DetikNews
Rabu 03 Oktober 2018, 22:26 WIB

Tapal Batas

Kampung Mosso di Batas RI-PNG: Ditinggal, Dibakar, dan Dibangun

Danu Damarjati - detikNews
Kampung Mosso di Batas RI-PNG: Ditinggal, Dibakar, dan Dibangun Jembatan gantung yang dijuluki 'Jembatan Putus Hati' di Kampung Mosso. (Danu Damarjati/detikcom)
Kota Jayapura - Kampung Mosso kini terancam dihapus oleh Wali Kota Jayapura Benhur Tommy Mano karena sering ditinggal penduduknya ke Papua Nugini (PNG). Padahal Kampung Mosso punya sejarah panjang yang dipengaruhi pergolakan politik, yang memaksa penduduknya untuk meninggalkan kampung halaman selama tiga dekade.

Hal ini diceritakan oleh Kepala Kampung, Agus Wepafoa, kepada detikcom di kantornya, Mosso, Distrik Muara Tami, sekitar 2 jam dari Kota Jayapura, Jumat (7/9/2018).

Dia mengakui warga kampungnya sering ke Papua Nugini, itu normal karena mereka juga punya tanah adat di sana. Tanah adat ini terbentuk sebelum batas-batas negara Indonesia dan Papua Nugini ada. Tanah adat ini didapat nenek moyang suku mereka, Suku Nyao, lewat peperangan masa silam. Pihak yang menang perang suku mendapatkan teritori yang luas.

"Seperti saya orang Kampung Mosso, saya punya tanah masih besar (luas) di PNG sana, karena saya punya moyang dia kuat (menang) perang suku. Akhirnya dia ambil tanah besar," tutur Agus.

Kampung Mosso bukan hanya entitas administratif belaka seperti kelurahan, namun Kampung Mosso adalah entitas adat. Mereka punya kepala adat atau dalam istilah setempat disebut sebagai ondoafi.


Keluarga orang-orang suku besar Nyao di Kampung Mosso ini juga masih banyak yang bermukim di Papua Nugini. Namun untuk mobilitas lintas negara, Agus menjelaskan ada mekanisme sendiri yang harus dipatuhi, yakni menggunakan Kartu Lintas Batas. Orang dari Indonesia memiliki kartu warna merah, dan orang Papua Nugini memiliki kartu warna kuning. Tidak ada satu orang yang memiliki kartu merah dan kuning sekaligus.

"Kalau yang di Republik Indonesia kita pegang merah," kata Agus

Dengan kartu itu, penduduk tapal batas ini bisa pergi ke negara seberang selama maksimal satu pekan dan kemudian harus pulang. Orang-orang tapal batas, termasuk orang Mosso, diperkenankan untuk berada di negara tetangga selama sebulan asalkan ada acara adat yakni upacara kematian. Bila masa kunjungan di negara tetangga sudah habis, orang yang bersangkutan perlu memprosesnya lagi di Kantor Imigrasi agar bisa berkunjung lagi di kesempatan berikutnya.

Kampung Mosso di Batas RI-PNG: Ditinggal, Dibakar, dan DibangunAnak-anak di Kampung Skouw (Danu Damarjati/detikcom)


Kembali ke sejarah Kampung Mosso, Sebelum muncul wacana penghapusan Kampung dari Wali Kota Jayapura, ada rangkaian sejarah yang mengantarkan mereka sampai ke era kini. Kampung ini pernah ditinggal oleh penduduknya karena dinamika politik di masa silam. Penduduknya pernah mengungsi ke Papua Nugini (PNG). Berikut adalah sekelumit sejarahnya.

Belajar Bahasa Melayu

Orang-orang Mosso berinteraksi dengan orang-orang luar pada masa silam, yakni saat era kolonial Belanda. Pada era itulah orang-orang Mosso mulai belajar Bahasa Melayu yang kini telah berevolusi menjadi Bahasa Melayu Papua sebagaimana yang sering mereka gunakan bila berinteraksi dengan orang luar kampung. Bahasa Melayu dibawa oleh misionaris Agama Kristen.

"Dia (misionaris) bawa kapal masuk ke Papua dengan firman Tuhan. Dia datang, baru dia ajar, 'Pak, ini pisau, ini parang, ini baju, ini sepatu, ini sandal.' Akhirnya zaman sekarang Papua juga bisa tahu Bahasa Melayu," tutur Agus.


Sejarah terus berjalan, orang yang tinggal di pinggir Sungai Mosso tetap menjalin hubungan dengan kerabatnya di timur, yakni di Kampung Nyao yang sekarang ada di teritori Papua Nugini.

Kampung ditinggal, kampung dibakar

Tiba saatnya era pergolakan politik. Konteksnya adalah dekade 1960-an. Saat itu Papua belum menjadi bagian dari Indonesia, Belanda bersiap hengkang dari Bumi Cenderawasih.

"Gara-gara orang Belanda mau pulang, orang Indonesia masuk di tanah Papua. Permainan politik, akhirnya ada yang bilang Papua mau merdeka," kata Agus.

Gara-gara ada tegangan antara yang menghendaki Papua merdeka dan yang memperjuangkan Papua bagian dari Indonesia, Kampung Mosso menjadi korban. Suasana menjadi rawan.

Kampung Mosso di Batas RI-PNG: Ditinggal, Dibakar, dan DibangunKepala Kampung Mosso, Agus Wepafoa. (Danu Damarjati/detikcom)

Masyarakat meninggalkan kampung halamannya untuk mengungsi dari potensi bahaya. Mereka mengungsi ke kawasan Papua Nugini, ke lokasi lain yang masih menjadi wilayah adat mereka. Cerita ini dipahami Agus dari orang-orang tua. Soalnya, saat itu Agus masih terlalu belia untuk memahami situasi. Agus lahir tahun 1967 dan dibawa mengungsi oleh orang tuanya pada 1969.

"Akhirnya saya punya orang tua itu mengungsi, mengungsi dari Kampung itu tahun 1969. Mengungsi dari kampung ini ke PNG. Saya juga masih kecil. Saya lahir tahun 1967, 1968 saya dibaptis oleh pendeta, tahun 1969 berarti saya ikut mengungsi dengan orang tua, karena orang tua belum pintar. Itu kata orang (periode) perang kedua," kata Agus.


Mereka mengungsi sekitar sebulan di hutan-hutan yang cukup jauh dari kampung halaman. Mereka pulang ke kampung, namun mereka mendapati kondisi yang menyedihkan. Kampung halaman sudah dibakar habis. Kondisi ini memaksa mereka meneruskan masa eksodus panjang di kawasan Papua Nugini.

"Itu gara-gara politik saja. Orang tua kita sudah dapat kartu Bendera Merah Putih, tapi banyak orang pintar Papua Barat bilang begini, 'Pak, kalau tinggal (di Kampung Mosso), nanti tentara Indonesia bunuh.' Dia (masyarakat Mosso kala itu) kan belum pintar, akhirnya dia mengungsi masuk hutan satu bulan, sembunyi," kata Agus.

"Tapi tentara patroli langsung membakar rumah, ayam, babi, binatang, semua dimusnahkan. Sebulan kemudian, (penduduk) kembali ke Kampung melihat, 'Wah, tempat saya sudah dihancurkan.' Akhirnya dia (masyarakat Mosso kala itu) takut, dia mengungsi ke sana (PNG). Dia kan punya tanah juga di sebelah, dia ikuti sejarah dia. Dia pergi ke negera tetangga yang masih massa penjajahan orang Australia," tutur Agus.

Pulang ke kampung halaman

Agus Wepafoa dibesarkan di Papua Nugini. Banyak penduduk di Mosso ini yang besar di Papua Nugini, bahkan sebagian besar lahir di Papua Nugini. Namun ada momentum bagi mereka untuk pulang kembali ke kampung setelah tiga dekade, yakni lewat kabar gembira yang dibawa seseorang.

"Ada tetangga saya di sini yang tahun 1999, dia pakai surat jalan juga dia pergi ke sana, dia panggil, 'Ah, pulang sudah ke negeri kita sendiri, karena di sana aman, tidak ada musuh.' Akhirnya kita pulang (ke sini) tahun 1999," kata Agus.


Tahun 2000, sudah banyak orang yang kembali menetap di dekat Sungai Mosso ini. Dua tahun kemudian, mereka mulai mendapat Kartu Tanda Penduduk (KTP), bukan KTP beralamat di Kampung Mosso (karena waktu itu Kampung Mosso belum diakui secara legal) namun KTP beralamat di Skouw Sae, kampung tetangga Mosso.

Kampung Mosso di Batas RI-PNG: Ditinggal, Dibakar, dan DibangunSuasana Kampung Mosso (Danu Damarjati/detikcom)


"Terus dari situ, mulai genap 2006 baru kita punya desa sendiri," kata Kepala Kampung Mosso ke-4 sejak 2006. Kampung Mosso dibentuk dengan landasan Peraturan Daerah (Perda) Kota Jayapura Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pembentukan Kampung Kayobatu, Kampung Waena, dan Kampung Mosso.

Dibangun

Sentuhan Pemerintah Indonesia hadir di Kampung Mosso lewat pembangunan-pembangunan dan kucuran anggaran. Sejak 2006, rumah huni untuk masyarakat dibangun. Pada 2016, Agus mulai menjadi Kepala Kampung.

"Kemarin, 2016 kita dapat dana Rp 3 miliar Dana Desa. Itu bantuan dari pusat. Itu kita harus membangun rumah, ada 6 rumah dan kantor ini. 2017 Juga begitu," tutur Agus.

Jalanan kampung mulai dicor beton lewat proyek dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) pada 2016, di luar anggaran dana desa. "Itu dana pusat dari program Bapak Jokowi," kata dia.

Kampung Mosso di Batas RI-PNG: Ditinggal, Dibakar, dan DibangunJalan beton di Kampung Mosso. (Danu Damarjati/detikcom)

Saat ini, dia mulai melanjutkan pengerasan jalan untuk bagian jalan yang lebih masuk ke permukiman dan belum dilintasi cor beton.


Fasilitas kesehatan telah dibangun di kampung ini, yakni Puskesmas Pembantu (Pustu), sekolahan SD-SMP satu atap, dan Kantor Kepala Kampung. Warga mendapatkan Kartu Indonesia Sehat (KIS) namun belum mendapat Kartu Indonesia Pintar (KIP).

"Imunisasi belum ada. Tapi kartu sehat dapat, untuk rumah sakit, obat gratis. Itu dari 2015-2016," kata Agus.

Masyarakat Mosso umumnya bermata pencaharian sebagai petani sederhana. Mereka bercocok tanam kacang, ubi, pisang, mencari ikan di sungai, hingga memotong kayu di hutan.

Kampung Mosso di Batas RI-PNG: Ditinggal, Dibakar, dan DibangunFoto: Kegiatan pelatihan di Kampung Mosso. (Danu Damarjati/detikcom)

Pelatihan-pelatihan ketrampilan untuk masyarakat mulai diadakan. Misalnya, pelatihan ibu-ibu menjahit dan pelatihan komputer untuk aparat kampung. Saat detikcom menemui Agus di kantornya, orang-orang sedang mengikuti Peningkatan Kapasitas Masyarakat (PKM) 2018 Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, berupa pelatihan "livelihood" dan review perencanaan Kampung Mosso.

Tahun ini, Kampung Mosso mendapatkan Dana Desa Rp 3 miliar ditambah Dana Otonomi Khusus Rp 3 miliar. Maka secara total, Kampung Mosso mendapat dana Rp 6 miliar untuk membangun kampung terdepan Indonesia ini.

Kampung Mosso di Batas RI-PNG: Ditinggal, Dibakar, dan DibangunKepala Kampung Mosso, Agus Wepafoa. (Danu Damarjati/detikcom)

Simak terus kabar dari kawasan terdepan Indonesia di Tapal Batas detikcom.

[Gambas:Video 20detik]


(dnu/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed