DetikNews
Selasa 02 Oktober 2018, 22:58 WIB

Tapal Batas

Pelestarian Bahasa Skouw di Tapal Batas Ini Menemui Kendala

Danu Damarjati - detikNews
Pelestarian Bahasa Skouw di Tapal Batas Ini Menemui Kendala Tangfa, rumah adat suku Skouw. Ini adalah tangfa di Skouw Mabo. (Danu Damarjati/detikcom)
Kota Jayapura - Di beranda terdepan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), ada bahasa Skouw yang terancam punah, tergantikan oleh bahasa Indonesia. Di Skouw Mabo, kampung kawasan tapal batas ini, upaya pelestariannya tak mudah.

Mempertahankan bahasa daerah dari kepunahan dipandang perlu. Memasukkan bahasa Skouw ke dalam pelajaran SD menjadi solusi yang tak mudah diwujudkan. Pendidikan tradisional juga tak jalan.


Anak-anak di SD Negeri Inpres Skouw Mabo yang kami temui mengaku tak bisa berbahasa Skouw. Generasi baru ini seolah sudah terasing dari bahasa ibunya sendiri. Bahasa Skouw akan hilang dari sukunya sendiri bila tak ada lagi yang bisa menuturkannya.

Rencana Rp 200 Ribu Per Bulan Guru Bahasa Skouw

Kepala SD Negeri Inpres Skouw Mabo, Wilhelmus Lamere, menjelaskan pihaknya sudah punya rencana untuk merekrut guru honorer untuk mengampu mata pelajaran muatan lokal bahasa Skouw. Guru tersebut adalah staf administrasi SD ini yang baru saja menjadi sarjana pendidikan dasar dari Universitas Cenderawasih. Dia yang asli Skouw punya kemampuan berbahasa kampungnya dan punya ilmu pendidikan pula.

"Karena guru kami di sini kurang, kita akan manfaatkan staf administrasi yang sudah sarjana ini untuk jadi guru honorer," kata Wilhelmus kepada detikcom di SD Skouw Mabo, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Kamis (6/9/2018).

Pelestarian Bahasa Skouw di Tapal Batas Ini Menemui KendalaMurid-murid SD Skouw Mabo (Danu Damarjati/detikcom)

SD yang berjarak sekitar 300 meter dari laut ini punya 104 murid, semuanya adalah anak asli Skouw. Jumlah guru ada enam, terdiri atas tiga guru PNS dan tiga guru honorer.

Rencana perekrutan guru honorer sudah ada, tapi duitnya tidak cukup untuk membayar guru honorer itu. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 8 Tahun 2017 tentang Petunjuk Teknis Bantuan Operasional Sekolah (BOS), dijelaskan bahwa batas maksimum penggunaan BOS untuk membayar honor bulanan guru dan tenaga honorer sebesar 15 persen dari total BOS yang diterima sekolah.

Pelestarian Bahasa Skouw di Tapal Batas Ini Menemui KendalaKepala SD Negeri Inpres Skouw Mabo, Wilhelmus Lamere. (Fahrur Roji/detikcom)

SD Skouw Mabo mendapat dana BOS Rp 88 juta untuk satu tahun. SD ini punya tiga guru honorer. Bila ditambah satu guru lagi, berarti ada empat guru yang harus digaji dari 15 persen duit BOS itu.

Hitung-hitungannya, Rp 88 juta (total dana BOS yang diterima) dikali 15 persen adalah Rp 13.200.000,00. Duit Rp 13,2 juta itu dibagi 12 bulan menjadi Rp 1,1 juta, kemudian dibagi empat orang guru honorer. Maka, bila ada empat guru honorer, tiap guru honorer itu mendapat gaji Rp 275 ribu per bulan. Itu adalah nilai nominal yang kecil untuk bekal bertahan hidup di kawasan pojok Jayapura.

"Mau tidak kalau guru terima sekitar Rp 200 ribu setiap bulan? Kan tidak mungkin. (Rencana itu) masih terbengkalai," kata Wilhelmus.


Karena rencana merekrut guru honorer untuk muatan lokal bahasa Skouw masih belum bisa dijalankan, sekolah ini sementara menginstruksikan guru-gurunya untuk membiasakan murid-murid menyapa dan mengucapkan aktivitas sederhana dalam Bahasa Skouw.

Pendidikan Tradisional Tak Jalan

Ada tangfa di Kampung Skouw Mabo ini. Tangfa adalah rumah adat suku Skouw yang difungsikan sebagai tempat pewarisan nilai-nilai, pengajaran tentang struktur adat, hingga pengetahuan tentang hak ulayat.

Tim Tapal Batas detikcom menemui Ondoafi (kepala adat) Kampung Skouw Mabo bernama Yans Mahil Mallo. Pria 60 tahun ini menjelaskan bahwa tangfa diperuntukkan khusus anggota suku berjenis kelamin laki-laki di atas 15 tahun.

Pelestarian Bahasa Skouw di Tapal Batas Ini Menemui Kendala Ondoafi Skouw Mabo, Yans Mahil Mallo (Danu Damarjati/detikcom)

Selain untuk pendidikan kaum laki-laki Skouw secara nonformal tradisional, tangfa digunakan untuk menggelar acara adat yang besar semacam upacara kematian. Apakah kegiatan pendidikan nonformal di tangfa masih berlangsung?

"Ya acara-acara yang besar saja yang kita bikin. Kalau biasa-biasa, pendidikan sampai hari ini tidak bisa bergerak. (Karena) orang tua juga tidak mau berkumpul untuk bersama-sama. Sulit," kata Yans, yang rumahnya tak jauh dari tangfa.


Bila sistem pendidikan nonformal di tangfa berjalan seperti dahulu kala, pengetahuan tentang bahasa bakal lebih lestari. Meski begitu, penjagaan kelestarian bahasa tak bisa hanya diserahkan kepada satu jenis kelamin saja. Yans menilai peran ibu sangat vital dalam memagari bahasa kampungnya dari kepunahan.

"Seharusnya mama kan lebih banyak mengurusi anak-anak. Seharusnya peran ibu itu yang bisa bicara bahasa (Skouw) terhadap anak-anaknya," kata Yans.

Namun kenyataannya, lidah dan bibir anak-anak kecil Skouw sudah kian sulit saja berkata-kata dalam bahasa kampungnya. Dia menilai ini semua karena adanya perubahan, baik dari sistem pendidikan berbahasa Indonesia, pembangunan jalan yang menyambungkan Skouw dengan Kota Jayapura yang cenderung berbahasa Indonesia, juga arus informasi yang kian mudah diakses. Zaman sudah berubah.

"Anak-anak ini sudah tidak bisa tangkap bahasa ibunya, yakni bahasa kampung. Jadi setiap hari ya pakai bahasa Indonesia," kata Yans.

Yans punya cita-cita, yakni mendirikan sekolah untuk pelestarian bahasa kampungnya. Namun dia mengaku belum ada yang tertarik membantu mendirikan sekolah semacam itu.

Kepala Distrik Muara Tami, Supriyanto, juga mengetahui problem bahasa Skouw yang terancam punah ini. Dia mendorong agar dana desa ikut digunakan untuk pembangunan pengetahuan adat, museum adat, dan mempertahankan bahasa Skouw. Tiap kampung di Muara Tami mendapat dana desa plus 10 persen APBD Provinsi Papua. Tiap kampung paling sedikit menerima Rp 6,5 miliar dan paling banyak Rp 8 miliar untuk satu tahun.

"Dana kampung (desa) sudah besar. Harapan kami mulai tahun depan bisa dianggarkan untuk pembuatan sanggar maupun museum adat itu sendiri," kata Supriyanto saat diwawancarai terpisah.

Kenapa Bahasa Skouw Harus Dilestarikan?

Kini di kalangan generasi muda Skouw, bahasa Indonesia lebih banyak digunakan. Bahasa Indonesia menjadi bahasa pengantar di sekolah dan lebih berguna di dunia kerja.

Bila satu bahasa sudah kehilangan alasan fungsionalnya untuk digunakan, kenapa bahasa itu harus dipertahankan? Bukankah kepunahan dan kelestarian merupakan hukum alam yang niscaya? Bukankah yang kuat bakal menang dan yang lemah bakal tersingkir, termasuk soal bahasa?


Peneliti bahasa-bahasa minoritas dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Imelda, menjelaskan alasan kenapa bahasa Skouw perlu dilestarikan dari ancaman kepunahan.

"Bahasa merupakan kapsul pengetahuan dan sejarah manusia," kata Imelda saat dihubungi detikcom.

Pelestarian Bahasa Skouw di Tapal Batas Ini Menemui KendalaSalah satu imbauan tentang bahasa daerah dan bahasa Indonesia di Distrik Muara Tami. (Danu Damarjati/detikcom)

Tiap bahasa memiliki pengetahuan tertentu dan kandungan ekspresi tertentu yang unik, tidak ditemukan di bahasa yang lainnya. Pengetahuan tiap-tiap kelompok penutur bahasa, termasuk Suku Skouw, perlu dijaga. Pengetahuan yang terkandung dalam bahasa Skouw adalah harta berharga dalam keberagaman.

"Keberagaman bahasa dengan sendirinya akan membentuk masyarakat multilingual," imbuh Imelda.

Bila bahasa Skouw bertahan, masyarakat Skouw akan terus menjadi masyarakat multilingual alias menguasai lebih dari dua bahasa, yakni bahasa Skouw, bahasa Indonesia, dan bahasa Pijin, yang sering digunakan warga Papua Nugini. Imelda menilai masyarakat multilingual lebih baik ketimbang masyarakat monolingual.

"Masyarakat multilingual dikenal fleksibel dan kreatif dalam berpikir," kata Imelda.

Soal bahasa Skouw yang tak relevan bagi kepentingan dunia kerja di kota, yang lebih mengutamakan bahasa Indonesia, Imelda menilai masalah ekonomi tak ada hubungannnya dengan bahasa. Dia mencontohkan sejumlah negara di Afrika yang berbahasa Inggris, bahasa yang sangat fungsional di dunia, juga tak selalu menjadi negara maju. Negara-negara di Eropa yang mempertahankan bahasanya juga bisa menjadi negara maju.

Lebih dari itu, bahasa daerah merupakan identitas yang tak boleh dipisahkan dari penuturnya. "Manusia tanpa identitas hanya jadi seonggok daging dan tulang yang berjalan. Ini soal nilai dan kemanusiaan, faktor yang penting dalam pembangunan manusia Indonesia yang beragam," tandas Imelda.
(dnu/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed