DetikNews
Rabu 23 Mei 2018, 11:17 WIB

Ini Bentuk Empati Masyarakat kepada Keluarga Korban Bom Surabaya

Robi Setiawan - detikNews
Ini Bentuk Empati Masyarakat kepada Keluarga Korban Bom Surabaya Foto: ACT
Jakarta - Peristiwa bom gereja di Surabaya telah mengundang empati dari masyarakat Indonesia dan luar negeri. Empati tersebut diwujudkan dengan memberikan donasi melalui tim Aksi Cepat Tanggap (ACT) Jawa Timur (Jatim) yang disampaikan langsung kepada keluarga korban.

"Maksud kedatangan kami ke sini untuk menyampaikan belasungkawa kami atas musibah yang dialami keluarga Giri Catur, sekaligus kami juga menyampaikan amanah dari masyarakat Indonesia dan luar negeri, yakni bantuan untuk keluarga korban bom," ucap Koordinator Program ACT Jatim, Wahyu, dalam keterangan tertulis, Rabu (23/5/2018).

Lebih lanjut, Wahyu mengatakan, pada Ramadan ini, pihaknya ingin menebarkan kebaikan seluas-luasnya. Menurut Wahyu, ini menjadi bukti bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia dan dunia peduli terhadap korban.

"Di bulan Ramadan yang baik ini, kami hanya ingin menebarkan kebaikan seluas-luasnya. Bantuan yang diberikan mungkin tak bisa menutup rasa kehilangan mereka. Namun setidaknya ini menjadi bukti bahwa banyak sekali masyarakat Indonesia dan dunia yang peduli terhadap korban. Semoga kejadian nahas serupa tidak terulang kembali," kata Wahyu.

Wahyu dan tim berkesempatan mengunjungi beberapa kediaman keluarga korban yang terjadi di Surabaya. Rumah pertama yang disinggahi adalah kediaman keluarga Aloysus Bayu Rendra Wardhana. Bayu meninggal setelah berusaha menghalangi pelaku peledakan bom di Gereja Katolik Paroki Santa Maria Tak Bercela, Surabaya. Keberanian Bayu menimbulkan kesan tersendiri di kalangan masyarakat.

Bayu adalah suami Monik Dewi Andini serta ayah dua anak, yaitu Cornelius Aaron Nata Dinindra (3) dan Birgitta Alyssia Nata Dinindra (10 bulan).

"Monic bilang terima kasih atas bantuan dan doa-doa dari masyarakat semua. Meskipun sulit menerima kenyataan, namun dia sudah ikhlas," cerita wahyu lagi.



Selain mendatangi rumah Bayu, Wahyu mendatangi korban kediaman Giri Catur Sungkowo, petugas keamanan yang meninggal dunia.

Menurut cerita, saat peristiwa nahas itu terjadi, Minggu (13/5), Giri tengah berjaga di pos depan (gerbang masuk gereja) bersama seorang temannya.

Namun sebuah mobil misterius datang secara tiba-tiba dan menerjang pemeriksaan. Sebelum sempat disapa oleh pria asal Pacitan itu, mobil meledak dan memporak-porandakan sekitarnya. Tak terkecuali tubuh Giri yang luka parah terimbas ledakan.

Menurut keterangan istrinya, Giri Catur langsung dilarikan ke RSUD dr Soetomo dengan luka yang sangat parah. Masa kritis Giri Catur berlangsung selama tiga hari sejak musibah itu terjadi.

Istri Giri Catur mengatakan sebenarnya semangat suaminya sangat kuat bertahan hidup. Namun, karena infeksi luka di tenggorokannya sudah menyebar di seluruh tubuh, kondisinya pun semakin buruk dan meninggal dunia.



Selain itu, tim ACT Jatim mengunjungi kediaman Aiptu Ahmad Nurhadi, polisi yang turut menjadi korban. Kini Aiptu Ahmad tengah berada di RSU dr Soetomo karena mengalami luka bakar yang parah.

Diketahui, ledakan bom di Surabaya terjadi di tiga lokasi, yaitu Gereja Kristen Indonesia Jalan Dipenogoro, Gereja Santa Maria Ngagel, dan Gereja Pantekosta Pusat Surabaya di Jalan Arjuno. Pengeboman terjadi tidak hanya di hari itu saja, tapi juga menyebar di wilayah Sidoarjo pada hari-hari berikutnya.
(mul/mpr)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed