosso (Danu Damarjati/detikcom)
Kota Jayapura - Kawasan tapal batas Republik Indonesia-Papua Nugini (RI-PNG) di Kota Jayapura menyimpan potensi alam yang tersembunyi, yakni sumber mata air panas. Bagaimana bisa ada mata air panas di sini?

Mata air panas itu ada di wilayah Kampung Mosso, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura. Tapal batas detikcom mengunjunginya pada Sabtu (8/9/2018).

Kampung Mosso dapat dijangkau dari Kota Jayapura dengan menempuh perjalanan 65 km ke arah PLBN Skouw selama dua jam. Sesampainya di Kampung Mosso, kami diantar oleh tentara Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) dari Yonif Para Raider 501 Kostrad.


Kami berenam yang datang dari Jakarta ini sangat khawatir dengan gigitan nyamuk. Bukan apa-apa, cerita-cerita tentang ganasnya serangan malaria sedikit membuat kami berpikir. Personel Satgas Pamtas memberi kami losion antinyamuk berbotol hitam, berbeda dengan yang dijual di pasaran. Ini losion khusus tentara, lebih kuat untuk menangkal gigitan nyamuk ketimbang losion biasa.

Bila perjalanan dari Kota Jayapura ke Kampung Mosso dapat ditempuh dengan mobil di atas aspal mulus, tidak demikian halnya dengan perjalanan lanjutan dari permukiman kampung ke sumber mata air panas. Perjalanan dilanjut dengan jalan kaki mulai 9.30 WIT pagi.


Jalan kaki masuk hutan

Ada Mata Air Panas Tersembunyi di Kampung Mosso, Perbatasan RI-PNGLangkah awal menuju Mata Air Panas Kampung Mosso (Danu Damarjati/detikcom)

Awalnya, kami berjalan di atas papan kayu yang disediakan para pekerja penebang pohon di hutan. Papan kayu ini lebarnya sekitar 5 cm saja, hanya cukup untuk satu tapak kaki. Terkadang ada pula dua papan kayu dipasang sekaligus.

Di tengah perjalanan, kami bertemu dengan tiga pekerja proyek penebangan kayu yang berusaha membawa motor matiknya masuk ke hutan lewat papan kayu ini. Terang saja, jalannya motor tersebut tak lancar dan lebih banyak dituntun daripada dikendarai.

Sekitar 1,5 km berjalan, jalan papan kayu berganti seresah daun. Seresah daun dilanjut dengan tanah. Tanah disambung dengan jalanan berlumpur.

Hari ini kami beruntung karena langit tak menurunkan hujan. Sehari sebelumnya, hujan mengguyur kawasan terdepan Indonesia ini dan membuat Sungai Mosso meluap. Tinggi permukaan air bisa mencapai 2 meter. Padahal kami juga bakal menyeberangi sungai untuk mencapai mata air panas. Terbayang pula, bagaimana wujudnya lumpur yang memberatkan langkah kami sekarang, bila hujan benar-benar turun.


Kami mulai memasuki hutan di tapal batas Indonesia. Suara-suara burung dan serangga terdengar dari pepohonan tinggi. Kata salah satu tentara yang mendampingi kami, Randy, di hutan ini masih ada burung rangkong Papua, kakatua, hingga nuri.

Iklim mikro di dalam hutan cenderung lebih teduh. Tanaman di sini terdiri dari pelbagai jenis pepohonan, alang-alang, dan pakis-pakis. Di antara tanaman ini, banyak pula yang berduri dan melintang di jalan, terkadang menyangkut di baju pula.

Ada Mata Air Panas Tersembunyi di Kampung Mosso, Perbatasan RI-PNGSuasana hutan menuju Mata Air Panas Kampung Mosso (Danu Damarjati/detikcom)

Kami juga menyeberangi aliran sungai kecil dengan jembatan kayu sederhana. Pukul 11.00 WIT kami beristirahat sejenak di atas kayu yang ditebang dekat sungai. Semuanya memeriksa kaki masing-masing, memastikan tak ada lintah yang meminta sedikit darah.

Perjalanan dilanjut. Turunan dan tanjakan dilalui. Sedari tadi, kami ditemani oleh Agung yang berkaki empat. Agung adalah nama anjing milik tentara yang selalu memastikan kondisi didepan sebelum kami melangkah.

Di depan ada Sungai Mosso. Ternyata kami sudah semakin dekat dengan lokasi mata air panas. Kaki kami sudah mulai lelah saat harus menyeberangi sungai berkerikil.

Kedalaman maksimal sungai ini adalah sepinggul. Untung air sudah cukup surut usai hujan kemarin sehingga kami tak perlu menyeberangi sungai sedalam 2 meter.


Menyeberangi sungai ini bukan perkara gampang. Arusnya kencang sekali. "Awas, hati-hati, ikuti jalur di depan," kata personel tentara yang menginstruksikan kami untuk mengikuti langkah tentara yang merintis jalan di sungai. Bila salah langkah, ada kemungkinan kaki terperosok ke bagian yang dalam.

Kencangnya arus sungai membuat langkah kaki terasa seperti mengayuh sepeda fixie di tanjakan jalan, apalagi sesekali kami juga harus miring melawan arus. Rekan yang membawa kamera terlihat ekstra hati-hati karena harus mengamankan peralatannya supaya tak kena air.

Ada Mata Air Panas Tersembunyi di Kampung Mosso, Perbatasan RI-PNGSungai Mosso yang harus diseberangi untuk mengakses Mata Air Panas Kampung Mosso (Danu Damarjati/detikcom)

Sungai-sungai di kawasan tapal batas ini diwaspadai pula karena menjadi tempat hidup buaya. Meskipun buaya jarang terlihat di sekitar sini, melainkan di muara, namun para personel tetap mewaspadai segala kemungkinan terburuk.

Ngos-ngosan, baju dan tas basah karena keringat, celana basah karena air sungai. Panas tengah hari mulai menyengat dari ubun-ubun. Air sungai yang masuk ke sepatu bot karet memberatkan langkah. Namun kami harus terus berjalan menembus alang-alang dan pasir. Pasir di sini wujudnya seperti pasir pantai, warnanya juga putih.

Beberapa air minum kemasan ukuran 1 liter sudah habis. "Air sungai ini bisa diminum," kata salah seorang tentara kepada kami. Maka saya mencobanya.

Air sungai memang terlihat kecokelatan bila dilihat dari jauh. Namun bila didekati, air ini cukup jernih. Bebatuan di dasar sungai bahkan bisa terlihat. Saya coba saja air sungai ini untuk mengusir haus.


Memang menyegarkan! Rasanya masih ada sedikit aroma tanah, sedikit saja, namun tak terlalu buruk.

Ada Mata Air Panas Tersembunyi di Kampung Mosso, Perbatasan RI-PNGAir di Sungai Mosso (Danu Damarjati/detikcom)

Terlihat di seberang sungai, air seperti mengeluarkan asap. Nampaknya itu bukan asap biasa, tapi uap air.

"Itu mata air panasnya," kata Prada Saiful menunjuk ke seberang sungai selebar sekitar 100 meter ini.


Mata air panas

Ada Mata Air Panas Tersembunyi di Kampung Mosso, Perbatasan RI-PNGPertemuan antara aliran mata air panas dan Sungai Mosso, biasa digunakan untuk mandi bila kondisi kedalaman sedang aman. (Danu Damarjati/detikcom)

Pukul 12.30 WIB, kami sampai di mata air panas. Berarti 3 jam lebih kami menempuh perjalanan dari permukiman Kampung Mosso. Total jarak yang kami tempuh adalah sekitar 8 km, namun berhubung rute tidak sepenuhnya lurus maka jaraknya bisa sampai 15 km. Para tentara mengaku bisa menempuh jarak ini dalam waktu normal kurang dari 2 jam.

"Sebelum kami temukan jalur ini, dulu kita harus melewati jalur yang lain, melewati tiga hingga empat sungai. Waktu perjalanan bisa dari pagi berangkat sampai sore baru sampai," kata prajurit Satgas Pamtas, Prada Saiful.

Jalur yang kami tempuh ini termasuk dekat, baru ditemukan pada bulan Mei saat ada rencana Wali Kota Jayapura Benhur Tommy Mano meninjau lokasi ini sebagai potensi pariwisata Kota Jayapura.

Kami mendekat ke sumbar mata air panas. Suhu udara menghangat. Uap air muncul dari tanah yang dialiri air. Kami dekati, ternyata air ini memunculkan gelembung-gelembung mendidih.

Ada Mata Air Panas Tersembunyi di Kampung Mosso, Perbatasan RI-PNGMata Air Panas Kampung Mosso (Danu Damarjati/detikcom)

Saya periksa seberapa panas air ini, jari tangan yang saya colekkan di air ini merasakan sensasi yang sama seperti mencelupkan tangan ke air matang. Barangkali air ini tak sampai 100 derajat celcius, namun cukup untuk membuat kulit melepuh bila tidak berhati-hati.

Di sekitarnya ada lumpur-lumpur yang terasa hangat di kaki. Bau belerang mudah tercium. Saiful mendapatkan cerita dari Satgas Pamtas sebelumnya, pernah ada orang yang tewas akibat sembarangan melompat ke lumpur dan akirnya terperosok dalam tempat yang panas itu.

Terakhir, dia menyaksikan sendiri, seorang mahasiswa Universitas Cenderawasih (Uncen) kakinya terperosok di lumpur, namun hanya mengalami luka ringan saja.

"Kakinya jadi merah karena masuk lumpur," tuturnya.

Orang yang ingin menikmati air panas ini untuk mandi biasanya tidak langsung berendam di sini, karena itu bisa sangat berbahaya, melainkan mandi di titik pertigaan pertemuan antara aliran air panas dan Sungai Mosso. Namun kali ini air sungai terlalu dalam untuk dijadikan tempat mandi, maklum, kemarin baru saja hujan deras.

Mata air panas ini juga digadang-gadang menjadi tempat wisata pamungkas dari rencana besar pengembangan pariwisata perbatasan. Namun letaknya masih terlalu terpencil dan sulit diakses khalayak umum. Rasa-rasanya medan perjalanan seperti ini masih terlampau berat untuk ditempuh wisatawan pada umumnya.

"Jika ini nanti bisa dikelola dengan baik menjadi wahana khusus, penginapan, sampai tempat pemandian yang layak, khusus keluarga dan umum, bahkan ada hotel-hotel dan segala macam. Harapannya kita ke depan ini sebagai penutup rangkaian perjalanan tur wisata di Muara Tami, endingnya di mata air panas. Setelah letih, mereka bisa kembali bugar dengan air panas," tutur Kepala Distrik Muara Tami, Supriyanto, kepada detikcom, Rabu (5/9/2018).


Tinjauan ilmuwan

Ada Mata Air Panas Tersembunyi di Kampung Mosso, Perbatasan RI-PNGMata Air Panas Kampung Mosso (Danu Damarjati/detikcom)

Mata air panas, atau dalam Bahasa Mosso disebut sebagai "catta", merupakan fenomena alam yang biasa muncul di kawasan yang terdapat gunung berapi. Namun di Papua kawasan Indonesia, sudah tak ada lagi gunung berapi aktif.

"Mata air panas biasa dihubungkan dengan aktivitas geotermal, air panas sebagai manifestasi gunung api," kata peneliti dari Universitas Cenderawasih (Uncen), Marcelino Yonas, kepada detikcom, Kamis (4/10/2018).

Ketua Program Studi Diploma III Teknik Geologi Uncen ini telah mensurvei mata air panas Kampung Mosso pada tiga bulan lalu. Kini sampel dari mata air panas telah dikirimnya ke Yogyakarta untuk diuji analisa petrografi, gunanya untuk mengetahui susunan mineral dan pengaruh aktivitas patahan (sesar) bumi.

"Asumsi awal, kemunculan mata air panas itu akibat aktivitas sesar. Kita belum bisa katakan itu dari sesar Jayapura (sebutan populer untuk sesar yang melintasi Kota Jayapura), tapi sepertinya ini berasal dari gunung berapi di Papua Nugini," tutur Marcel.

Gunung berapi terdekat dari Kampung Mosso ada di kawasan Papua Nugini, jaraknya sekitar 400 km. Apapun itu, kesimpulan perihal analisa mata air panas ini belumlah final. Namun demikian, mata air panas di Papua kebanyakan ada di kawasan perbatasan dengan Papua Nugini.

"Yang saya tahu, mata air panas di Papua itu juga ada di Merauke, di tengah kota dan sudah lama. Ada satu lagi di daerah pegunungan Kabupaten Intan Jaya. Menariknya, manifestasi air panas ini semua di kawasan perbatasan dengan wilayah Papua Nugini," tuturnya.

Dia merencanakan akan melakukan penelitian kembali di mata air panas Mosso, bersama tim dari Program Studi Teknik Geologi Uncen. Alat georadar untuk mendeteksi struktur formasi batuan akan dibawa.

Simak terus kabar-kabar dari kawasan terdepan Indonesia di Tapal Batas detikcom.




Tonton juga video 'Mata Air Tersembunyi di Kampung Mosso':

[Gambas:Video 20detik]


(dnu/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed