DetikNews
Senin 28 Mei 2018, 02:06 WIB

Sosok Abah Rosyid, Penganjur Toleransi dari Maumere

Eva Safitri - detikNews
Sosok Abah Rosyid, Penganjur Toleransi dari Maumere Foto: Abdul Rosyid Wahab biasa dikenal
Jakarta - Abdul Rosyid Wahab berhasil terpilih menjadi aktivis toleransi yang mendapat penghargaan dari Ma'arif Institute. Pria yang berasal dari Maumere, Nusa Tenggara Timur ini menjadikan keberagaman dalam kebersamaan sebagai prinsip hidupnya.

Abah Rosyid sapaan akrabnya sudah terbiasa hidup di dalam lingkungan yang beragam. Sejak lahir ia mengaku sudah berkumpul dengan komunitas Katolik.

"Saya sejak lahir berada di Komunitas Katolik, dari segi sekolah dan desa, sekolah Belanda karena tahun '48 masih sekolah Belanda, sekolah Katolik semua, pendidikan Katolik," ujarnya ketika diwawancarai di Gedung Metro TV, Jalan Pilar Mas Raya, Kedoya, Jakarta Barat, Minggu (27/5/2018).

Abah Rasyid yang merupakan keturunan Gowa, Sulawesi sudah tinggal di Maumere sejak kecil. Sejak muda ia sudah aktif dalam kegiatan kemanusiaan.

Abah Rosyid mampu memunculkan toleransi bagi umat agama lain. Baginya hidup dalam keberagaman harus memajukan sosialisasi kemanusiaan.

Mendekati budaya orang lain adalah caranya untuk masuk dalam keberagaman. Terlebih lagi ia tinggal di Kabupaten Sikka, Maumere, NTT yang mayoritas nonmuslim sudah cukup lama.

"Jadi dalam berinteraksi sosial dengan agama katolik sudah biasa, dan itu kita dekati dengan budaya orang Sikka. Budaya orang Sikka itu sebenarnya kalau kita datang ke rumah mereka merasa terhormat jadi mereka bisa mencurahkan apa yang mereka punya," tutur Abah Rosyid.

Saat konflik pencemaran hosti tahun 1995 antara kaum Kristen dan Katolik, Abah Rosyid mengajak kaum Islam agar tidak memperkeruh konflik. Pasalnya saat itu kaum Islam menjadi turut diserang karena ada anggapan kalau kaum Islam menghina peristiwa hosti tersebut.

Baca Juga: Muslim Peredam Konflik di Maumere Dianugerahi Maarif Award 2018

Lalu ketika bencana letusan Gunung Rokatenda, Abah Rosyid berperan penting dalam memimpin relawan untuk mengevakuasi korban yang seluruhnya beragama nonmuslim. Pasca letusan pun ia memberikan hibiran kepada para pengungsi.

Tokoh muslim yang juga menjabat sebagai ketua forum sangat menaruh perhatian pada warga setempat. Ia mendirikan beberapa yayasan yang 80 % pelajarnya beragama Katolik.

Sisi humanisnya yang dirasakan ketika mendirikan yayasan panti sosial yang anak anaknya disekolahkan sampai sarjana. Ia membuat kehidupan Maumere yang beragam untuk hidup berdampingan tanpa sekat.

Hidup berbeda dalam kebersamaan sudah menjadi prinsip yang ia tanamkan. Sehingga menurutnya toleransi itu akan muncul ketika sudah terbiasa dalam kebersamaan.

"Kita sudah datang dari dulu hidup bersama sudah turun temurun. Kita jaga terus. Dulu dan sekarang cara berbuat baik berbeda caranya. Berikhtiar, sabar , kita harus punya idealisme. Tahta dan harta itu di dunia saja," ungkap Abah Rosyid.

Abah Rosyid mengatakan penghargaan yang diterimanya akan dijadikan sebagai tantangan kedepan. Diharapkan juga hal ini dapat menjadikan motivasi bagi para generasi penerus.

"Sebenernya award ini dapat menjadi tantangan saya kedepan yaitu bagaimana saya memelihara award ini, dan memacu untuk kita menyempurnakan apa yang belum kita selesaikan. Kita wujudkan mimpi yang belum menjadi kenyataan," tutupnya.
(fdu/fdu)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed