DetikNews
Kamis 05 April 2018, 21:42 WIB

Tetap Tenang, Potensi Tsunami Pandeglang Masih Perlu Dikaji

Denita Matondang - detikNews
Tetap Tenang, Potensi Tsunami Pandeglang Masih Perlu Dikaji Ilustrasi gempa (Mindra Purnomo/detikcom)
Jakarta - Masyarakat Pandeglang, Banten, dan sekitarnya tak perlu resah atas temuan potensi tsunami 57 meter dari peneliti Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Potensi itu masih perlu dikaji lebih lanjut secara ilmiah.

Temuan potensi itu muncul dari pemaparan pakar tsunami Balai Teknologi Infrastruktur dan Dinamika Pantai BPPT, Dr Widjo Kongko. Dia menyampaikan hal tersebut dalam seminar di BMKG, 3 April lalu.

Dalam paparannya itu, Widjo menyampaikan soal potensi tsunami dalam bentuk simulasi, apabila terjadi gesekan di zona megathrust. Ada enam skenario potensi tsunami dalam pemodelan ini, salah satunya simulasi gelombang besar setinggi 57 meter di Pandeglang.

Megathrust adalah zona tumbukan antara lempeng Indo-Australia dan Eurasia, yang menunjam (menghunjam) masuk ke bawah Pulau Jawa. Sementara itu, proses penunjaman lempeng tersebut masih terjadi dengan laju 60-70 mm per tahun.

"Tsunami, perhitungan ketinggian tergantung dengan data. Memang data itu belum terlalu detail. Tetapi yang saya hightlight. Potensi ada di sana dan kita mempersiapkan diri. Masyarakat tidak perlu panik karena ini adalah (penggambaran) potensi," kata Widjo saat dihubungi detikcom, Kamis (5/4/2018).

BMKG juga angkat bicara mengenai paparan Widjo ini. BMKG menyatakan potensi yang disampaikan Widjo masih harus dikaji secara mendalam.

"Pada kasus hasil kajian potensi tsunami di Pandeglang, peneliti BPPT sebenarnya tidak melakukan prediksi, tapi mencoba mengungkap potensi yang masih perlu dikaji lebih lanjut berbasis data ilmiah yang lebih memadai karena penelitian tersebut tidak menyebutkan kapan akan terjadinya sehingga dalam hal ini masyarakat agar tetap tenang," ujar Deputi Bidang Geofisika BMKG Muhammad Sadly dalam konferensi pers hari ini.

Lebih lanjut, Sadly mengatakan hasil penelitian dan kajian bersama para pakar yang teruji secara ilmiah berbasis data yang memadai dan valid dapat diterapkan dalam mendukung analisis untuk meningkatkan kualitas dan akurasi informasi gempa bumi dan tsunami yang diberikan oleh BMKG.

"Oleh karena itu, masyarakat diimbau lebih arif dalam memahami informasi gempa dan tsunami, khususnya apabila informasi tersebut masih berupa kajian awal yang belum teruji, maka informasi tersebut belum dapat menjadi pedoman resmi yang menjadi acuan dalam Upaya mitigasi bencana," ujar Sadly.

Terkait dengan paparan Widjo ini, pakar gempa bumi ITB Irwan Meliano menyatakan perlu ada penelitian kembali terkait prediksi adanya potensi tsunami setinggi 57 meter di wilayah Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten. Sebab, tingkat akurasi terkait potensi tersebut masih sangat rendah.

"Komentar saya tentang perhitungan tsunami Pak Widjo (peneliti tsunami BPPT) bahwa dalam presentasinya menggunakan data global. Data global itu tingkat akurasinya rendah," kata Irwan saat ditemui di kampus ITB, Kota Bandung.



Irwan juga hadir dalam pemaparan BPPT tersebut. Menurut Irwan, presentasi Widjo memang belum didukung data yang optimal.

"Dalam presentasinya sendiri, beliau menyatakan bahwa datanya belum optimal. Jadi belum bisa dijadikan sebagai pengambil keputusan," ujar Irwan.
(fjp/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed