DetikNews
Senin 13 Agustus 2018, 19:53 WIB

Laporan Dari Mekah

Pengawas Haji Sepakat dengan Menag Soal Penambahan Kuota Jemaah

Fajar Pratama - detikNews
Pengawas Haji Sepakat dengan Menag Soal Penambahan Kuota Jemaah Foto: Ketua KPHI Muhammad Samidin Nasyir. (Fajar Pratama-detikcom)
Jakarta - Antrean belasan tahun untuk calon jemaah haji memunculkan tuntutan agar kuota haji Indonesia bisa ditambah. Terkait hal ini, Komisi Pengawas Haji Indonesia (KPHI) punya pandangan yang sama dengan Menag Lukman Hakim Saifuddin.

KPHI menilai hal prioritas adalah penambahan fasilitas untuk jemaah terutama di Mina. Apabila tidak ada penambahan fasilitas, maka tidak memungkinkan ada penambahan jemaah haji.

"Kalau menurut kami itu, penambahan kuota itu dihadapkan dengan fasilitas yang tersedia di Mina sekarang ini, belum. Belum memungkinkan ditambah. Kasihan jemaah," ujar Ketua KPHI Muhammad Samidin Nasyir di kantor Daker Mekah, Syisyah, Senin (13/8/2018).


Samidin mengatakan dua tahun lalu, KPHI telah memberikan rekomendasi agar Pemerintah Arab Saudi membangun kemah bertingkat di Mina. Dengan begitu space untuk jemaah bisa ditambah, tidak memaksakan lahan sempit yang ada di Mina sekarang.

"Rekomendasi yang sudah kami sampaikan 2 tahun lalu itu agar tenda Mina itu ditingkat. Baru bisa. Kalau nggak kasihan jemaah," tutur Samidin.

"Kalau kemah bertingkat itu kan artinya bukan hanya ruangannya tapi fasilitas pendukungnya lengkap, termasuk toilet. Kalau Anda lihat sekarang, kan antrean di mina panjang banget itu," sambungnya.


Arafah, Muzdalifah dan Mina terikat aturan syar'i mengenai batas wilayah. Perluasan secara horizontal tidak memungkinkan, sehingga memunculkan usulan untuk membuat kemah bertingkat. Arafah yang berupa padang menghampar masih memiliki area yang cukup untuk menampung jemaah dalam satu waktu. Begitu juga dengan Muzdalifah yang hanya digunakan untuk transit beberapa jam.

Dalam kesempatan sebelumnya, Lukman juga menyatakan pandangan serupa. Oleh karena itu, prioritas tuntutan Indonesia ke Saudi adalah peningkatan fasilitas dan ruang jemaah selama berada di Mina. Jika itu sudah dilakukan baru menyusul penambahan kuota.

"Sejak tiga tahun lalu, kita sudah minta ke Arab Saudi, persoalan yang perlu ditangani itu ada di Mina. Perlu ditambah fasilitas di sana. Dan juga perlu penambahan space untuk penambahan jemaah. Karena di Mina terikat ketentuan syar'i, tidak bisa diperlebar. Jika space tak ditambah maka penambahan jemaah tidak memungkinkan," tutur Menag Lukman Hakim Saifuddin dalam acara Pembekalan Petugas Media Center Haji 2018 di Kemenag, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat awal Juli lalu.

Lukman mengatakan puncak kelelahan jemaah haji akan berada di Mina. Oleh karena itu, jumlah fasilitas umum berupa toilet harus memadai. Apalabila fasilitas tak dibenahi dan kuota ditambah, maka jemaah menderita selama di Mina.

"Maka kami ingin pemerintah Saudi Arabia merealisasikan ini. Puncak kelelahan itu ada di Arafah dan Mina. Apalagi mereka harus menempuh jamarat yang berkilo-kilo. Ketika di Mekah dan Madinah mereka tingal di hotel setara bintang 3. Tapi di Arafah dan Mina mereka harus tinggal di tenda. Suhu udaranya juga jauh lebih panas daripada di tanah air. Fasilitas terbatas. Di situlah kita harus lebih konsentrasi bagaimana kita berikan pelayanan yang bisa lebih baik. Di saat kuota kita bertambah jadi 221 ribu. Ternyata fasilitas di Mina tidak ditambah. Ini menjadi persoalan tersendiri. Fasilitas yang vital adalah toilet," tutur Lukman.
(fjp/idh)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed