DetikNews
Kamis 14 Juni 2018, 13:06 WIB

Menjelajahi Padang Pasir di Gurun Wahiba

Nadila Fitria - detikNews
Menjelajahi Padang Pasir di Gurun Wahiba Bersama warga suku Bedoin Oman. Foto: Hanggoro Mukti/Jazirah Islam TRANS 7
FOKUS BERITA: Jazirah Islam 2018
Muskat - Berkunjung ke Timur Tengah, yang paling dingat adalah hamparan gurun pasir, derap langkah unta, dan teriknya matahari. Seperti di gurun Wahiba ini.

Gurun Wahiba adalah hamparan padang pasir yang paling mudah dijangkau di negeri Oman. Gurun yang membentang 180 kilometer dari utara ke selatan ini, menantang saya untuk menyusurinya. Tentu saja, dengan mengendarai unta.

Pemandangan tenda di atas gurun menandakan masih banyak suku Bedouin, atau yang kita kenal dengan suku Badui Arab, tinggal di gurun ini.



Bersama Khalid dan Ahmad, warga Oman, saya mendatangi perkemahan tertua di gurun Wahiba. Ini adalah satu-satunya perkemahan yang dibangun di atas bukit pasir.

Menurut Khalid Al Shamri, waktu terbaik untuk mengunjungi gurun ini adalah di musim dingin, karena saat musim panas di bulan April-Juni suhunya akan jadi 50 derajat celcius.

Bisa dibayangkan, bagaimana kehidupan sehari-hari suku gurun Arabia, menghadapi panas ekstrem, serta dingin yang menusuk di malam hari.

Memacu adrenalin menyetir mobil di gurun pasir. Memacu adrenalin menyetir mobil di gurun pasir. Foto: Hanggoro Mukti/Jazirah Islam TRANS 7


Saya langsung teringat perjuangan dakwah Rasul Allah, serta para sahabat zaman dahulu, dengan berjalan kaki atau mengendarai unta. Masya Allah.

Namun kini, rumah-rumah Badui sudah cukup modern, mereka tak lagi menggunakan tenda kain, namun dengan bangunan semi permanen, dilengkapi batang serta daun pohon kurma, untuk menjaga kelembapan udara.

Tidak hanya naik unta, ada cara lain menikmati gurun pasir. Seiring berkembangnya waktu, warga Oman lebih menyukai melintasi gurun dengan mobil Jeep.

Hal ini juga sering mereka lakukan untuk adu nyali dan menjajal kemampuan menyetir di atas pasir. Sebuah hiburan tersendiri, di tengah keringnya padang pasir. Dari gurun pasir, muncul juga satu masakan tradisional Oman, khas suku gurun.

Membuat shuwa. Membuat shuwa. Foto: Hanggoro Mukti/Jazirah Islam TRANS 7


Shuwa namanya. Makanan ini menggunakan bahan dasar kambing gurun, dengan saus ala Oman. Shuwa yang merupakan masakan khas suku Badui, mengolah daging kambing gurun dengan cara yang unik.

Bahannya pun tak sulit didapat. Selain potongan daging kambing, yang diperlukan adalah saus spesial dari beragam rempah, seperti kapulaga, jinten, cengkeh, dan lada hitam, juga bubuk cabe merah, cuka dan minyak sayur yang dihaluskan bersama hingga cair.

Daging kambing dilumuri bumbu. Daging kambing dilumuri bumbu. Foto: Hanggoro Mukti/Jazirah Islam TRANS 7


Saus kaya rempah tersebut lalu dilumurkan ke potongan daging hingga merata. Shuwa biasa disajikan di hari istimewa seperti Idul Fitri, dan Idul Adha, juga saat menyambut tamu.

Daun pisang kering, juga jadi penentu dalam memasak shuwa. Bahan ini digunakan untuk membungkus potongan daging yang sudah dilumuri saus rempah.

Daun pisang wajib membungkus daging dengan erat dan rapi, agar sausnya meresap sempurna, lalu masukkan ke dalam karung goni basah. Walaupun bahan dan caranya mudah, memasak shuwa perlu waktu yang lama.

Shuwa dibuat oleh para pria. Shuwa dibuat oleh para pria. Foto: Hanggoro Mukti/Jazirah Islam TRANS 7


Biasanya, masyarakat Oman memasak Shuwa 7 hari sebelum Lebaran dan dilakukan bersama-sama satu kampung.

Usai semua daging kambing masuk, karung goni kemudian dijahit dengan kawat besi. Di Oman, shuwa adalah makanan yang dimasak oleh para pria, karena perlu kekuatan yang besar, dalam mengolahnya,

Nah, inilah uniknya memasak shuwa ala Oman. Harus membuat lubang di dalam pasir dan dilapisi dengan tong besi. Kemudian, isi tong dengan potongan kayu, bakar hingga menjadi arang.

Shuwa dimasukkan ke dalam karung goni. Shuwa dimasukkan ke dalam karung goni. Foto: Hanggoro Mukti/Jazirah Islam TRANS 7


Lebih dari satu jam, arang siap untuk digunakan untuk memasak Shuwa. Suhunya kemudian akan menjadi sangat panas, hingga 200 derajat Celcius. Di dalam tong panas, karung goni berisi daging kambing dimasukkan dan dimasak.



Inilah cara masak orang gurun. Agar panasnya merata dan menghindari angin yang kerap mengganggu, tong tak lupa ditutup kembali dengan triplek dan pasir.

Dimasukkan ke dalam lubang pasir. Dimasukkan ke dalam lubang pasir. Foto: Hanggoro Mukti/Jazirah Islam TRANS 7


Jika ingin mendapatkan tekstur daging yang super lembut, warga Oman memasaknya selama minimal 6 jam hingga 2 hari. Shuwa biasa disajikan dengan nasi basmati, dan perasan buah lemon di nampan besar.

Menikmati shuwa satu nampan bersama-sama. Menikmati shuwa satu nampan bersama-sama. Foto: Hanggoro Mukti/Jazirah Islam TRANS 7


Makan dengan cara Arab seperti ini, bersama dalam satu nampan, merupakan sunnah Rasulullah. Cara duduk laki-laki yakni menekuk
lutut di depan perut, bertujuan memberikan ruang bagi orang lain, untuk ikut makan bersama. Resep shuwa ala Oman sepertinya menarik untuk dicoba sebagai sajian Lebaran.


Saksikan perjalanan menjelajahi Oman dalam Jazirah Islam, Kamis 14 Juni 2018 pukul 15:00 di TRANS 7

(rns/rns)
FOKUS BERITA: Jazirah Islam 2018
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed