DetikNews
Jumat 01 Juni 2018, 12:11 WIB

Jazirah Islam 2018

Syahdunya Senandung Pujian Ilahi dari Gurun Sahara

Lydia Wijaya - detikNews
Syahdunya Senandung Pujian Ilahi dari Gurun Sahara Grup Al Manjour menyenandungkan ahalil. Foto: Aditya Jakun/Jazirah Islam TRANS 7
FOKUS BERITA: Jazirah Islam 2018
Algiers - Di perjalanan kali ini, Jazirah Islam akan menjelajahi negara terbesar di Afrika, Aljazair. Negeri di Afrika Utara ini, dilintasi gurun Sahara yang merupakan gurun pasir terluas di dunia.

Gurun Sahara menyimpan budaya yang menarik. Inilah, yang membawa saya ke kota Timimoun, 1.200 kilometer jauhnya dari Algiers, ibukota Aljazair.

Berbicara budaya Gurun Sahara, saya akan membicarakan ahalil, yakni senandung pujian kepada Allah SWT. Ini adalah sebuah warisan lisan dari suku Ammazigh, masyarakat yang mendiami kota Timimoun di Aljazair Selatan.



Secara turun temurun, ahalil menjadi nyanyian tradisional yang menjadi ciri khas mereka. Beruntung, hari ini tim Jazirah Islam bisa ikut belajar bersenandung dengan grup Al Manjour.

Namun sebelumnya, kami harus mengenakan pakaian khas suku Ammazigh dulu, Agnas namanya, agar selaras dengan anggota grup lainnya.

Mengenakan pakaian Agnas. Mengenakan pakaian Agnas. Foto: Aditya Jakun/Jazirah Islam TRANS 7


Warna putih dipakai karena melambangkan kebahagiaan. Putih juga berguna untuk memantulkan cahaya Matahari yang terik di gurun pasir, sehingga bisa mengurangi rasa gerah.

Bagian ujung kainnya dibiarkan menutupi bagian kepala seperti kerudung. Untuk pria, memakai pakaian bernama Gandoura dan turban sebagai ikat kepalanya.

Tabuhan perkusi Hamaz Muhammad Baba menandai dimulainya ahalil. Tepukan tangan dan senandung dari seluruh anggota menyusul bersahutan, menghasilkan lantunan magis ahalil dari gurun Sahara.

Ahalil sudah ada sejak sebelum Islam masuk ke Aljazair. Dulunya, ahalil hanya berisi sejarah dan keindahan alam, tapi kini berisi tentang salawat kepada Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya.

Hamaz Muhammad Baba sang pemimpin grup percaya bahwa ber-ahalil tak hanya menjaga tradisi, tapi sekaligus memelihara kecintaan memuji Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW.

Grup Al Manjour sendiri terbentuk sejak tahun 1980. Kini, anggotanya berjumlah 30 orang. Mereka kebanyakan adalah saudara atau kerabat yang tinggal di kota Timimoun.

Syahdunya Senandung Pujian Ilahi dari Gurun Sahara Host Jazirah Islam Lydia Wijaya main gitar labu. Foto: Aditya Jakun/Jazirah Islam TRANS 7

Dalam ber-ahalil, tak hanya bait per bait yang harus dihapalkan. Ahalil juga mesti dinyanyikan dengan hati. Gerakan tubuh pun perlu diperhatikan untuk menunjang kekompakan.

Tepukan tangan harus diberi perhatikan agar menghasilkan nada yang indah. Berbeda cara tepuk, berbeda juga nada yang dihasilkan. Begitulah warisan budaya Aljazair ini sudah dilakukan dari ribuan tahun lalu, dan diwariskan dari generasi ke generasi hingga kini.

Instrumen yang melengkapi penampilan ahalil tidak hanya perkusi. Ada pula gitar dan batu yang bisa memberi warna pelengkap. Karena ahalil sudah ada sejak sebelum Masehi, di mana saat itu belum ada alat musik, mereka menggunakan hasil alam di sekitar untuk menciptakan nada. Sampai sekarang, batu masih digunakan, karena suara yang dihasilkan tidak bisa digantikan instrumen lain.

Pemerintah Aljazair juga aktif melestarikan budaya yang satu ini agar tidak punah dimakan zaman. Bahkan pada 2008 silam, UNESCO menetapkan ahalil sebagai oral and intangible heritage, setingkat dengan tradisi dunia seperti opera tibet dan royal ballet dari Kamboja.

Terjaganya tradisi ini juga ikut memelihara keberadaan pembuat alat musik ahalil. Lantunan ahalil tentunya terasa kurang syahdu tanpa diiringi alat musik. Tim Jazirah Islam berkesempatan mendatangi salah satu pembuat alat musik Ahalil yang masih berada di kota Timimoun.

Membuat gitar labu. Membuat gitar labu. Foto: Aditya Jakun/Jazirah Islam TRANS 7

Kastali Alhamal, pembuat alat musik ahalil yang kami temui, sudah lebih dari 30 tahun menekuni profesi ini. Mulai dari gitar, suling, sampai mbira, dihasilkan dari tangan terampilnya.

Bahan pembuatan instrumen musik ini sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat, seperti gitar bingli yang terbuat dari labu kendi yang tergolong tanaman asli Afrika.



Karena merupakan tanaman asli, mudah menemukannya di sini. Untuk mengubahnya menjadi alat musik, labu dibersihkan isinya dan dikeringkan. Ini dilakukan untuk agar gitar bingli yang dibuat bisa menghasilkan suara dan nada yang indah.

Suara yang dihasilkan gitar bingli dari labu memang khas. Berbeda jika gitar dibuat dari kayu. Itu sebabnya, labu masih terus digunakan hingga kini.

Alhamdulillah, meski zaman semakin modern penduduk Timimoun bertekad untuk menjaga tradisi musik berharga ini selamanya.



Ikuti perjalanan tim Jazirah Islam menelusuri kehidupan muslim di Aljazair, dalam program Jazirah Islam, Jumat 1 Juni 2018 pukul 15:00 WIB di TRANS 7

(rns/rns)
FOKUS BERITA: Jazirah Islam 2018
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed