DetikNews
Selasa 12 Desember 2017, 09:15 WIB

Andalkan Nama Soeharto, Pengamat Nilai Titiek Sulit Rebut Golkar

Aryo Bhawono - detikNews
Andalkan Nama Soeharto, Pengamat Nilai Titiek Sulit Rebut Golkar Edy Wahyono
Jakarta -

Peluang Siti Hediati Hariyadi untuk memperebutkan kursi ketua umum Partai Golkar cukup berat jika hanya mengandalkan nama besar sang ayah, mantan Presiden Soeharto. Apalagi dibandingkan calon lain, Titiek juga kalah cepat melakukan pendekatan dengan para pengurus daerah.

"Kepentingan terdekat kan di pileg (pemilu legislative) dan pilkada. Kalau mbak Titiek tidak melakukan silaturahmi ke pengurus DPD, sulit meraih simpati," kata Direktur Eksekutif Charta Politica Yunarto Wijaya saat dihubungi detik.com, Senin (11/12/2017) malam.

Pertemuan dengan DPD Partai Golkar ini, ia melanjutkan, sekaligus menjadi pembuka tawaran kepada pengurus saat Pilkada serentak 2018 atau pemilu 2019 nanti. Tawar menawar politik mengenai perubahan calon kepala daerah yang diusung Partai Golkar dan pencalegan menjadi pembicaraan substansial untuk menentukan calon ketua umum kelak.

Tapi yang terjadi, Titiek justru malah bertemu dengan para mantan menteri di era Orde Baru pada Sabtu (9/12/2017) di Jalan Cendana. Padahal mereka sama sekali tak punya otoritas di Partai Golkar. "Sesepuh itu bukan penyandang suara di Munaslub, jadi tidak efektif," Yunarto menegaskan.

Seharusnya, selain mendekati DPD, putri keempat Soeharto itu juga mendekati sejumlah organisasi sayap Partai Golkar yang memiliki suara di Munaslub.

Yunarto mengingatkan, Tommy Soeharto, adik Titiek, pernah mencoba peruntungan merebut kursi ketua umum Partai Golkar pada Munaslub di Bali 2016. Namun karena minimnya dukungan, nama Tommy tak muncul sebagai calon. Hasil ini menunjukkan nama besar Soeharto tak cukup menjadi modal.

Jika menyimak riwayat terpilihnya sejumlah tokoh untuk memimpin Golkar di era reformasi, dari pengamatan detik.com hampir semunya memiliki kedekatan khusus dengan kekuasaan. Akbar terpilih pada 1999 saat menjabat Sekretaris Negara, Jusuf Kalla saat baru menjadi wakil presiden, Aburizal Bakrie di ujung masa sebagai Menko Kesra.

Berdasarkan hal itu, Yunarto kemudian membandingkan peluang antara Airlangga Hartarto (menteri perindustrian), Azis Syamsuddin mengandalkan warisan Setya Novanto, dan Titiek yang mengandalkan kharismatik Soeharto. "Mana yang lebih efektif nantinya," ujarnya.

Pengamat Politik UI Arbi Sanit termasuk yang menyangsikan peluang Titiek memenangkan pertarungan merebut kuasa di Partai Golkar. Dengan segala upaya, bila dipaksakan, Arbi memperkirakan raihan suara Titiek tak bakal lebih dari 20 persen.

Sikap Partai Golkar selama era reformasi, kata dia, sangat pragmatis. Soeharto memiliki sejarah panjang dengan Golkar, tetapi sejak reformasi bergulir kader partai merasakan kondisi politik yang prima karena lepas dari kekuasaan otoriter.

"Jadi kharisma Soharto berbeda dengan Presiden Sukarno. Di masa orde baru, orang tunduk karena takut. Sekarang mereka merdeka berpolitik," jelasnya. Menurutnya pengurus DPD dan organisasi sayap Partai Golkar sudah cukup paham mengenai sejarah Soeharto dan Partai Golkar.




(ayo/jat)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: promosi[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed