DetikNews
Jumat 25 Mei 2018, 05:40 WIB

Ngabalin: Istana Tak Perintahkan UGM Tolak Fahri Hamzah

Danu Damarjati - detikNews
Ngabalin: Istana Tak Perintahkan UGM Tolak Fahri Hamzah Ai Mochtar Ngabalin saat bersama Presiden Jokowi (Dok. Ali Mochtar Ngabalin)
Jakarta - Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menyatakan ada pihak luar yang menekan rektor UGM supaya menolak dirinya berceramah di Masjid UGM. Kini pihak pemerintahan Presiden Jokowi membantah mentah-mentah dugaan Fahri Hamzah itu.

"Terus terang, itu pasti tidak benar. Masa, Istana berkepentingan menghalang-halangi?" kata Tenaga Ahli Utama Kedeputian IV Kantor Staf Presiden Bidang Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi, Ali Mochtar Ngabalin, kepada detikcom, Kamis (24/5/2018).



Kata dia, para penggawa Kantor Staf Presiden (KSP), staf khusus, dan jajaran yang ada di Istana Kepresidenan sudah banyak pekerjaan, jadi tak ada waktu untuk mengurusi perihal pelarangan ceramah, termasuk memberi perintah untuk UGM agar membatalkan Fahri hamzah berceramah di Masjid Kampus.

"Delapan bulan terakhir ini teman-teman di KSP maupun Staf Khusus, maupun juga jajaran Istana itu amat sibuk dengan mempersiapkan laporan-laporan kerja yang diperintahkan Bapak Presiden," kata Ngabalin.



Bahkan Ngabalin tak setuju dengan sikap Kampus Biru yang melarang Fahri Hamzah untuk berceramah. Soalnya, Fahri adalah umat Islam, Wakil Ketua DPR, dan masjid adalah milik seluruh suku bangsa.

"Saya menyesalkan kalau sampai dilarang, saya meyesalkan tindakan itu (UGM menolak Fahri Hamzah)," kata Ngabalin yang juga Ketua Umum Pengurus Pusat Badan Koordinasi Mubaligh Seluruh Indonesia ini.

Sebagaimana diketahui, Fahri Hamzah merupakan politikus yang dikenal kerap melancarkan kritik ke pemerintahan. Selain Fahri, ada mantan jubir Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Ismail Yusanto dan dosen internal UGM Novriyadi yang dicoret pihak UGM. Recananya, Fahri berceramah di Maskam UGM pada 22 Mei kemarin.



Rektor UGM, Panut Mulyono, menyatakan alasan pencoretan sejumlah nama calon penceramah di Masjid Kampus juga dilandasi keluhan masyarakat dan civitas akademika UGM. Mereka menyebut sejumlah nama penceramah di Maskam tak sesuai jati diri UGM.

"Karena kita mendengar dari masyarakat, mendengar dari rekan-rekan kita sesama dosen. Bahwa untuk menuju yang tadi kami sampaikan, sejuk, harmonis, kemudian nyaman beribadah, maka kami memutuskan lebih dari satu nama (direvisi," kata Panut di UGM, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jumat (18/5), sebelum diketahui bahwa Fahri Hamzah termasuk dari sejumlah nama yang ditolak UGM.

Belakangan diketahui, Fahri Hamzah termasuk salah satunya. Kepala Bagian humas dan Protokol UGM Iva Aryani menyatakan keputusan dicoretnya Fahri sebagai penceramah di Masjid Kampus atau Maskam, begitu warga UGM biasa menyebutnya, dilatarbelakangi oleh pertemuan pihak Rektorat UGM dengan jajaran takmir Maskam. Lewat pertemuan itu, sejumlah ama dicoret termasuk nama Fahri.

"Jadi memang ada beberapa pro kontra di kalangan masyarakat berkaitan dengan beberapa penceramah (di Masjid Kampus UGM)," kata Iva Aryani, Kamis (24/5/2018) kemarin.

Fahri sendiri menyampaikan dugaannya, pihak Rektor UGM ditekan pihak eksternal yang lebih tinggi agar menolak dirinya. Tekanan akhirnya sampai ke takmir Masjid Kampus. Tekanan itu membuat pihak UGM menjadi takut.

"Sebenarnya banyak alasan yang sampai ke saya. Tapi intinya saya nggak boleh ceramah. Ada rasa takut yang sangat tinggi akibat tekanan dari luar itu. Takmir bilang terpaksa melakukannya," kata Fahri Hamzah kepada wartawan, Kamis (24/5).


(dnu/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed