DetikNews
Minggu 14 Januari 2018, 16:29 WIB

KPAI Mediasi Masyarakat yang Tolak Pondok Pesantren di Subang

Fajar Pratama - detikNews
KPAI Mediasi Masyarakat yang Tolak Pondok Pesantren di Subang Foto: Mediasi masyarakat yang menolak salah satu pesantren di Subang/Dok KPAI
Jakarta - Ketua KPAI Susanto turun tangan ke Subang, Jawa Barat untuk memediasi masyarakat yang menolak salah satu pondok pesanten. Mediasi KPAI perlu mengingat anak-anak yang belajar di ponpes tersebut nasibnya terkatung-katung.

Mediasi itu dilakukan pada Jumat (12/1/2018) siang. Susanto mendatangi Kantor Dinsos, Subang yang berada di Jl Di Panjaitan untuk melakukan mediasi.

Mediasi tersebut melibatkan beberapa pihak antara lain KPAI, polisi, KPAD, Kesbangpol, Dinsos, Kemenag, MUI, Camat, Lurah, RW, tokoh masyarakat dan pihak pengungsi dari pesantren MH.

"Mengingat pengungsi, sudah 21 hari dan dikhawatirkan berdampak negatif bagi anak, saya meminta agar hari itu juga diambil keputusan segera. Semakin lama dikhawatirkan efek domino bagi anak semakin kompleks," kata Susanto dalam keterangan tertulisnya, Minggu (14/1/2018).
KPAI Mediasi Masyarakat yang Tolak Pondok Pesantren di SubangFoto: Mediasi masyarakat yang menolak salah satu pesantren di Subang/Dok KPAI


Susanto mengatakan pesanten MH mendapatkan penolakan dari warga berkaitan dengan isu ajaran radikal. Polisi juga tengah mendalami benar tidaknya alasan yang mendasari kecurigaan tersebut.

"Pesantren MH mendapat penolakan dari warga sekitar karena isu yang beredar memiliki catatan dengan jaringan radikalisme dan terorisme. Polisi juga terus mendalami keterlibatan ini. Kondisi ini membuat lingkungan warga sekitar tak nyaman dengan aktivitas yg dilakukan," kata Susanto.

Proses mediasi yang dilakukan berjalan baik. Diambil kesepakatan para pengungsi bisa kembali ke kampung halamannya dengan aman.

"Hari Sabtu, pengungsi dari pesantren MH telah dipulangkan ke daerah asalnya. Untuk kelanjutan pesantren MH diserahkan keputusanya kepada pihak kementerian agama Subang untuk menindaklanjuti. Prinsipnya, anak harus diselamatkan dari segala kemungkinan efek negatif," kata Susanto.
(fjp/fjp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed