DetikNews
Rabu 03 Oktober 2018, 18:26 WIB

Tapal Batas

Mosso, Kampung Tapal Batas yang Terancam Dihapus Kota Jayapura

Danu Damarjati - detikNews
Mosso, Kampung Tapal Batas yang Terancam Dihapus Kota Jayapura Anak-anak Kampung Mosso, tapal batas RI-Papua Nugini. (Danu Damarjati/detikcom)
Kota Jayapura - Kata Wali Kota Jayapura Benhur Tommy Mano, penduduk Kampung Mosso punya KTP dua negara dan sering meninggalkan kampungnya untuk hidup di Papua Nugini. Dia berencana menghapus Kampung Mosso dengan cara meleburkan ke kampung tetangganya. Begini kondisi Kampung Mosso dan penduduknya.

Permukaan jalan beton di Kampung Mosso memantulkan fatamorgana tengah hari. Mata perlu memicing karena silau, namun setidaknya langkah kaki tim Tapal Batas detikcom tak terantuk batu dan terjebak lumpur karena jalanan kampung di pojok timur Indonesia ini sudah keras dan rata.

Di sisi jalan beton, rumah-rumah panggung dari kayu dan rumah tembok berjejer rapi. Di bagian yang lebih dalam, jalanan beton berubah menjadi jalanan tanah berkerikil dan aspal namun tetap rapi. Ada tiang listrik dengan kabel yang tersambung ke tiap-tiap rumah.

Mosso, Kampung Tapal Batas yang Terancam Dihapus Kota JayapuraJembatan gantung kawat baja di Mosso, disebut Jembatan Putus Hati (Fadhly F Rachman/detikcom)

Ada jembatan kayu yang digantung kawat baja di atas Sungai Mosso, pojok kampung. Jembatan itu memang tak sepenuhnya aman dilalui, namun sudah ada jembatan beton kokoh yang dibangun Pemerintah Daerah tak jauh dari jembatan gantung itu.


Ini semua adalah suasana Kampung Mosso, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Jumat (7/9/2018) siang. Sekilas tak ada bedanya dengan kampung-kampung lain di Indonesia.

Tapi ada satu yang terasa berbeda. Bila kami selaku orang tak dikenal blusukan di perkampungan di Pulau Jawa, barangkali sudah ada yang menanyai kami, "Cari siapa, Mas/Mbak?" Di Kampung Mosso ini, permukiman terasa sepi. Hanya ada sekitar empat anak kecil berlari keluar rumahnya untuk bermain dan satu orang pemuda melintas.

Mosso, Kampung Tapal Batas yang Terancam Dihapus Kota JayapuraSuasana Kampung Mosso (Danu Damarjati/detikcom)

Gerbang SD-SMP Negeri Mosso menyambut langkah kaki menuju bangunan sekolah tanpa murid-murid pada jam 11.00 WIT ini. Tak ada pula orang di Puskesmas Pembantu (Pustu).

Ke mana gerangan para penduduk Kampung ini? Kami jadi teringat kata-kata Wali Kota Tommy yang kami temui beberapa hari sebelumnya, "Mereka hanya menetap di desa itu dari Senin, Selasa, Rabu, dan Kamis. Sedangkan Jumat, Sabtu, Minggu mereka beralih ke negara tetangga PNG (Papua Nugini) di kampung-kampung yang terdekat."

Maklum, ini adalah kampung perbatasan RI-Papua Nugini. Aktivitas lintas negara adalah hal yang lumrah, selumrah orang-orang Jakarta yang punya rumah di Depok, atau orang Sidoarjo yang bekerja di Surabaya, dan selumrah orang yang hidup damai di manapun.


Bendera-bendera Merah Putih dipasang di pinggir jalan permukiman ini, termasuk di dekat gardu pos. Ada tempelan pemberitahuan di gardu ini. Kami dekati, ini adalah pemberitahuan yang diterbitkan Bank of Papua New Guinea, PO Box 121, Port Moresby, NCD. Pemberitahuan ini ditulis menggunakan bahasa Pijin, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia. Isi "Public Notice" ini adalah pemberitahuan bahwa uang Kina Papua Nugini berbahan kertas tak lagi berlaku, sekarang yang berlaku adalah uang Kina berbahan polimer (plastik).

Mosso, Kampung Tapal Batas yang Terancam Dihapus Kota JayapuraTempelan informasi dari Papua Nugini di Kampung Mosso, Indonesia (Danu Damarjati/detikcom)

***

Saat asyik membaca pemberitahuan itu, kami melihat ada penduduk yang masuk ke salah satu rumah. Mereka adalah Sarah (23), Jane (29), dan Otto Alai (46). Sejumlah anak-anak kecil bermain di tepian belakang rumah panggung yang menghadap ke Sungai Mosso, mereka sedang membuka kelapa.

Di antara anggota keluarga yang tinggal di rumah ini, ada yang merupakan warga negara Indonesia dan ada yang warga negara Papua Nugini. Ada yang lahir di Papua Nugini namun warga negara Indonesia. Sarah misalnya.

"Saya lahir di sebelah, di Aitape (Papua Nugini), jauh," kata Sarah.


Namun Sarah sudah lama tinggal di Kampung Mosso ini. Dia tidak punya (Kartu Tanda Penduduk) KTP atau identitas terbitan Papua Nugini namun punya KTP terbitan Indonesia beralamatkan kampung ini. Bahkan dia mengaku punya suami orang Kendari Sulawesi Tenggara, namun suaminya sedang pergi bekerja saat ini.

Mosso, Kampung Tapal Batas yang Terancam Dihapus Kota JayapuraKeluarga Sarah, Jane, dan Otto di rumahnya. (Danu Damarjati/detikcom)

Sebagai masyarakat perbatasan, dia sering mengunjungi sanak familinya di Papua Nugini. Penduduk perbatasan di kawasan Indonesia diperkenankan pihak Imigrasi untuk melintasi perbatasan tanpa paspor melainkan hanya menunjukkan kartu pas lintas batas berwarna merah. Adapun warga perbatasan Papua Nugini juga demikian, mereka bisa melintas ke Indonesia tanpa paspor dan cukup menunjukkan kartu pas lintas batas warna kuning. Kartu merah untuk Indonesia dan kartu kuning untuk Papua Nugini. Apakah Sarah punya kartu merah?

"Terada (tidak ada), hehehe... semua terada," kata Sarah sambil tersenyum di rumah panggungnya ini.


Di sebelah Sarah, ada perempuan yang sedang menggendong bayi. Dia adalah kakak perempuan Sarah bernama Jane. Jane mengaku sebagai orang Indonesia dan punya KTP, namun dia tidak bisa berbahasa Indonesia. Jane berbicara dalam bahasa Pijin. Sarah mencoba membantu kami mengartikan apa yang dikatakan Jane.

"Iya, ada (Jane punya KTP), tapi suami yang pegang. Dia bilang, sini (Indonesia) itu bagus," kata Sarah menerjemahkan kata-kata Jane.

Mosso, Kampung Tapal Batas yang Terancam Dihapus Kota JayapuraJane dan anaknya. (Danu Damarjati/detikcom)

Lain lagi dengan Otto Alai, suami Jane. Dia adalah warga negara Papua Nugini yang lahir di Papua Nugini pula. Dia ada di Kampung Mosso Indonesia untuk bersilaturahmi dengan keluarga istrinya. Otto tidak bisa berbahasa Indonesia, jadi dia memakai Bahasa Inggris untuk berbincang dengan kami.

Dia mengaku tidak punya KTP Indonesia dan hanya punya kartu identitas Papua Nugini. Dia punya kesan yang sangat baik tentang Indonesia.

"Indonesia sangat bagus. Pemerintahannya maju, saya dapat melihat di sini mudah bagi masyarakat untuk mendapatkan, membeli, dan menggunakan kebutuhan yang mereka inginkan," kata Otto.

