DetikNews
Senin 04 Juni 2018, 13:01 WIB

Jazirah Islam 2018

Lenggak-lenggok Modest Fashion Dubai nan Elegan

Nadila Fitria - detikNews
Lenggak-lenggok Modest Fashion Dubai nan Elegan Menjajal ber-zipline. Foto: Hanggoro Mukti/Jazirah Islam TRANS 7
FOKUS BERITA: Jazirah Islam 2018
Dubai - Assalamualaikum, salam dari Dubai. Kota kosmopolitan di Timur Tengah ini saya tak henti berdecak kagum. Dubai selalu menawarkan hal baru, salah satunya ber-zipline sejauh 1 km di tengah kota dengan kecepatan maksimum 80 km/jam!

Dalam 45 detik, saya sudah sampai di ujung kabel. Pengalaman unik ini bisa dibeli seharga 650 Dirham Emirat Arab. Tapi, saya datang ke Dubai bukan untuk bersenang-senang. Saya ingin tahu, seperti apa kehidupan umat muslim di Uni Emirat Arab.

Negeri dengan tujuh Emirat ini dihuni oleh delapan juta orang pendatang, dan dua juta penduduk lokal atau Emirati. Tak heran, meski saya ada di jazirah Arab, suasananya sungguh berbeda, sangat modern dan multikultur.



Pria dan wanita Emirati, mengenakan baju tradisional yaitu thob atau gamis panjang berwarna putih untuk pria, dan abaya hitam untuk wanita. Namun bukan berarti cara berpakaian ini, membatasi kreativitas dan daya beli mereka.

Modest fashion atau gaya busana sopan, sangat dilirik oleh peminat fashion dunia. Tak hanya untuk umat muslim, modest fashion disukai karena menampilkan gaya berpakaian yang elegan, dan high class.

Dubai menggelar event Modest Fashion Week yang sudah ditunggu-tunggu, yakni gelaran busana modest yang diadakan IFDC. Ternyata, total pembelian masyarakat dunia terhadap modest fashion ini sudah mencapai angka Rp 3,7 triliun di tahun 2017. Angka ini diperkirakan akan naik jadi Rp 4,4 triliun di 2018.

Modest Fashion Week. Modest Fashion Week Dubai. Foto: Hanggoro Mukti/Jazirah Islam TRANS 7


Pada Modest Fashion Week Dubai kali ini, ada sederet desainer yang hadir. Tak hanya dari Dubai, ada juga dari London, Paris, hingga Indonesia. Serunya, di Dubai Fashion Week kali ini, pengunjung bisa langsung berinteraksi dengan para perancang busana, sambil melihat langsung produknya.

Mulai dari baju formal, kasual, hingga busana olahraga untuk muslimah. Salah satunya ada brand sportwear dari Inggris yang menawarkan baju olahraga ramah muslimah.

"Pada dasarnya, under-rapt adalah busana olahraga organic, kami impor bahannya dari Austria, jadi bahan kami sangat aman," ujar Yasmin Sobeih, desainer asal Inggris.

Bertemu desainer asal Inggris Yasmin Sobeih.Bertemu desainer asal Inggris Yasmin Sobeih. Foto: Hanggoro Mukti/Jazirah Islam TRANS 7


Tak hanya memikirkan pola busananya yang ramah bagi muslimah, Yasmin maju satu langkah dengan memilih bahan yang nyaman digunakan dengan tetap menutup seluruh permukaan kulit.

Selain itu ada desainer dari Chicago, Amerika Serikat yang menghadirkan koleksi formal dengan dominasi warna hitam putih. Ada kisah menarik di balik pembuatan produknya. Ini adalah hasil buatan tangan pengungsi di Amerika.

"Saya Syahla dari brand Blue Meets Blue dari Chicago. Kami adalah merk busana etik kemanusiaan. Kami mempekerjakan pengungsi Amerika, untuk membuat baju ini. Bordir, manik-manik, semua dibuat dengan tangan," kata Syahla.

Syahla, desainer Blue Meets Blue dari Chicago. Syahla, desainer Blue Meets Blue dari Chicago. Foto: Hanggoro Mukti/Jazirah Islam TRANS 7


"Saya ingin mereka tetap berkarya, banyak di antara mereka adalah wanita pekerja di negara asalnya. Di Amerika mereka memulai dari awal, jadi kami berharap bisa memberdayakan mereka, dan saya ingin merk ini tak sekadar fashion," harapnya.

Masih ada Schmiley Mo, clothing line remaja besutan Diana Rikasari, yang mengusung ciri khas colorful, bright, dan fun. Koleksi pakaiannya cocok untuk wanita mulai usia remaja.

Diana Rikasari, desainer asal Indonesia. Diana Rikasari, desainer asal Indonesia. Foto: Hanggoro Mukti/Jazirah Islam TRANS 7


Kali ini, tema yang dibawakan oleh blogger yang kini menetap di Swiss ini, adalah 'Friendship for Sail' yang menghadirkan nuansa laut atau nautical.

Batik serta tenun Indonesia pun turut hadir. Ada Jessica Febiani, desainer More to See. Bangga sekali, ada dua desainer dari Indonesia yang ikut berpartisipasi dalam ajang Dubai Modest Fashion Week. Alhasil, kecantikan batik dan kain etnik khas Indonesia bisa dikenal masyarakat dunia.

Desainer More to See Jessica Febriani dari Indonesia. Desainer More to See Jessica Febriani dari Indonesia. Foto: Hanggoro Mukti/Jazirah Islam TRANS 7


Fashion show kali ini, diharapkan menjadi terobosan dalam dunia fashion. Tak hanya menampilkan model catwalk yang memeragakan busana, namun ditambah dengan kecanggihan teknologi.



"Kami rasa fashion week yang biasa itu sudah harus dirubah. Modest fashion week bukan cuma untuk showcase, tak hanya membantu pemain industri. Jadi kami berikan strategi baru, kali ini tidak ada catwalk, kami gunakan layar proyektor, dengan teknologi high definition," ujar Alya Khan, Chairwoman IFDC.

"Ini hanya permulaan, kami masih punya strategi lain untuk ke depannya. Kami juga ingin agar desainer dan pembeli dapat berkomunikasi dengan baik dan kami ingin bisa menginspirasi yang lain untuk jadi lebih baik," sambungnya.

Alya Khan, IFDC Chairwoman. Alya Khan, IFDC Chairwoman. Foto: Hanggoro Mukti/Jazirah Islam TRANS 7


Sesuai namanya, Fashion Week, maka acara ini diselenggarakan selama satu minggu di akhir bulan Maret 2018, di sebuah pusat perbelanjaan di Dubai. Tepat pukul tujuh malam acara dimulai, dan saya merasakan hal berbeda.

Jika biasanya peragaan busana diadakan tertutup untuk kalangan tertentu, di modest fashion show kali ini semua orang bisa melihat, dan menilai. Sambil melihat model yang memeragakan busana, saya bisa menikmati video profil clothing line di layar yang cukup besar, terpasang di muka gedung. Sebuah kemajuan yang inovatif, dalam industri fashion dunia.



Saksikan cerita lengkap perjalanan di Dubai dalam program Jazirah Islam, Senin 4 Juni 2018 hanya di TRANS 7
(rns/rns)
FOKUS BERITA: Jazirah Islam 2018
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed