detikNews
Jumat 13 April 2018, 20:30 WIB

KPK Masih Analisis Sederet Fakta Kasus Skandal Century

Haris Fadhil - detikNews
KPK Masih Analisis Sederet Fakta Kasus Skandal Century Gedung KPK/Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

KPK menegaskan masih melakukan analisis terhadap fakta-fakta kasus skandal Bank Century untuk menindaklanjuti putusan eks Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Budi Mulya. Analisis dilakukan untuk merekonstruksi perkara terkait dugaan keterlibatan pihak lain.

"Proses yang dilakukan saat ini bukan pulbaket (pengumpulan bahan keterangan) bukan penyelidikan. Yang kita lakukan adalah melakukan analisis terhadap seluruh fakta-fakta sidang yang muncul dan putusan yang berkekuatan hukum tetap," ujar Kabiro Humas KPK Febri Diansyah kepada wartawan di gedung KPK, Jl Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Jumat (13/4/2018)

Febri mengatakan, tim penuntut umum Budi Mulya, juga masih mendalami putusan tersebut. Setelah putusan Budi Mulya berkekuatan hukum tetap di tingkat kasasi, tim jaksa penuntut umum menurutnya membuat analisa danmemberikan rekomendasi pada pimpinan KPK. Penanganannya dilakukan hati-hati.

"Kita perlu ingat misalnya dalam kasus Century tersebut, kalau kita bicara tentang aset recovery harus dilihat di siapa pihak diperkaya. Putusan dibunyikan pihak yang diperkaya Bank Century. Apa proses hukum lebih lanjut, apakah memproses orang per orang, atau hal lain. Jadi masih banyak yang harus dianalisis," tutur Febri.

Soal praperadilan kasus Century di PN Jaksel, eks Gubernur BI Boediono menyerahkan penanganan kasus Bank Century kepada KPK. Hakim praperadilan pada PN Jaksel sebelumnya memerintahkan KPK menetapkan tersangka baru skandal Century, termasuk Boediono.

"Kalau mengenai aspek hukum, saya menyerahkan semuanya kepada penegak hukum dan saya sepenuhnya percaya pada kearifan beliau-beliau ini," kata Boediono setelah mengisi orasi ilmiah di Auditorium Juwono Sudarsono FISIP UI, Depok, Jumat (13/4).

Boediono juga bicara soal andil mengelola perekonomian Indonesia saat menghadapi krisis global pada 2008. "Dalam kehidupan seseorang, sangat jarang untuk dapat kesempatan memberikan sesuatu yang berarti kepada bangsa dan kesempatan ini," sambungnya.




(fdn/fdn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com