Kata dia, harga-harga barang lebih murah di Indonesia dibanding di Papua Nugini. Dia memegang kemeja flanel yang tengah saya kenakan. Dia bilang, kemeja seperti ini tak akan mampu dia beli di negera asalnya, namun dia mampu membelinya di Indonesia karena harganya murah.

"Di PNG harganya mahal. Pakaian yang Anda kenakan ini sangat mahal bagi saya untuk membelinya. Tapi di sini, saya bisa membelinya dengan uang yang lebih sedikit," kata Otto.

Mosso, Kampung Tapal Batas yang Terancam Dihapus Kota JayapuraOtto Alai (Danu Damarjati/detikcom)

Saat pertama kami tanya sudah berapa lama dia ada di Indonesia, Otto menjawab dirinya sudah tujuh bulan ada di sini. Namun belakangan usai ngobrol panjang lebar soal kependudukan dan identitas kenegaraan, kami bertanya lagi soal sudah berapa lama dia di Indonesia ini, jawaban dia berubah, dia mengaku berada di Indonesia untuk sebulan, berubah lagi menjadi dua pekan.

Dia mengaku melintas dari Papua Nugini ke Indonesia tanpa menunjukkan kartu pas lintas batas berwarna kuning terbitan Papua Nugini atau kartu identitas lainnya. Sebagai masyarakat yang punya pertalian kekerabatan dan dengan penduduk Kampung Mosso, dia bisa melintasi perbatasan dengan bebas.

"Saya tidak punya kartu. Saya tidak punya kartu kuning. Jadi saya hanya melintasi perbatasan saja ke sini dan mengunjungi keluarga saya, dan saya akan kembali," kata Otto. Saat melewati PLBN Skouw, petani sederhana ini mengaku tak ada petugas yang menanyainya soal identitas saat melintasi batas negara.

***

Kami kemudian berjalan Kantor Kepala Kampung. Ternyata cukup ramai orang di sini karena sedang ada pelatihan kapasitas masyarakat dari pemerintah. Di sisi luar, ada tiga pemuda bernama Abet Foa, Ismail Nutafoa, dan Beto Amsor. Tiga pemuda usia 20 tahun ini mengaku sering menyeberang ke Papua Nugini menggunakan kartu merah.

"Kita pakai kartu lintas batas to, kartu merah," kata Abet.

Masih banyak keluarga Abet Foa yang tinggal di Papua Nugini. Mereka juga sering mengunjungi Kampung Mosso Indonesia ini, caranya menmpang mobil perusahaan kayu sampai PLBN Skouw, menunjukkan kartu kuning terbitan Papua Nugini ke petugas, dan menginap selama sepekan di Kampung Mosso. Ada momen-momen tertentu yang digunakan keluarga dari Papua Nugini untuk berkunjung ke Mosso.

"Macam acara ulang tahun kah, acara 17-an kah (peringatan hari kemerdekaan RI, 17 Agustus)," kata Abet.

Bila Abet hendak ke Papua Nugini, maka dia akan menempuh perjalanan menuju Kampung Nyao selama tiga jam, terdiri dari sejam perjalanan menggunakan mobil lewat jalan aspal menuju Vanimo dan dilanjut dua jam perjalanan kaki menuju Kampung Nyao.

"Ke kampung jalannya karang, kampungnya tengah hutan," kata Abet.

Mosso, Kampung Tapal Batas yang Terancam Dihapus Kota JayapuraAbet Foa, Beto Amsor, dan Ismail Nutafoa. (Danu Damarjati/detikcom)


Dia tahu betul karena dia sendir lahir di Nyao. "Saya lahir di sebelah (Papua Nugini)," kata Abet. Ismail Nutafoa dan Beto Amsor juga mengaku sama dengan Abet, yakni lahir di Papua Nugini dan berkewarganegaraan Indonesia. Mereka mengaku bisa mengucapkan tiga bahasa, yakni Bahasa Indonesia, Bahasa Pijin, dan Bahasa Nyao, meski untuk yang terakhir mereka mengaku tak lancar menggunakannya.

Simak terus kabar dari kawasan terdepan Indonesia di Tapal Batas detikcom.

[Gambas:Video 20detik]




(dnu/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed