DetikNews
Jumat 14 September 2018, 13:26 WIB

Indonesia Berbagi Pengalaman Soal Perempuan dalam Politik di Lebanon

Noval Dhwinuari Antony - detikNews
Indonesia Berbagi Pengalaman Soal Perempuan dalam Politik di Lebanon Foto: KBRI Beirut menggelar seminar bertema 'Peran Perempuan dalam Politik, di Aula Gamal Abdel Nasser, Beirut Arab University. (dok. Istimewa)
Jakarta - Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Beirut, Lebanon, berbagi pengalaman terkait peran perempuan di Tanah Air dalam politik, kepada warga Lebanon. Sosok perempuan yang lembut dan penuh kasih dinilai dapat membuat politik menjadi lebih ramah.

KBRI Beirut bekerjasama dengan Beirut Arab University, menggelar seminar bertema 'Peran Perempuan dalam Politik, di Aula Gamal Abdel Nasser, Beirut Arab University, Kamis (13/9/2018). Seminar menghadirkan politisi perempuan Indonesia dari Anggota DPR RI Fraksi PPP, Lena Maryana Mukti dan Anggota Parlemen Lebanon dari unsur Independen, Paula Yakubian.

Indonesia Berbagi Pengalaman Soal Perempuan dalam Politik di LebanonFoto: KBRI Beirut menggelar seminar bertema 'Peran Perempuan dalam Politik, di Aula Gamal Abdel Nasser, Beirut Arab University. (dok. Istimewa)
Seminar juga dihadiri para pemerhati pemberdayaan kaum perempuan dari berbagai jenis profesi, kalangan akademisi, peneliti dan mahasiswa, serta perwakilan dari Kedutaan Asing yang berada di Lebanon.

"Wanita sesuai kodratnya memiliki watak yang lembut, halus dan penuh perasaan, maka tentunya hal ini sangat positif untuk menjadikan politik menjadi ramah, santun dan beradab. Di sinilah salah satu faktor pentingnya keterlibatan wanita dan politik," ujar Duta Besar RI untuk Lebanon, Achmad Chozin Chumaidy dalam sambutannya.

Menurut Chozin, dengan watak wanita yang lembut, halus, dan penuh perasaan, maka peran wanita sangat penting di tengah nuansa politik yang akhir-akhir ini sering diwarnai dengan kekerasan. Perbedaan pandangan politik sering mengakibatkan konflik yang tanpa akhir bahkan sering menimbulkan perang menggunakan senjata.

"Kondisi semacam ini sungguh tidak mendorong untuk menciptakan dunia yang damai dan aman sebagaimana kita cita-citakan bersama," tuturnya.


Chozin melanjutkan, Indonesia merupakan negara yang sangat ramah dalam menerima kehadiran perempuan dalam berpolitik. Kehadiran perempuan dalam politik sudah dimulai sejak Indonesia merebut kemerdekaan dari penjajah. Beberapa perempuan Indonesia di masa lalu bahkan ikut memimpin perjuangan melawan penjajah.

"Jadi keterlibatan wanita dalam politik sekarang, pada hakikatnya adalah meneruskan sejarah perjuangan kaum wanita untuk turut bertanggung jawab dalam mengisi kemerdekaan. Kedua faktor Agama, Indonesia dengan mayoritas penduduk beragama Islam, melihat tidak ada hambatan ideologis bagi wanita untuk ikut aktif dalam politik," jelas Chozin.

"Seminar ini diselenggarakan dalam rangka melakukan sharing best practices Indonesia dalam berdemokrasi dan dalam memberikan ruang yang cukup luas bagi kaum perempuan dalam kancah perpolitikan nasional. Dalam hal ini Lebanon diharapkan dapat menjadikannya sebagai model dalam meningkatkan peran perempuan dalam kancah perpolitkan nasionalnya," lanjut Chozin.

Sementara itu, politisi PPP Lena Maryana Mukti memaparkan jumlah keterwakilan perempuan Indonesia dalam kursi parlemen dari tahun ke tahun. Lena menyebutkan, pada tahun 1999 jumlah perwakilan perempuan di DPR RI adalah 45 perempuan, atau 9% dari 500 anggota. Pada tahun 2004 mencapai 61 perempuan, atau 11,09% dari 550 anggota. Dan pada 2009 perempuan yang terpilih adalah 101 perempuan atau 17,86% dari 560 anggota DPR RI.

"Namun, prestasi ini kalah dengan hasil pemilu 2014. Jumlah representasi perempuan menurun menjadi 97 perempuan. Pada Pemilihan Umum 2019 Mendatang, kami berjuang untuk memotivasi perempuan untuk mencalonkan diri dalam Pemilu," kata Lena.

Indonesia Berbagi Pengalaman Soal Perempuan dalam Politik di LebanonFoto: Anggota DPR RI Fraksi PPP, Lena Maryana Mukti dalam seminar 'Peran Perempuan dalam Politik, di Aula Gamal Abdel Nasser, Beirut Arab University. (dok. Istimewa)
Gerakan perempuan di Indonesia diungkapkan Lena, juga ikut mendorong partai politik agar mengakomodasi kebijakan kuota perempuan di Parlemen. Hal ini karena jumlah perempuan di Indonesia mencapai 49 persen.

"Kami percaya, bahwa demokrasi tanpa keterlibatan dan partisipasi perempuan akan defisit," tegas Lena.


Peran penting perempuan dalam politik juga disampaikan anggota Parlemen dari unsur independen Paula Yakubian. Menurutnya peran perempuan sangat penting dalam pengambilan kebijakan dan keputusan. Namun Ia menyayangkan sedikitnya keterlibatan perempuan dalam politik dan jabatan publik di Lebanon.

"Kita sepatutnya melihat ke Indonesia bagaimaan perjuangan perempuan untuk ikut terlibat dalam Pemilu. Yang saat ini, Perempuan di Indonesia telah mendapat kuota maksimum untuk mendapat kesempatan menjadi aggota Parlemen dan menduduki jabatan publik," jelas Paula.


Simak Juga 'Tempat Berlindung Korban Konflik Suriah di Lebanon':

[Gambas:Video 20detik]


(nvl/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed