DetikNews
Kamis 24 Mei 2018, 17:13 WIB

Ditolak Ceramah di UGM, Fahri Hamzah: Rektor Ditekan Pejabat

Gibran Maulana Ibrahim - detikNews
Ditolak Ceramah di UGM, Fahri Hamzah: Rektor Ditekan Pejabat Fahri Hamzah saat menemui Sri Sultan HB X di Yogyakarta (Edzan Raharjo/detikcom)
Jakarta - Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah batal mengisi ceramah dan dialog seusai tarawih di masjid kampus Universitas Gadjah Mada (UGM). Fahri mengatakan gagalnya dia mengisi ceramah di UGM karena takmir masjid mendapat tekanan dari pihak luar.

"Saya dikontak oleh pihak takmir masjid bahwa rektor ditekan oleh para pejabat di atas. Bahwa saya nggak boleh ceramah di masjid UGM," kata Fahri kepada wartawan, Kamis (24/5/2018).

"Sebenarnya banyak alasan yang sampai ke saya, tapi intinya saya nggak boleh ceramah. Ada rasa takut yang sangat tinggi akibat tekanan dari luar itu. Takmir bilang terpaksa melakukannya," imbuh dia.


Fahri menyebut takmir menyesalkan batalnya dia berceramah di masjid kampus. Padahal, menurut Fahri, namanya sudah disosialisasi jauh hari untuk mengisi ceramah di UGM.

"Undangan saya terima jauh sebelum puasa dan takmir menyesal sekali karena nama saya sudah disosialisasikan jauh hari," terang Fahri.

Fahri mengatakan sempat bertemu dan berbincang santai dengan mahasiswa UGM. Para mahasiswa mengatakan Rektor UGM Panut Mulyono tak ingin membuat larangan tertulis.

"Katanya yang saya dengar gitu. Tapi malam itu mahasiswa UGM banyak yang jumpa saya di acara ngopi bareng dan cerita bahwa rektor nggak mau membuat larangan tertulis, tapi hanya lisan," ucap dia.

Sebelumnya diberitakan, UGM memutuskan mencoret nama Fahri Hamzah dari daftar penceramah tarawih yang sebelumnya direncanakan berlangsung pada Selasa (22/5) lalu. Kepala Bagian Humas dan Protokol UGM, Iva Aryani, mengatakan ada pro-kontra di kalangan masyarakat. Selain Fahri, ada dua penceramah yang dicoret, yakni Ismail Yusanto, yang merupakan mantan jubir Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), dan Novriyadi, yang merupakan dosen internal UGM.


Iva menegaskan keputusan yang diambil UGM ini atas inisiatif pimpinan rektorat dalam merespons situasi terkini. Keputusan tersebut, kata Iva, bukan karena desakan pihak luar, apalagi dari desakan pemerintah. Itu dilakukan untuk menghindari pro-kontra di tengah masyarakat.

"Nggak, sama sekali tidak benar. Tidak pernah ada (desakan) dari kementerian, dari Istana dari mana pun, tidak," ungkap Iva saat dihubungi detikcom, Kamis (24/5).
(gbr/jbr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed