DetikNews
Selasa 02 Oktober 2018, 06:17 WIB

Ironi Detektor Tsunami: Antara Tak Berfungsi dan Hilang Dicuri

Yulida Medistiara, Bagus Prihantoro Nugroho, Trio Hamdani - detikNews
Ironi Detektor Tsunami: Antara Tak Berfungsi dan Hilang Dicuri Buoy rusak yang ditarik ke darat oleh nelayan di Trenggalek pada Maret 2018. Foto: Adhar Muttaqin
Jakarta - Tsunami menerjang wilayah Palu setelah diguncang gempa bumi M 7,4 yang berpusat di Donggala, Sulawesi Tengah. Ironisnya adalah, alat pendeteksi tsunami (buoy) yang dimiliki Indonesia malah dicuri.

"Kita ingatkan masyarakat, tolong jangan buoy-buoy itu dicuri. Jadi banyak itu di Aceh maupun di Palu sehingga early warning (peringatan dini) itu jadi bisa terlambat sampainya," kata Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan di kantornya, Jakarta Pusat, Senin (1/10/2018).



Menurut Luhut, banyaknya korban berjatuhan juga disebabkan oleh orang-orang tak bertanggung jawab yang mencuri buoy tsunami. Sebelumnya Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menyebut alat itu sudah tak lagi dimiliki Indonesia sejak 2012.

"Jadi enggak ada buoy tsunami di Indonesia, sejak 2012 buoy Tsunami sudah tidak ada yang beroperasi sampai sekarang ya tidak ada," Sutopo di kantor BNPB, Jl Pramuka, Jakarta Timur, Minggu (30/9).

Sutopo mengungkap soal anggaran yang jadi salah satu alasan mengapa pengadaan buoy tsunami belum dilakukan. Harga per unitnya, kata Sutopo, pernah mencapai hampir Rp 2 triliun. Tapi harga alat tersebut selalu turun tiap tahunnya.



Pada Maret 2018, sebuah buoy ditarik ke darat oleh para nelayan. Alat itu dalam kondisi rusak dan ditarik ke Pantai Ngadipuro, Kecamatan Munjungan, Trenggalek, Jawa Timur.

"Ada buoy terdampar di Pantai Trenggalek. Aparat masih mengecek instansi pengelola buoy ini. Belum dapat dipastikan apakah ini buoy tsunami atau bagian mercusuar di laut. Yang pasti bukan UFO," kata Sutopo lewat akun twitter-nya waktu itu.

Sementara itu pada tahun 2014, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan Indonesia hanya memiliki 2 buoy. Selebihnya dalam kondisi rusak.

"Yang masih existing sekarang tinggal 2," kata Kepala BMKG saat itu, Andi Eka Sakya dalam konferensi pers di BMKG, Jl Angkasa, Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (24/11/2014).

Para nelayan Trenggalek menarik sebuah buoy yang rusak pada Maret 2018. Para nelayan dan tentara Trenggalek menarik sebuah buoy yang rusak pada Maret 2018. Foto: Adhar Muttaqin


2 Unit buoy yang masih berfungsi tersebut terletak di Lautan Hindia dan di sekitar Mentawai. 7 Unit lainnya masih berada di tengah lautan waktu itu, namun kondisinya rusak sehingga tak dapat memberikan informasi deteksi dini tsunami.

"Kebanyakan kerusakan alat itu karena aksi vandalisme," ucap Andi.

Cara Kerja Buoy

Buoy memiliki peran penting untuk mendeteksi kemungkinan terjadinya tsunami. Pakar geologi Rovicky Dwi Putrohari menjelaskan, buoy berfungsi untuk mengukur ketinggian gelombang.

"Buoy itu alat mengukur ketinggian gelombang. Karena diletakkan dalam koordinat tertentu, tentunya saat ada gelombang naik akan diketahui bawa ada tsunami sedang lewat di lokasi itu. Alat ini ditaruh di tengah laut, sehingga dapat dipakai untuk 'mengkonfirmasi' apakah dugaan dari model akibat adanya gempa ini menimbulkan tsunami atau tidak," papar Rovicky.

Buoy hanya mengamati satu titik saja. Sehingga harus diletakkan di lokasi yang kemungkinan dilewati gelombang tsunami.

"Kalau untuk keperluan early warning di beberapa tempat dalam radius ratusan kilometer," ujar Rovicky.

Dampak Tsunami Palu Bikin Kaget Ilmuwan Dunia

Para ilmuwan dunia menyatakan kekagetan atas dahsyatnya terjangan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah (Sulteng). Mereka menilai gempa yang mengguncang Donggala, Sulteng diperkirakan tidak memicu gelombang menghancurkan seperti yang terjadi di Palu pada Jumat (28/9) lalu.

Kerusakan akibat tsunami di Palu. Kerusakan akibat tsunami di Palu. Foto: DRONE PILOT TEZAR KODONGAN/via REUTERS


"Kami memperkirakan gempa itu mungkin memicu tsunami, tapi tidak sebesar itu," sebut Jason Patton yang merupakan pakar geofisika yang bekerja untuk perusahaan konsultan Temblor dan mengajar pada Humboldt State University di California, Amerika Serikat (AS).

"Ketika peristiwa seperti ini terjadi, kita biasanya mendapati hal-hal yang belum pernah kita amati sebelumnya," imbuh Patton seperti dilansir New York Times, Senin (1/10/2018).

Para pakar tsunami mengatakan, banyaknya jumlah korban tewas mencerminkan kurangnya sistem canggih untuk deteksi dan peringatan tsunami di Indonesia. Saat ini Indonesia diketahui hanya menggunakan seismograf, perlengkapan GPS (global positioning system) dan tide gauge (alat pengukur perubahan ketinggian air laut) untuk mendeteksi tsunami. Profesor pada University of Pittsburgh, Louise Comfort, menyebut peralatan itu memiliki efektivitas yang sangat terbatas.



Simak video Alat Deteksi Tsunami Tak Berfungsi, Ini Kata BMKG

[Gambas:Video 20detik]


(bag/jor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed