DetikNews
Kamis 05 Juli 2018, 06:30 WIB

Jokowi-Anies, Mungkinkah?

Marlinda Oktavia Erwanti, Danu Damarjati - detikNews
Jokowi-Anies, Mungkinkah? Foto ilustrasi: Anies (kemeja putih) dan Jokowi (kemeja kotak-kotak) saat pendaftaran Pilpres 2014 lampau. (Mei Amelia Rahmat/detikcom)
Jakarta - Muncul tafsir politik terkait momen Anies Baswedan semobil dengan Jusuf Kalla (JK). Peristiwa itu dimaknai sebagai pertanda munculnya duet Jokowi-Anies di Pilpres 2019. Mungkinkah?

Tafsir politik ini diembuskan oleh politikus PKS Nasir Djamil. JK dipandang sebagai pencetak pemimpin alias 'king maker' yang sedang membangun komunikasi dan peluang politik.

"Jokowi minta sama JK untuk dapat melobi Anies untuk bersama dia nanti di Pilpres. Kan bisa jadi seperti itu," duga Nasir di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (4/7/2018).


Bahkan Nasir menduga aksi politik JK itu atas perintah Presiden Jokowi sendiri. Sebenarnya dugaan semacam ini juga sempat diutarakan pihak partai pendukung pemerintahan Jokowi, yakni Partai NasDem.

"Nah itu kan pasti ada sinyal-sinyal dari Pak Jokowi juga untuk menjaga agar relasi dan iklim politik kita ini terjaga dengan baik," ujar Sekjen Partai NasDem Johnny G Plate di gedung DPR RI.

Namun berbeda dengan Nasir dari PKS, tafsir Johnny dari NasDem tak mengaitkan peristiwa semobilnya JK dan Anies dengan Pilpres 2019. Johnny menduga Jokowi meminta JK untuk membina komunikasi yang baik dengan Anies, supaya relasi pemerintahan tetap terjaga.


Peneliti Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Arya Fernandes ragu melihat peluang terwujudnya duet Jokowi-Anies di Pilpres 2019. Keraguan Arya didasari penilaiannya terhadap perbedaan atmosfer yang melingkupi Jokowi maupun Anies.

Tak bisa dimungkiri, kata dia, perkubuan pada Pilgub DKI 2014 tetap memengaruhi politik di tahun ini dan bahkan 2019 nanti. Saat itu, kubu pendukung Anies berhadap-hadapan dengan kubu pendukung Ahok, persaingan sangat panas.

"Dan partai-partai pendukung Ahok kemungkinan besar juga mendukung Jokowi," kata Arya kepada detikcom.


Maka tafsir politik yang memunculkan wacana duet Jokowi-Anies bakal ditentang keras oleh pendukung Jokowi sendiri. Jokowi dinilai bakal lebih memprioritaskan cawapres dari kalangan parpol pendukungnya. Kalaupun terpaksa harus mencari sosok non-parpol, bukanlah Anies yang akan menjadi pilihan Jokowi. Soalnya itu tadi, parpol-parpol pendukung bakal tidak terima.

"Susah membuat duet Jokowi-Anies terjadi," kata Arya.

Soal peristiwa semobilnya JK dengan Anies, Arya melihat itu adalah bagian dari manuver JK. Tujuannya untuk membuka peluang negosiasi Partai Demokrat dengan Partai Gerindra, lebih spesifiknya Prabowo Subianto. Anies beranjak kian 'seksi' di mata publik dan terafiliasi dengan kekuatan yang selama ini terkesan sebagai 'bukan pendukung Jokowi'. Komunikasi yang baik dengan pihak yang 'bukan pendukung Jokowi' bakal menguntungkan Jokowi di Pilpres 2019.



Bila saja benar bahwa manuver JK untuk mewujudkan duet Jokowi-Anies, Arya memandang duet itu sulit terwujud. Bukan hanya sulit terwujud, namun juga sangat berisiko bagi Jokowi bila diwujudkan.

"Kalau ide itu dipaksakan, beberapa partai akan menarik dukungan kepada Jokowi. Itu bahaya!" kata dia.


(dnu/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed