DetikNews
Rabu 03 Oktober 2018, 13:41 WIB

Kisah Rahmat, 2 Kali Selamat dari Tsunami Aceh dan Palu

Agus Setyadi - detikNews
Kisah Rahmat, 2 Kali Selamat dari Tsunami Aceh dan Palu Foto: Rahmat (jaket hitam) di Kantor Wali Kota Banda Aceh (Agus-detik)
Banda Aceh - Mata Rahmat Saiful Bahri berkaca-kaca saat tiba di ruangan Wali Kota Banda Aceh. Pria ini sudah 2 kali diterjang tsunami yaitu di Banda Aceh pada tahun 2004 dan di Palu pada beberapa hari lalu.

Rahmat baru saja tiba di Aceh setelah dirinya selamat dari terjangan Tsunami Palu, Sulteng. Dia dipanggil ke Balai Kota Banda Aceh untuk dipeusijuk (tepung tawari).

Kisahnya di Palu bermula ketika, Rahmat yang bertugas di Banda Aceh berangkat ke Sulawesi Tengah pada 27 September lalu untuk mengikuti workshop di Kota Palu. Kegiatan mulai digelar pada esok harinya. Begitu tiba di Palu, Rahmat mencari penginapan.



Di sana, Rahmat menginap di Hotel Swiss Bell yang terletak tak jauh dari pantai. Dia mendapat kamar di lantai tiga. Beberapa saat setelah masuk hotel, gempa pertama mengguncang sekitar pukul 15.00 WITA. Namun ayunan tidak terlalu kencang. Tiga jam berselang, Rahmat dan rombongan diminta bersiap-siap untuk mengikuti kegiatan Festival Pesona Palu Nomoni.

"Pukul 18.00 WITA, saya naik ke lantai 3 dari lantai satu untuk mandi. Tiba-tiba, gempa 7,4 magnitudo mengguncang. Saya ambil pakaian dan turun ke bawah," kata Rahmat kepada wartawan, Rabu (3/10/2018).



Begitu turun, Rahmat melihat gelombang besar mulai menyapu daratan. Berkat pengalaman tsunami di Aceh, Rahmat seketika berlari ke lantai paling atas. Kala itu, di benaknya hanya menyelamatkan diri dengan mencari lokasi paling tinggi.

Bencana dahsyat itu terjadi sekitar sepuluh menit usai gempa mengguncang. Namun setelah air surut, Rahmat kembali turun ke lantai bawah. Saat itu, dia melihat kaca hotel hancur dan lantai satu jebol. Kakinya pun terluka akibat terkena pecahan kaca.

"Di lantai bawah hotel masih ada air selutut. Kami kemudian dievakuasi oleh manajer hotel ke sebuah bukit yang jauh dari pantai," jelas Rahmat.

Rahmat dan tamu hotel lain berada di bukit selama sehari dua malam. Sepanjang perjalanan ke lokasi evakuasi, dia melihat tanah-tanah retak. Mereka sempat ketakutan. Begitu tiba di bukit, beberapa warga di sana memberi mereka makan dan minuman.

Setelah kondisi dipastikan benar-benar aman, Rahmat kembali ke hotel untuk mengambil barang-barang bawaannya. Dia kemudian menuju bandara untuk pulang ke Aceh. Kebetulan, waktu berangkat Rahmat sudah mengantongi tiket pulang.

"Waktu di bandara saya sudah nangis-nangis agar dipulangkan. Sempat ditawarkan naik kapal laut, tapi nggak mau. Akhirnya dapat penerbangan hingga ke Aceh setelah beberapa kali transit," ungkap Rahmat dengan suara serak.

"Saya sudah dua kali kena tsunami. Waktu tsunami Aceh tahun 2004 saya berada di Jeulingke, Banda Aceh dan sempat berenang dalam air kemudian selamat," jelasnya.

Rahmat pun dipeusijuk (tepung tawari) di ruangan Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usman.
(rvk/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed