DetikNews
Kamis 12 Juli 2018, 13:19 WIB

Kisah Susi, Antara Sindiran Fahri dan Bursa Cawapres untuk Jokowi

Zunita Amalia Putri, Indah Mutiara Kami - detikNews
Kisah Susi, Antara Sindiran Fahri dan Bursa Cawapres untuk Jokowi Susi Pudjiastuti (Foto: dok. Garuda Indonesia)
Jakarta - Susi Pudjiastuti kembali jadi perbincangan akhir-akhir ini. Kali ini bukan karena aksinya meledakkan kapal pencuri ikan. Nama Susi jadi pembahasan karena masuk bursa cawapres Joko Widodo. Belakangan, dia disindir Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah mengenai kebijakannya.

Menteri Kelautan dan Perikanan itu kerap menarik perhatian publik. Terbaru, dia mendapat sentilan dari Fahri Hamzah di tengah namanya yang kini masuk bursa cawapres.

Susi Pudjiastuti dianggap ideal menjadi cawapres bagi Joko Widodo pada Pilpres 2019 versi survei LSI Denny JA. Namun kini Menteri Kelautan dan Perikanan itu kini diterpa isu soal illegal fishing lewat sindiran Fahri Hamzah.


Tonton juga 'Ke Banggai Laut, Susi Ajak Nelayan Hindari Destructive Fishing':

[Gambas:Video 20detik]

Susi menjadi salah satu kandidat yang cawapres ideal untuk Jokowi dari kategori profesional yang mampu menimbulkan ekonomi masyarakat. Susi berada di urutan kedua, setelah Menteri Keuangan Sri Mulyani.

"Cawapres ideal menurut publik untuk Pak Jokowi kategori tumbuhkan ekonomi. Posisi pertama adalah Sri Mulyani, dengan angka 32,5 persen. Kemudian disusul Susi Pudjiastuti, di angka 24,5 persen," kata peneliti LSI Denny JA, Adjie Alfaraby, di kantornya, Rawamangun, Jakarta Timur, Selasa (10/7/2018).

Survei tersebut dilakukan pada 28 Juni hingga 5 Juli 2018 terhadap 1.200 responden dengan wawancara tatap muka. Metode yang digunakan adalah multistage random sampling dilengkapi FGD atau focus group discussion dan analisis media serta in depth interview. Margin of error survei tersebut +/- 2,9 persen.

Berselang dua hari, nama Susi pun kembali ramai dibicarakan. Ia 'menyemprot' Fahri Hamzah di jagat Twitter. Wakil Ketua DPR itu mempertanyakan pernyataan Susi soal 'pemberantasan illegal fishing adalah langkah awal'.


Fahri me-retweet berita Antara berjudul 'Menteri Susi tegaskan pemberantasan pencurian ikan baru langkah awal'. Dia mempertanyakan mengapa kinerja selama 5 tahun baru menjadi langkah awal.

"Dikasih waktu 5 tahun dijadikan langkah awal...seharusnya 5 tahun dipakai selesaikan kerjaan. Baru bertanggungjawab atas amanah namanya...kalau 5 tahun lagi kan belum tentu terpilih...😃😃," tulis Fahri.

Tak terima, Susi membalas twit Fahri. Dia meminta Fahri tak hanya membaca berita sepotong-sepotong saja.

"Sebaiknya baca seluruh statemen saya. Jangan dipotong separuh separuh. Akhirnya seolah seperti yang anda pikir. Naif !!!" tulis Susi melalui akun Twitter-nya.


Jawaban Susi lalu dibalas kembali oleh Fahri. Dia mengaku memberikan komentar setelah membaca utuh berita yang dimaksud. Lalu Fahri juga kembali menuliskan posting soal Susi. Dia memaparkan kesalahan Susi hingga memuji 'gaya jenggo' dari menteri yang nyentrik itu.

"Ibu Susi yang terhormat, negara ini besar, perlu pikiran besar. Tapi bangsa ini juga punya kultur, sering terpukau sama orang terkenal. Itulah yang saya lihat sehingga kesalahan ibu nggak ada yang berani cegah. Ketemu lagi presiden yang nggak paham persoalan. Sempurna!" kata Fahri lewat Twitter, Kamis (12/7/2018).

"Ditambah lagi, gaya jenggo Ibu Susi memang langka (saya dalam banyak hal setuju). Tetapi, kita tetap harus benar, tidak melanggar hukum dan terbuka menerima kritik dan saran," tambah dia.


Dalam posting-nya yang cukup panjang itu, Fahri mengkritisi sejumlah kebijakan Susi. Lewat kebijakan Susi, para nelayan disebutnya kini makin susah. Dia pun menuding ada keinginan kaum kapitalis global agar Indonesia membersihkan lautnya dengan membatasi rakyat.

"Ibu boleh punya alasan konservasi, dan lain-lain sampai ibu dipuji dunia. Seperti sudah ibu nikmati. Hebatlah. Tugas ibu bukan menegakkan hukum. Saya sudah baca UU yang sekarang ibu mau ubah. Memang nggak ada dan tidak boleh. Konsep poros maritim itu bukan menyulap menteri kelautan menjadi penegak hukum. Kenapa ibu mengambil pekerjaan polisi dan tentara?" beber Fahri.

Bukan hanya itu, Fahri juga menyoroti kebijakan penenggelaman kapal pencuri ikan yang dilakukan Susi. Dia pun mengaku punya kesamaan dengan Susi yaitu tidak suka basa-basi. Itulah penyebab dia blak-blakan mengkritik Susi.

"Teori ibu tentang bertambahnya jumlah ikan setelah pertunjukan 'ngebom' itu bohong. Nggak usah hitung kepala ikan di laut yang luasnya 75% bumi dan 75% nusantara. Hitung jumlah kepala orang miskin saja kita nggak sanggup. Poros maritim Jokowi jadi nggak jelas. Di laut kita binasa," ucap Susi.

Susi belum membalas lagi 'serangan' terbaru dari Fahri Hamzah.

Kisah Susi, Antara Sindiran Fahri dan Bursa Cawapres untuk Jokowi

(elz/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed