DetikNews
Kamis 11 Januari 2018, 14:25 WIB

Sekolah Kolong Rumah dan Cerita 90 Persen Warga Kampung Buta Huruf

M Bakrie - detikNews
Sekolah Kolong Rumah dan Cerita 90 Persen Warga Kampung Buta Huruf
Makassar - Sekolah di kolong rumah yang ada di kampung Bara-baraya, Dusun Tenete Bulu, Desa Bonto Manurung, Kecamatan Tompo Bulu, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, menyimpan banyak haru. Tak mudah untuk sampai ke kampung itu.

Dengan berjalan kaki selama tiga jam melewati tanjakan dan turunan yang terjal berbatuan, membuat kampung ini sulit terjamah dunia luar. Saat detikcom bersama relawan Sekolah Kolong Project berkunjung, warga kampung ini begitu ramah menyambut. Bahkan, rumah mereka terbuka lebar untuk ditempati.

Rumah milik Daeng Raga yang menjadi tempat 20-an murid bersekolah di bawah kolong, merupakan tempat favorit para relawan sekaligus guru setiap kali datang kesana.
Sekolah Kolong Rumah dan Cerita 90 Persen Warga Kampung Buta Huruf

Tepat di sebelahnya, sebuah lahan kosong berukuran 7 x 12 meter merupakan lokasi awal bangunan kelas yang telah roboh karena angin kencang. Lahan ini, rencananya akan digunakan untuk membangun kembali ruang kelas baru oleh para relawan.

Daeng Raga sendiri merupakan salah satu dari warga di Kampung ini yang mulai sadar dengan arti pendidikan. Meski ia sama sekali tidak bisa baca tulis, ia berharap, anak-anak di kampungnya itu bisa mengeyam pendidikan.

Bahkan, ia rela 'ditinggalkan' oleh istri dan delapan orang anaknya di kampung ini untuk pindah ke kampung istrinya di Kecamatan Tanralili, agar semua anak-anaknya bisa bersekolah.

"Saya tidak mau anak saya dan anak-anak di sini itu seperti saya. Makanya, saya ikhlas seperti ini demi masa depan mereka semua," ucap Daeng Raga kepada detikcom, Kamis (11/1/2018).

Tidak hanya ia yang buta aksara di kampung ini. 90 Persen warga dari berbagai usia juga bernasib sama. Tak hanya aksara, mereka pun buta huruf hijaiyah, hingga kehidupan beragama nyaris tak ada.

"Ada satu masjid di sini, tapi jarang digunakan, karena tidak ada yang bisa jadi imam. Kami mau belajar membaca dan mengaji, tapi tidak ada gurunya," lanjut Daeng Raga.

Semangat pria yang sehari-harinya berkebun ini, seolah bersambut dengan kedatangan sekelompok pemuda dari berbagai komunitas di di kampung itu. Ia pun kini mulai mencoba belajar membaca dan mengaji.
Sekolah Kolong Rumah dan Cerita 90 Persen Warga Kampung Buta HurufFoto: bakrie

Hanya saja, pekerjaan utamanya tidak bisa ia tinggalkan. Siang hari, pria yang diperkirakan berumur 60 tahun ini, harus membuat gula aren untuk ia jual. Saat malam, ia harus menjaga padinya dari babi hutan. Kegiatan belajarnya pun hanya saat ia senggang.

Lain halnya dengan Daeng Raga, Abdul Khalik, guru yang ditempatkan mengajar di sekolah kolong ini, juga memiliki cerita yang tak kalah peliknya. Jarak dari rumah ke sekolah yang mencapai 20 km, membuat ia harus ekstra sabar.

Meski statusnya sebagai tenaga honorer dengan penghasilan kurang dari Rp 1 juta per tiga bulan, tidak membuatnya putus asa. Pengabdiannya begitu tulus, hanya agar anak-anak di kampung ini bisa mengenyam pendidikan.

"Satu hal yang membuat saya sedih, saat mereka tidak lagi mau bersekolah karena alasan membantu orang tua. Padahal, membaca dan menulis saja mereka belum bisa," paparnya.

Khalik mengaku, banyak siswanya yang memilih berhenti sebelum tahu baca tulis karena alasan itu. Orang tuanya pun seolah tidak memberikan dorongan bagi anak-anaknya untuk bersekolah.

"Orang tua mereka kadang berfikir, setelah sekolah di sini mau kemana lagi, sedangkan SMP dan SMA juga sangat jauh. Pilihan untuk keluar dari kampung juga tidak mungkin karena alasan biaya," lanjutnya.

Namun, di antara siswa yang memilih berhenti, puluhan anak yang tetap bersekolah ini, tetap menggantungkan harapan meraih cita-cita mereka. Salah satunya Aisyah, siswa kelas satu sekolah kolong ini.

Setiap kali ditanya tentang cita-cita, Aisyah menjawab lantang, hendak menjadi guru agar di kampungnya itu agar ada seorang guru dan mengajar anak-anak lain. Bocah yang hanya memiliki satu seragam sekolah ini, adalah salah satu anak cerdas yang sudah pintar membaca.

"Saya mau jadi guru, biar nanti ada yang menggantikan Pak Khalik mengajar di sini. Kasihan Pak Khalik terlalu jauh ke sini hanya untuk mengajar kami," ujarnya.

Semangat inilah yang menjadi pendorong bagi relawan dari berbagai latar belakang pekerjaan dan pendidikan membuat Sekolah Kolong Project. Selain sebagai relawan pengajar, mereka juga menggalang donasi melalui media sosial.

"Kami mulai project ini dari Agustus 2017 lalu secara bertahap. Saat ini, kami sudah menyalurkan donasi dalam berbagai bentuk barang, mulai buku, tas hingga pembangunan toilet pertama di kampung ini," terang salah seorang relawan, Wahyudin Hardi.

Ke depannya, kata dia, donasi yang mereka galang, rencananya akan digunakan untuk membangun kelas baru. Di samping itu, rekrutmen relawan pengajar juga akan dilakukan terus menerus.

Ironisnya, gerakan moral yang dilakukan oleh para relawan bersama warga ini, kurang disambut baik oleh pemerintah setempat. Tak satu pun sumbangsih saran ataupun anggaran yang diberikan dalam upaya mencerdaskan warganya sendiri.
(asp/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed