DetikNews
Rabu 13 Juni 2018, 07:55 WIB

Jejak Yahya Staquf: Bertemu Pence, Jadi Wantimpres, Lalu ke Israel

Rina Atriana, Bagus Prihantoro Nugroho, Ray Jordan - detikNews
Jejak Yahya Staquf: Bertemu Pence, Jadi Wantimpres, Lalu ke Israel Yahya Cholil Staquf saat dilantik jadi anggota Wantimpres. (Rengga Sancaya/detikcom)
Jakarta - Katib Aam Nahdlatul Ulama (NU) Yahya Cholil Staquf tengah jadi perbincangan setelah menghadiri sebuah forum di Israel. Sebelum ke Israel, pria yang akrab disapa Gus Yahya ini bahkan sempat bertemu dengan Wapres Amerika Serikat (AS) Mike Pence.

Yahya pernah menjabat juru bicara presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Gus Dur menjabat Presiden RI pada 1999-2001.

Gus Yahya pernah aktif di Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Dia pernah tercatat sebagai Wakil Ketua Umum PKB di salah satu kepengurusan partai yang sempat terbelah pada 2005.



Pada Muktamar NU 2015, Gus Yahya terpilih menjadi katib aam. Jabatan ini sama dengan posisi sekretaris jenderal.

Nama Gus Yahya kembali muncul ke publik setelah melakukan pertemuan dengan Wapres AS Mike Pence. Pertemuan itu berlangsung tanpa direncanakan sebelumnya.

"Rabu siang, 16 Mei, saya tiba di San Francisco. Nunggu penerbangan ke Washington, saya terima pesan dari Gedung Putih tentang keinginan Wapres bertemu, dijadwal Kamis sore, 17 Mei," ujar Gus Yahya saat berbincang dengan detikcom, Senin, 21 Mei 2018.

Pence sebelumnya bertemu dengan pemuka agama Kristen Evangelis dan Katolik. Dari pertemuan itu, Pence mendapat informasi tentang keberadaan Yahya di AS.



Pence, kata Gus Yahya, menyampaikan belasungkawa atas peristiwa teror di Indonesia beberapa waktu lalu. AS mendukung upaya Indonesia melawan radikalisme.

"Pemerintahnya mendukung penuh upaya-upaya NU dan Indonesia melawan radikalisme," ujar Gus Yahya.

Masih di bulan yang sama setelah kabar Gus Yahya bertemu dengan Pence, tokoh NU tersebut dipilih menjadi anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Dia dilantik pada Kamis, 31 Mei 2018, oleh Presiden Jokowi.

"Bahwa apabila ada gagasan-gagasan yang sungguh-sungguh strategis untuk negara, tentu harus secara langsung dengan mengikuti tatanan tertentu disampaikan kepada presiden. Sehingga mungkin tidak seperti sebelumnya, saya lebih berhati-hati bicara tentang negara dan pemerintahan karena sekarang nasihat saya menjadi haknya presiden," ujar Yahya di Istana Negara, Jakarta Pusat, seusai pelantikan.

Belum lama setelah dilantik jadi anggota Wantimpres, Gus Yahya jadi kontroversi terkait kunjungannya ke Israel. Sempat beredar kabar tentang wacana kerja sama antara NU dan Israel. Namun Pengurus Besar NU (PBNU) langsung membantahnya.



"Saya yakin kehadiran Gus Yahya tersebut untuk memberi dukungan dan menegaskan kepada dunia, khususnya Israel, bahwa Palestina adalah negara merdeka. Bukan sebaliknya," kata Ketua Tanfiziah PBNU KH Robikin Emhas lewat keterangan tertulis, Sabtu (9/6/2018).

Kehadiran Gus Yahya bertujuan menjadi narasumber dalam forum yang diprakarsai American Jewish Committee (AJC) itu. Yahya mengatakan kehadirannya merupakan inisiatif pribadi dan tidak ada kaitannya dengan posisi sebagai anggota Wantimpres. Acara itu berlangsung pada Minggu, 10 Juni 2018.

"Saya berdiri di sini untuk Palestina. Saya berdiri di sini atas dasar bahwa kita semua harus menghormati kedaulatan Palestina sebagai negara merdeka," kata Yahya setelah menjadi pembicara dalam forum yang diprakarsai American Jewish Committee (AJC) di Israel, sebagaimana dilansir NU Online, Senin (11/6).

AJC kemudian merilis video yang menampilkan dialog dengan Gus Yahya lewat kanal resmi mereka di situs YouTube. Namun dalam video berdurasi sekitar 14 menit itu, tak ada pembahasan soal Palestina. AJC memang baru merilis satu video saja yang menampilkan sosok Gus Yahya.

Pada video tersebut, Gus Yahya melakukan dialog dengan moderator, yakni Direktur Internasional AJC bidang Hubungan Inter-agama Rabi David Rosen. Perbincangan ini membahas topik secara umum tentang kehidupan harmonis umat beragama.

Gus Yahya saat bertemu Pence.Gus Yahya saat bertemu Pence. (Foto: dok. Wapres AS Mike Pence)


"Kita harus memilih 'rahmah', karena awal mula sesuatu, setiap hal baik, adalah rahmah. Jika kita memilih jalan rahmah, kita bisa bicara tentang keadilan, karena keadilan bukan semata tentang cara kita mendapatkannya. Ini adalah kemauan untuk memberikan keadilan untuk sesama. Jika orang-orang tak punya rahmah, tak punya kasih sayang kepada sesama, masyarakat ini tak akan pernah mau memberikan keadilan kepada sesama. Jika saya bisa meminta kepada dunia, saya ingin meminta dunia, ayo kita pilih jalan rahmah!" tutur Yahya yang kemudian disambut tepuk tangan meriah hadirin di forum itu.

Kehadiran Gus Yahya ke Israel yang tak membahas Palestina itu kemudian menuai kritik. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi kemudian menegaskan posisi RI berpihak ke Palestina.

"Presiden menyampaikan bahwa Pak Staquf pergi dan berbicara atas nama pribadi, tidak ada kaitannya sama sekali dengan kebijakan pemerintah Indonesia terhadap Palestina," ujar Retno setelah bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Selasa (12/6).

Rais Aam NU yang juga Ketum MUI, KH Ma'ruf Amin, pun menanggapi soal kunjungan Yahya Staquf. Ma'ruf menegaskan posisi MUI yang mendukung Palestina.

"Masalah Yahya Cholil itu nggak ada kaitannya dengan MUI. Jangankan dengan MUI, dari PBNU saja tidak. Karena itu, kita tidak memberikan mendukung apa yang dilakukan Yahya," tegas Ma'ruf kepada wartawan di kantor MUI Pusat, Jl Proklamasi, Cikini, Jakarta Pusat, Selasa (12/6).

Senada dengan Ma'ruf, Ketum PBNU Said Aqil menegaskan posisinya yang mendukung Palestina. Sementara itu, Ketum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas membela Gus Yahya.

"Bukan tidak sama sekali membahas Palestina. Jadi mau melihat, itu kan langkah awal dari pertemuan-pertemuan berikutnya. Itu kan langkah awal," kata Yaqut saat dihubungi detikcom, Selasa (12/6).
(bag/gbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed