DetikNews
Jumat 27 Juli 2018, 18:06 WIB

Tentang Kudatuli yang Bikin PDIP-PD Makin Tegang Jelang 2019

Rina Atriana, Gibran Maulana Ibrahim, Samsudhuha Wildansyah - detikNews
Tentang Kudatuli yang Bikin PDIP-PD Makin Tegang Jelang 2019 Foto ilustrasi: SBY dan Megawati (Anung Anindito/detikcom)
Jakarta - Peristiwa Kudatuli bikin hubungan PDIP-Demokrat makin tegang jelang Pemilu 2019. PDIP menyambangi Komnas HAM dan meminta Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) bersaksi tentang Kudatuli. Ingatan 22 tahun lalu hendak dibuka kembali.

Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto, Ketua DPP PDIP Trimedya Pandjaitan, dan anggota Komisi III Fraksi PDIP Junimart Girsang menyambangi Komnas HAM pada Kamis (26/7/2018) kemarin, guna mendorong Komnas HAM menuntaskan peristiwa Kudatuli. Partai Demokrat menilai itu adalah aksi politik usang PDIP memanfaatkan peristiwa sejarah untuk mengalahkan SBY.

"Laporan itu adalah upaya politik yang sudah kesiangan. Tapi memanfaatkan kasus 27 Juli adalah ritual politik PDIP sejak Pak SBY mengalahkan Ibu Megawati dalam Pemilu 2004," ucap Wasekjen PD Rachland Nashidik, Jumat (27/7/2018).


Jika tragedi Kudatuli atau perebutan paksa kantor PDI kala itu ingin serius diungkap, Rachland menyebut Megawati sebenarnya punya kesempatan melakukannya ketika menjabat presiden 2001. Mega disebut Rachland dapat menggunakan pengaruh untuk membuka jalan bagi investigasi, seperti kuat didesak masyarakat. Sayang, kata Rachland, Mega memilih diam dan bahkan mengangkat Sutiyoso, Pangdam Jaya, saat kejadian menjadi Gubernur DKI Jakarta.

PDIP menjawab. "Merujuk pada tim TGPF Komnas HAM, maka Pak SBY yang bisa buka kebenaran soal TGPF Kudatuli saat itu," ujar Sekretaris Badan Pendidikan dan Pelatihan DPP PDIP Eva Kusuma Sundari,

"Bu Mega, meski kekuasaan di tangan sebagai kepala pemerintahan dan kepala negara, dia tidak sewenang-wenang untuk menggunakan kekuasaan. Dia menempuh jalan hukum saat dia jadi presiden. Pahit, ternyata hasil pengadilan tidak sampai di master mind," sambungnya.


Kudatuli adalah akronim dari 'Kerusuhan 27 Juli', peristiwa berdarah yang terjadi pada 1996 lampau. Peristiwa beraroma dualisme kepengurusan parpol itu dikenal pula sebagai peristiwa Sabtu Kelabu.

Saat itu, kader PDI pro-Mega diserbu ratusan orang yang disebut-sebut sebagai kader PDIP pro-Soerjadi. Komnas HAM pernah menyelidiki peristiwa politik berdarah itu dan menyimpulkan ada 5 korban meninggal dunia, 149 orang luka-luka, serta 136 orang ditahan dalam peristiwa itu. Peristiwa tersebut menjadi titik penting lahirnya PDI Perjuangan.

Sebagaimana pernah diberitakan detikcom, peristiwa itu diawali dengan terlihatnya mobil polisi mondar-mandir di depan Gedung PDI, Jl Diponegoro 58, Jakarta Pusat, pada Sabtu 27 Juli 1996 pukul 03.00 WIB dini hari. Beranjak subuh, terlihat rombongan orang berbaju PDI warna merah mulai mendatangi gedung.


Pagi hari pukul 06.15, massa pro Mega yang tengah berjaga tak kuasa menahan diri dan melemparkan batu ke arah rombongan baju merah tadi. Bentrokan tak terhindarkan, bahkan rombongan baju merah diketahui membakar spanduk-spanduk yang terpasang di pagar kantor. Korban mulai berjatuhan saat kontak fisik akhirnya terjadi. Suasana semakin mencekam.

Sekitar tiga jam kemudian, di samping kantor PDI, terlihat bentrokan antara ABRI dengan warga yang diduga bukan simpatisan PDI. Ambulans tiba di lokasi dan mencoba menerobos kerumunan. Massa yang berada di depan Gedung Bioskop Megaria (kini Metropole XXI) berteriak-teriak, "Mega pasti menang, pasti menang, pasti menang." Wartawan dihalau pasukan antihuru-hara menuju depan Bank BII.

Asap hitam mengepul dari kantor PDI. Megawati sempat mengatakan bahwa saat itu terjadi pembakaran terhadap arsip-arsip yang berada di dalam kantor.

Jelang pukul 10.00 WIB, Jalan Diponegoro mulai dibersihkan dari batu-batu dan bekas pembakaran. Namun pukul 11.30 WIB, massa terus bertambah. Mereka mulai merangsek maju.

Terjadi pelemparan batu ke arah aparat. Muncul mimbar untuk menyuarakan dukungan terhadap Megawati dan mengecam aparat berseragam loreng.

Sekitar 45 menit lewat tengah hari, lima orang perwakilan massa diajak masuk ke kantor PDI untuk melihat situasi ditemani pihak keamanan. Perwakilan massa kembali ke luar kantor PDI. Salah seorang kemudian naik mobil komando dan menjelaskan apa yang ia temukan di dalam kantor. Hanya saja, belum banyak hal dijelaskan, tiba-tiba ada batu melayang mengenai utusan tersebut yang membuat ceritanya harus dihentikan saat itu juga.

Kerusuhan terus berlanjut. Polisi dan tentara merangsek maju. Para aparat itu mengejar massa hingga depan RSCM. Sesekali massa dipukul dengan rotan.

Pukul 15.00 WIB sore hari, massa membakar sebuah bus tingkat dan bus PPD di depan RSCM. Di Matraman, massa membakar beberapa gedung. Tembakan aparat membuat massa tercerai berai. Asap hitam membumbung dari gedung yang terbakar. Kerusuhan baru selesai sekitar Minggu (28/7/1996) dini hari.



(imk/)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed