DetikNews
Senin 01 Oktober 2018, 19:25 WIB

Orang Skouw yang Lupa-lupa Ingat dengan Bahasa Ibunya

Danu Damarjati - detikNews
Orang Skouw yang Lupa-lupa Ingat dengan Bahasa Ibunya Anak SD Skouw Mabo (Danu Damarjati/detikcom)
Kota Jayapura - Bahasa Skouw dikabarkan terancam punah. Untuk mengetahui bagaimana kondisi kelestarian bahasa Skouw, kami menyambangi permukiman penutur aslinya di kawasan tapal batas Indonesia yang berdekatan dengan Papua Nugini.

Tim Tapal Batas detikcom mengunjungi Kampung Skouw Mabo, Distrik Muara Tami, Kota Jayapura, Provinsi Papua, Kamis (6/9/2018). Dari Kota Jayapura, kami menempuh perjalanan 40 km, sekitar satu setengah jam, ke arah PLBN Skouw.

"Hupalang Ali Luma Ali," begitulah tulisan di satu sisi gapura masuk Kampung Skouw Mabo, dekat pusat Distrik Muara Tami. "Satu Hati Satu Tujuan," demikian terjemahan bahasa Indonesia-nya di gapura sisi satunya.

Orang Skouw yang Lupa-lupa Ingat dengan Bahasa IbunyaGapura Kampung Skouw Mabo (Danu Damarjati/detikcom)

Jalanan Kampung Skouw Mabo berkondisi baik. Jalan beton ini melintasi dua kampung Skouw lainnya, yakni Skouw Yambe di barat dan Skouw Sae di timur.

Anak-anak SD

Pukul 7.30 WIT, anak-anak sekolah mulai berkumpul di SD Negeri Inpres Skouw Mabo. Namun sekolah belum juga dimulai. Sambil menunggu guru-gurunya, anak-anak berseragam merah-putih ini bercanda dalam bahasa Indonesia. Saya mencoba menanyai mereka, apakah generasi masa depan Skouw ini mampu berbicara dengan bahasa kampungnya atau tidak.

"Tidak bisa," kata Epas, siswa kelas III SD. Teman di sebelahnya, bernama Felix, juga tidak bisa berbahasa Skouw.

Di sampingnya, ada Eduar, murid kelas V SD, yang bisa mengucapkan sepotong-dua potong bahasa Skouw. Namun dia merasa bahasa Skouw itu sulit. Karena itu, dia lebih sering memakai Bahasa Indonesia. Bila di rumah, orang tuanya masih sering mengajari dia cara berbicara dalam bahasa Skouw.

Orang Skouw yang Lupa-lupa Ingat dengan Bahasa IbunyaEduar, murid kelas V SDN Inpres Skouw Mabo. (Danu Damarjati/detikcom)

"Mama," jawab dia saat ditanya soal siapa yang mengajarinya bahasa Skouw.

Siswi kelas V bernama Ida juga mengaku memakai bahasa Indonesia untuk bercakap-cakap karena belum bisa berbahasa Skouw. Dia mengaku menerima pengajaran bahasa Skouw dari orang tuanya. Saat dia diberi tahu soal kabar bahasa Skouw terancam punah, dia bereaksi.

"Sedih," kata Ida.

Mereka punya waktu bermain cukup lama karena baru beberapa menit menjelang pukul 10.00 WIT mereka dipersilakan masuk kelas oleh Ibu Guru Ribka Rolo (40), guru honorer asli Skouw Yambe. Dia mengumpulkan murid-muridnya sebelum mempersilakan masuk kelas.

Bu Guru

Murid-murid diinstruksikan Ibu Guru Ribka untuk menyapa pakai bahasa Skouw. "Feta hapa hefe!" seru murid-murid secara serentak ke arah Ribka. Sapaan itu berarti "Selamat pagi!".

Sebagai putri Skouw yang berkecimpung di dunia pendidikan, dia tak terima bila dikatakan kondisi bahasa ibunya terancam punah. Di sekolah ini, dia mengajarkan bahasa Skouw juga meskipun dalam penggalan-penggalan kata yang gampang ditirukan oleh murid-muridnya.

"Di sekolah sini kita salam dengan bahasa kampung (bahasa Skouw), supaya jangan mereka lupa. Kita bersalam 'selamat pagi Pak Guru' dengan 'feta hapa hefe Ai', atau selamat pagi Bu Guru' dengan 'feta hapa hefe Ani'," tutur Ribka.

Orang Skouw yang Lupa-lupa Ingat dengan Bahasa IbunyaIbu Guru Ribka Rolo mengajari murid-muridnya menyapa dalam bahasa Skouw. (Danu/detikcom)

Ribka sendiri juga terkadang berusaha mengajarkan bahasa Skouw kepada anak kandungnya di rumah, tapi hanya versi yang gampang-gampang saja, bukan kalimat penuh. Soalnya, Ribka sendiri sebenarnya juga belum fasih betul berbicara Bahasa Skouw.

"Kalau orang tua saya masih (bisa bahasa Skouw). Mulai angkatan kita ini kadang-kadang sudah lupa-lupa. Yang gampang-gampang saja yang kita tahu, seperti air, makanan, makan pinang, dan sirih kita minta pakai bahasa kampung," tuturnya.

Beberapa orang yang kami temui di sini menilai bahasa Skouw sama sulitnya dengan bahasa Inggris. Mereka seperti menjadi asing terhadap bahasa ibunya sendiri. Bahasa kampung ini memiliki jumlah pelafalan yang lebih banyak daripada yang ada di bahasa Indonesia, memiliki sinonim kata membingungkan bagi orang yang tak mahir, dan salah pengucapan bisa berubah jadi makian.

Ribka tak ingin kepunahan bahasa Skouw benar-benar terjadi. Maka dia mewariskan bahasa yang dia tahu kepada murid-murid SD ini.

"Aduuh... nanti generasi kita ke depan tidak tahu bahasa (Skouw) kalau punah. Jadi kita harus kasih ajar mereka yang gampang-gampang saja, supaya jangan hilang to. Kalau orang tua kita sudah meninggal, itu sudah hilang sudah. Di rumah, orang tua bilang tolong kasih lanjutkan bahasa Skouw, yang gampang-gampang saja, supaya jangan hilang bahasa," tutur Ribka.

Mama Set, Ibu 4 Anak

Kami meninggalkan SD Skouw Mabo untuk melangkah ke pasar kampung. Ada Mama Set (48) yang bersedia menuturkan soal keprihatinannya terhadap kelestarian bahasa kampungnya. Anak-anak hanya mengerti sedikit saja bahasa Skouw namun mengalami kesulitan mengucapkannya kembali.

"Bahasa itu penting. Anak-anak sekarang kalau tidak diajar bahasa (Skouw) lalu bagaimana anak-anak ini? Ngomong saja sudah tidak bisa," kata Set.

Set punya empat anak. Anak-anaknya sendiri juga terkadang tak mengerti bila dia mengajak berbicara dalam bahasa Skouw. Anak-anaknya terbiasa dengan bahasa Indonesia. Soal kemampuan berbahasa, Set sendiri sebenarnya juga kesulitan saat ditanya bagaimana terjemahan 'aku cinta Bahasa Skouw' dalam bahasa Skouw.

Orang Skouw yang Lupa-lupa Ingat dengan Bahasa IbunyaMama Set di Skouw Mabo. (Danu Damarjati/detikcom)

"Saya cinta bahasa Skouw... (terdiam sejenak sambil berpikir). 'Ni pilangine...' Kalau 'cinta' itu apa ya... agak susah," kata Set.

Kaum ibu adalah faktor yang sangat vital dalam hidup-mati sebuah bahasa. Seorang manusia tumbuh dan belajar lebih dulu dari ibunya ketimbang ayah, yang lebih banyak menghabiskan waktu mencari nafkah di luar rumah.

Kepala Adat (Ondoafi)

Soal peran ibu dalam pelestarian bahasa, kami menemui Ondoafi (kepala adat) Skouw Mabo, Yans Mahil Mallo (60) untuk bertanya lebih jauh.

"Ya. Seharusnya mama kan lebih banyak mengurusi anak-anak. Seharusnya peran ibu itu yang bisa bicara bahasa (Skouw) terhadap anak-anaknya," kata Yans di rumahnya.

Sambil mengunyah sirih pinang, dia berbicara tentang keprihatinan soal generasi muda yang tak mampu lagi casciscus berbahasa kampung. Sebagian anak muda bisa mengerti, tapi tak bisa berbicara bahasa Skouw alias pasif. Sebagian lainnya tak mengerti dan tak bisa berbicara dalam bahasa Skouw.

Orang Skouw yang Lupa-lupa Ingat dengan Bahasa IbunyaOndoafi Skouw Mabo, Yans Mahil Mallo. (Danu Damarjati/detikcom)

Bahasa Skouw perlu dilestarikan karena segala kearifan suku terwariskan lewat bahasa, mulai sopan santun hingga masalah pengenalan terhadap benda-benda yang erat kaitannya dengan kehidupan orang Skouw. Lebih dari itu, bahasa adalah identitas manusia itu sendiri.

"Itu adalah jati diri. Saya orang Skouw, maka berbicara bahasa Skouw," kata Yans.
(dnu/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed