DetikNews
Jumat 29 Juni 2018, 23:22 WIB

Kontroversi 'Dukun' Vs Lembaga Survei

Tsarina Maharani, Gibran Maulana Ibrahim - detikNews
Kontroversi Dukun Vs Lembaga Survei Fadli Zon (Tsarina Maharani/detikcom).
Jakarta - Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon mengkritik lembaga survei dan membandingkannya dengan dukun. Pernyataannya itu pun langsung jadi polemik. Seperti apa?

Fadli menanggapi hasil hitung cepat (quick count) pasangan calon usungan Partai Gerindra di Jawa Barat, Sudrajat-Ahmad Syaikhu yang naik tajam dibanding hasil survei sebelumnya. Dia pun mengkritisi lembaga survei di Indonesia.

Menurut Fadli, keberadaan lembaga survei harus dievaluasi. Dia menyebut metodogi yang digunakan lembaga survei tidak lagi akurat. Prediksinya jauh seperti hasil quick count Sudrajat-Syaikhu.

"Lebih hebat dukun saya kira dari lembaga survei, dan mereka bisa dianggap sebagai penyebar hoax gitu lho. Karena secara scientific tidak terbukti," kata Fadli di DPR RI, Senayan, Jakarta, Jumat (29/6/2018).


Fadli menduga ada lembaga survei yang tidak lagi murni melakukan penghitungan dan dijadikan alat politik. Karena itu menurutnya harus ada aturan perihal kewenangan lembaga survei.

Wakil Ketua DPR ini meminta ke depan survei yang dilakukan lembaga tidak beda jauh dengan kenyataan. Jika hasilnya tidak sesuai, lembaga survei itu harus mendapatkan sanksi.

Ucapan Fadli yang membandingkan lembaga survei dengan dukun itu pun menuai polemik. Pihak PDIP ingin tahu dukun mana yang dimaksud Fadli bisa mengalahkan lembaga survei.


"Survei berbasiskan ilmiah, sehingga harus ditemukan penyebab hasil yang berbeda jauh dengan prediksi. Hasil yang jauh berbeda juga terjadi dalam Pilkada DKI lalu. Jadi ini tantangan buat lembaga survei untuk meneliti dan mempublikasikan penyebab dari selisih yang melampaui margin error tersebut," ujar Bendahara F-PDIP DPR Alex Indra Lukman.

"Kalau tidak, maka kita harus menanyakan pada Pak Fadli perihal dukun mana yang bisa mengalahkan lembaga survei tersebut," sambungnya.

Pihak Partai Hanura bicara lebih pedas. Mereka heran Fadli sebagai pimpinan DPR justru lebih percaya dukun daripada lembaga survei.

"Jadi selama ini ternyata Fadli Zon lebih mengandalkan dukun sebagai alat politiknya? Pantesan bicaranya sering ngawur," cibir Ketua DPP Partai Hanura, Inas Nasrullah.

Inas pun menyarankan agar Fadli tidak sekadar mengritik. Jika dirasa perlu aturan tentang keberadaan lembaga survei di Indonesia, Inas berharap Fadli mendorong pembuatan UU itu karena fungsi DPR sebagai lembaga pembentuk undang-undang.

"Sebagai wakil ketua DPR seharusnya juga bisa mendorong dibuatnya aturan tentang survei pemilu, jangan hanya sekadar ngomel dan ngoceh saja," ucap Inas.

Wasekjen PPP Achmad Baidowi pun tertawa karena Fadli lebih percaya dukun daripada lembaga survei. Karena itu dia menyarankan Fadli agar membentuk 'Lembaga Dukun Nasional'.

Pria yang akrab disapa Awiek itu kemudian menjelaskan, perbedaan antara survei dan quick count bisa terjadi karena sejumlah hal. Dia mengingatkan agar berpolitik dengan rasional.

"Mengenai angka survei berbeda dengan hasil, bukankah ada responden yang belum tentukan pilihan, yang itu bisa saja menyembunyikan pilihan, meskipun sebenarnya sudah mantap untuk melabuhkan pilihan," ujar Awiek.

"Apalagi ini survei perilaku politik, yakni situasi sosial yang bisa berubah dan dinamis bergantung yang mempengaruhinya. Jangan pula kita berpolitik menafikan rasionalitas hanya untuk mengamankan keinginan ataupun meladeni nafsu kekuasaan," imbuh anggota DPR itu.

Karena itu, Awiek menganggap pernyataan Fadli lucu. Alasannya, orang yang dia nilai intelek malah mengingkari metode ilmiah.

"Lucu, statement dari seorang yang sebelumnya intelek kok malah jadi mengingkari metode ilmiah," ujar Awiek.
(hri/tor)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed