detikNews
Rabu 12 September 2018, 13:42 WIB

Ada Wacana Ganjil-Genap Juga Berlaku untuk Motor

Muhammad Idris - detikNews
Ada Wacana Ganjil-Genap Juga Berlaku untuk Motor Foto: Pradita Utama/detikcom
Jakarta - Bagi warga Jakarta, mungkin jamak merasakan jalanan Jakarta dalam sebulan terakhir ini dirasakan lebih lancar dibanding waktu-waktu sebelumnya. Pembatasan kendaraan lewat ganjil-genap pelat nomor kendaraan sejak gelaran Asian Games jadi penyumbang terbesar pengurangan kemacetan di jalanan Ibu Kota.

Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Kementerian Perhubungan Bambang Prihartono mengungkapkan pihaknya masih menggodok apakah kebijakan tersebut perlu dipermanenkan atau tidak. Selain itu, dia kerap menerima masukan agar ganjil-genap diperluas tak hanya untuk mobil, tapi juga berlaku untuk roda dua.

"Isu (pembatasan) motor itu bukan karena kemacetan, tapi lebih karena keselamatan. Kecelakaan roda dua itu menyumbang 60-70 persen, itu luar biasa sekali. Makanya kita coba atur," kata Bambang di acara Forum Perhubungan 'Plus Minus Ganjil Genap Asian Games 2018', Jakarta, Rabu (12/9/2018).


Kendati demikian, sambungnya, kewenangan payung hukum pembatasan roda dua lewat ganjil-genap ada di pemda. Kajian-kajian hitung-hitungan dampak positif dan negatifnya terus dilakukan.

"Wacana (pembatasan) itu sudah ada, kami sudah ada masterplan-nya. Tapi kewenangan ada di pemda," ungkap Bambang.

Dia mengaku banyak aspirasi dari masyarakat agar pembatasan kendaraan dengan nomor polisi ini bisa juga diterapkan pada motor.

"Kemarin saya kecapekan, terus mampir di warung soto ayam. Penjualnya lirikan saya terus, pas dia samperin, dia bilang, 'Bapak ya yang sering nongol di televisi ngomong ganjil-genap?' Dia minta tolong, 'Pak, tolong dong motor diatur juga, saya naik motor, tapi ingin diatur juga,'" ucap Bambang menirukan percakapannya dengan penjual soto yang seorang pengendara motor tersebut.


Sementara itu, Direktur Lalu Lintas Polda Metro Jaya Kombes Yusuf menjelaskan ganjil-genap dirasa cukup efektif mengurangi kemacetan di jalan raya. Dikatakannya, wacana perluasan ganjil-genap di jalan-jalan arteri lainnya juga masih dipertimbangkan.

"Orang tanya, Pak Dirlantas, kenapa ganjil-genap nggak dilaksanakan di semua jalan saja? Saya sampaikan ke Pak Andre (Kadishub DKI Jakarta), ya maunya seperti itu, tapi sarana transportasi belum memadai. Jadi, kalau melaksanakan tindakan, harus ada solusinya. Kalau nggak boleh lewat sana, pakai (angkutan) apa? Jangan kebijakan malah jadi blunder buat kita," pungkas Yusuf.
(idr/ega)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed