DetikNews
Senin 16 April 2018, 10:08 WIB

Ultah Kopassus Ke-66

Bela Anggota yang Cacat, Benny Moerdani Dikeluarkan dari RPKAD

Sudrajat - detikNews
Bela Anggota yang Cacat, Benny Moerdani Dikeluarkan dari RPKAD Sintong Panjaitan dan Benny Moerdani (Repro: Perjalanan Seorang Prajurit Komando)
Jakarta -

Menjelang akhir 1964, tercetus gagasan untuk memberhentikan para anggota RPKAD (Resmen Para Komando Angkatan Darat) yang kini dikenal dengan nama Kopassus. Pembahasan tentang isu ini dipimpin langsung oleh Kolonel Moeng Parhadimuljo, perwira komando yang amat disegani, Spartan, dank eras wataknya.

Salah satu nama yang dibahas untuk dikeluarkan adalah Lettu Agus Hernoto dari Batalyon I RPKAD pimpinan Mayor Benny Moerdani. Agus kehilangan satu kaki dalam tugas membebaskan Irian. Pasukannya dikepung Marinir Belanda tapi dia nekad melawan. Seluruh anak buahnya gugur, begitu juga beberapa Marinir tewas. Agus luka parah dan kakinya tertembak. Dia diringkus Belanda setelah kehabisan peluru. Marinir Belanda menahan dan mengobati Agus. Karena kakinya sudah membusuk dan dipenuhi belatung, lalu diamputasi. Dia baru dibebaskan setelah terjadi gencatan senjata.

Menilik kiprah perjuangan Agus, sebagai atasan langsung Benny menolak rencana mengeluarkan Agus. "Dia korban pertempuran yang harus dijadikan teladan. Dia itu baret merah sejati, dan lebih pantas memakai baret merah daripada diantara kita, perwira yang enggak tahu apa-apa, langsung dari kesatuan lain dipindah ke RPKAD lantas disuruh pakai baret merah..." papar Benny seperti ditulis Julius Pour dalam buku Benny Tragedi Seorang Loyalis.

Pembelaan keras Benny terhadap anak buahnya berbuah petaka bagi karirnya di RPAKD. Panglima Angkatan Darat Letjen TNI Achmad Yani yang menerima laporan tentang sikap Benny, murka. Dalam pertemuan emat mata, tak ada lagi senyum dan keramahan yang ditampilkan terhadap anak buah kesayangannya itu. Tanpa melakukan konfirmasi Yani langsung memtusukan Benny bersalah karena dianggap bersikap tak etis telah mencampuri urusan atasan. "Sudah,...lapor ke Mas Harto sana."

Benny terperanjat. Perintah lisan tersebut artinya dia harus keluar dari RPKAD dan pindah ke Kostrad di bawah Mayjen Soeharto. Pada 6 Januari 1965, Benny resmi menyerahkan jabatan Komandan Batalyon I RPKAD kepada Mayor CI Santoso. Sejak itu, hingga 20 puluh tahun kemudian Benny Moerdani tak lagi sudi mengenakan Baret Merah. Dia sangat kecewat dengan keputusan sepihak Yani.

Dia terpaksa kembali bersedia mengenakan Baret Merah pada 1985. Kala itu, sebagai Panglima ABRI dia akan memberikan gelar Warga Kehormatan Baret Merah kepada Yang Dipertuan Agung Malaysia Sultan Iskandar. Itu pun, Benny sempat melemparkan baret yang diserahkan oleh Danjen Kopassus Sintong Hamonangan Panjaitan.

Sintong tentu tersinggung dengan sikap sang Jenderal. "Pak Benny tidak dapat dipisahkan dengan Korps Baret Merah. Bapak dikenal sebagai orang pertama Korps Baret Merah. Jadi aneh, kalau bapak tidak berkenan memakai Baret Merah," kata Sintong membujuk dalam buku Perjalanan Seorang Prajurit Para Komando karya Hendro Subroto.

Benny tak menjawab. Tapi beberapa saat menjelang acara dimulai, dia berterian memanggij ajudannya, Lettu Tono. "Ton, mana Baret Merah itu tadi? Ambil dulu, nanti marah si Batak ini," ujarnya ke arah Sintong.


(jat/jat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed