DetikNews
Jumat 06 April 2018, 14:22 WIB

Ini Alasan Citarum Sempat Masuk Daftar Sungai Terkotor di Dunia

Yulida Medistiara - detikNews
Ini Alasan Citarum Sempat Masuk Daftar Sungai Terkotor di Dunia Deputi SDM, Iptek dan Budaya Maritim, Kemenko Kemaritiman, Safri Burhanuddin Foto: Yulida/detikcom
Jakarta - Ada sekitar 1.900 industri di sekitar daerah aliran sungai (DAS) Citarum. Sebanyak 90 persen di antaranya ternyata Instalasi Pengolahan Air Limbah atau IPAL-nya tidak memadai.

Pernyataan tersebut disampaikan Deputi SDM, Iptek dan Budaya Maritim, Kemenko Kemaritiman, Safri Burhanuddin, di gedung BPPT II, Jl MH Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat (6/2/2018). Dia bicara di acara seminar bertajuk 'A Call for Comprehensive Water Strategy in The Citarum Watershed'.

"Data Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Jawa Barat menyebutkan, setidaknya terdapat 1.900 industri sepanjang DAS Citarum, 90 persen di antaranya tidak memiliki IPAL yang memadai, menghasilkan limbah cair sekitar 340.000 ton/hari," kata Safri.


Menurut Safri, kondisi tersebut jadi salah satu faktor penyebab tercemarnya Sungai Citarum.

Seminar bertajuk 'A Call for Comprehensive Water Strategy in The Citarum Watershed'Seminar bertajuk 'A Call for Comprehensive Water Strategy in The Citarum Watershed' Foto: Yulida/detikcom

"Limbah industri, masih banyak industri yang tidak melakukan pengolahan limbah secara baik dan membuang limbahnya ke sungai," ujar Safri.

Kondisi Sungai Citarum dinilainya sangat memprihatinkan. Menurutnya di bagian hulu juga terjadi alih fungsi lahan hutan lindung secara masif untuk lahan pertanian. Hal tersebut memicu terjadinya erosi dan sedimentasi.

"Setidaknya terdapat 80.000 Ha lahan dengan kategori kritis dan sangat kritis yang perlu segera dihijaukan kembali," ujar Safri.

Selain itu, Sungai Citarum juga tercemar limbah domestik yang dihasikan masyarakat, mulai dari sampah rumah tangga hingga kotoran manusia. Jumlah sampah rumah tangga sebanyak 20.462 ton/hari, 71 persen di antaranya tidak terangkut sampai ke tempat pembuangan akhir (TPA). Sebanyak 35.5 ton/hari kotoran manusia dan 56 ton/hari kotoran hewan/ternak juga dibuang langsung ke Sungai Citarum.


"Akibatnya, tidak mengherankan apabila saat ini Sungai Citarum dinobatkan menjadi salah satu sungai terkotor di dunia," ujarnya.

Saat ini Presiden Jokowi mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 15 Tahun 2018 tentang Percepatan Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan DAS Citarum. Tujuannya untuk melakukan berbagai upaya untuk menyelamatkan Sungai Citarum sehingga bisa menjadi sungai terbersih dalam waktu 7 tahun ke depan.

Melalui Kepres ini dibentuk Satuan Tugas Citarum di bawah komando Gubernur Jawa Barat dengan dukungan Pangdam III/Siliwangi dan Pangdam Jaya sebagai Wakil Bidang Penataan Ekosistem dan Pengendalian serta Kajati dan Kapolda Jawa Barat dan Kapolda Metro Jaya sebagai Wakil Bidang Pencegahan dan Penegakan Hukum. Safri berharap Perpres tersebut dapat mensinergikan beberapa stakeholder untuk mempercepat mengharumkan Citarum.

"Dengan terbitnya Perpres ini diharapkan adanya koordinasi dan sinergi yang lebih baik di antara kementerian/lembaga, pemerintah daerah provinsi dan kabupaten/kota sepanjang DAS Citarum, dengan dukungan TNI dan melibatkan, perguruan tinggi, tokoh masyarakat, tokoh agama, dan juga sektor swasta. Pada saat yang sama, upaya penegakan hukum juga perlu dilakukan secara komprehensif dan konsisten," kata Safri.
(hri/hri)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed