DetikNews
Selasa 20 Maret 2018, 00:05 WIB

Laporan Dari Sydney

Cerita Guru RI Mengajar di Australia: Ditanya Rumah hingga Jilbab

Aditya Mardiastuti - detikNews
Cerita Guru RI Mengajar di Australia: Ditanya Rumah hingga Jilbab Guru RI mengajar di Australia. (Aditya Mardiastuti/detikcom)
Sydney - Nita Puspitasari, guru SD di Bandung, menceritakan serunya mengajar di Australia. Nita mengaku banyak mendapatkan pengalaman sekaligus wawasan baru.

"Tentunya senang banget bisa mengajar di sini selama tiga minggu. Ketemu sama anak-anak yang antusias dengan pengajar Indonesia," kata Nita saat ditemui di acara perpisahan pengajar program BRIDGE School Partnership di Opera House Sydney, Australia, Minggu (18/3/2018).

Selama tinggal di Australia, Nita mengajar di The Hills Montessori School, Adelaide. Meski kawasan itu merupakan daerah perbukitan dan peternakan, siswa-siswi di sana punya fasilitas lengkap di sekolah mereka.



"Saya mengajar di daerah yang berbukit-bukit, peternakan gitu, tapi anak-anaknya high tech dan (fasilitas) sekolahnya itu lengkap," kata Nita.

Salah satu pengalaman yang tak bisa dilupakan adalah ketika dia menjelaskan mengenai Indonesia. Banyak siswa-siswi di sekolahnya yang penasaran dengan Indonesia.

"Yang lucu itu anak-anak bertanya, 'Apakah kamu tinggal di tenda?', 'Di sana sekolahnya gimana, apa tidak ada jalan dan harus menyeberangi sungai?' Saya jelaskan satu per satu kalau saya juga tinggal di rumah sama seperti kalian," tutur Nita.

"Lalu saya jelaskan tentang Indonesia. Mereka sangat tertarik, 'Oh, begitu,'" imbuhnya.



Selama di Australia, Nita tinggal bersama keluarga asuh. Dia juga mengaku banyak mendapatkan pengalaman baru yang benar-benar membuka wawasannya.

"Saya kebetulan mendapat keluarga pasangan sejenis. Tapi memang sejak awal sudah dijelaskan, jangan kaget ketika tinggal bersama pasangan sejenis, single parent, atau keluarga lengkap. Waktu saya pamitan, sama keluarga sempat ditanya lagi, tapi saya semangat, dan ternyata tidak seperti yang saya duga," jelasnya.

"Meski memang bertentangan dengan keyakinan saya, mereka benar-benar menghormati saya, memberikan ruang untuk beribadah sendiri, dan menjauhkan anjing mereka dari saya. Mereka ramah dan sangat welcome," sambungnya.

Nita menambahkan, di Australia sistem pendidikannya mendorong siswa untuk aktif. Mereka juga terbiasa menerima perbedaan kultural sejak dini.

"Di sini ini itu biasa, keluarga itu ayah-ibu atau dua ibu, dua ayah, atau hanya ayah atau hanya ibu. Australia mengangkat banget diversity, jadi tidak ada masalah selama di sini," ucapnya.



Hal senada disampaikan Ida Marlina (30), guru Pondok Pesantren Modern Darul Istiqamah, Kalimantan Selatan. Ida mengagumi kurikulum sekolah di Australia.

"Literasi di Australia itu kuat, jadi bagus. Benar-benar diminta mengungkapkan pendapat, berani mengambil kesimpulan. Teknologinya pun lengkap, dan tiap guru siap mengajar dengan teknologi," puji Ida.

Ida juga mengaku betah tinggal dan mengajar di Australia. Meski hanya tiga minggu, dia mengaku puas bisa mendapat kesempatan mengikuti proses belajar-mengajar di sekolah.

"Saya mengajar bahasa Indonesia, ini kan programnya berkelanjutan. Nanti dari sini juga akan mengajar ke sekolah. Saya nggak sabar berbagi pengalaman ke murid-murid saya," ujar Ida.

Nunung Nurhidayati Suhaemy juga menyampaikan hal serupa. Guru kelas II SD Ridha Al Salaam, Depok, ini juga senang mendapat kesempatan mengajar di Australia.

"Anak-anak tanya apa yang saya pakai di kepala, kenapa pakai itu. Jadi kita jelaskan, masih ditanya, 'Apa nggak panas.' Terus ada juga yang izin pegang, 'oh, ternyata halus ya'. Anak-anak antusias," kenangnya.

Nunung menambahkan, selain bahasa Indonesia, dia mengajarkan tari. Dia mengaku sangat disambut oleh siswa-siswi di sekolahnya mengajar.

"Mereka sangat antusias, bahkan waktu pamitan itu mereka sedih. Ada yang minta izin peluk, luar biasa, saya senang banget dan betah selama di sini," ujar Nunung.

"Anak-anak di sini sopan. Mereka bahkan kalau mau foto saja minta izin, beda sama kita yang malah narsis. Saya juga punya kesempatan menjelaskan tentang keindahan Indonesia," ucapnya.

Program BRIDGE School Partnership ini merupakan salah satu program Asia Education Foundation yang dibentuk Australia untuk pertukaran guru, siswa, dan komunitas sekolah antara Asia dan Australia. Para siswa BRIDGE ini berkolaborasi dalam berbagai kegiatan, berlatih kemampuan berbahasa, menjalin hubungan pertemanan antarsiswa dan sekolah.

Sistem yang digunakan dengan sistem belajar campuran, tatap muka, pembelajaran online, dan program homestay internasional dengan sekolah-sekolah yang telah menjadi mitra program ini.
(ams/nkn)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed