detikNews
Jumat 24 November 2017, 09:39 WIB

Catatan-catatan Atas Pelaksanaan Revolusi Putih di Pemprov DKI

Yulida Medistiara - detikNews
Catatan-catatan Atas Pelaksanaan Revolusi Putih di Pemprov DKI Foto: Anies Hadiri Acara Revolusi Putih di Cilandak (Zhack-detik)
Jakarta - Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta menganggarkan subsidi susu di 2018. Adanya subdisi susu ini mengingatkan kembali ide Revolusi Putih yang sempat menjadi perdebatan.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian Darjamuni mengonfirmasi terkait rencana Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI menerapkan revolusi putih pada tahun 2018.

"Iya," kata Darjamuni, di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (23/11/2017). Darjamuni menjawab pertanyaan, 'Apakah subsidi susu yang dianggarkan merupakan revolusi putih'.

Secara terpisah, Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno saat ditanya apakah subsidi susu ini merupakan bagian dari revolusi putih, tak menjawab secara gamblang. Ia hanya menjelaskan bahwa subsidi susu ini sebagai salah satu upaya Pemprov DKI untuk mendorong peternak sapi di Indonesia untuk menciptakan lapangan pekerjaan.

"(Subsidi) susu sebagai salah satu mendorong peternak-peternak sapi di seluruh Indonesia mungkin juga mendapatkan kegiatan daripada perekonomian untuk menciptakan lapangan kerja," ujarnya.

Untuk diketahui, Revolusi Putih menjadi salah satu program unggulan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto sejak 2009. Program itu kini kembali digaungkan dan diusulkan ke Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan.

Usulan itu disampaikan oleh Adik Prabowo, Hashim Djojohadikusumo yang mendatangi langsung Anies di Balai Kota pada Kamis 26 Oktober 2017. Dia menyebut Anies bahkan sudah setuju dengan program tersebut.

"Kami tadi sempat ketemu Pak Anies. Kami bicara cukup lama. Saya sampaikan beberapa hal dan beliau sudah setuju. Pertama adalah program tambahan makanan untuk pelajar sekolah," kata Hashim setelah bertemu dengan Anies saat itu.

Hashim menyebut itu usulan langsung dari Prabowo. Program bernama 'Revolusi Putih' tersebut akan menyediakan sarapan bagi warga di sekolah negeri dan sekolah swasta yang tidak mampu.

Anies Baswedan juga pernah menerapkan Revolusi Putih saat dirinya menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Program itu kini hendak dibawa lagi ke Jakarta. Anies pun setuju karena menurutnya Revolusi Putih sesuai dengan slogan 'Maju Kotanya, Bahagia Warganya'.

"Itu pernah jadi program di pemerintah pusat, waktu saya jadi Menteri Pendidikan, salah satunya program kami membuat yang namanya program makanan sehat untuk anak-anak. Ada yang bentuknya sarapan. Itu tadi usulan. Kita terima usulannya. Nanti kita lihat di Jakarta implementasinya seperti apa, bertahap," kata Anies di Balai Kota.

Usulan 'Revolusi Putih' sudah ditampung. Selanjutnya, usulan itu akan dikaji apakah sesuai dengan kondisi di Ibu Kota.

Pada dasarnya, Anies mengaku setuju dengan usulan program yang berkaitan dengan kesehatan siswa, karena sesuai dengan slogan 'Maju Kotanya, Bahagia Warganya'.

Soal revolusi putih ini sempat ditentang Menkes Nila Moeloek. Nila tidak sepakat dengan gagasan ini.

"Saya agak enggak setuju. Susu kalian tahu dapat dari mana? Dari sapi. Cukup enggak sapi kita? 250 juta penduduk mesti dapat dari mana?" kata Menteri Kesehatan Nila F Moeloek di Istana Negara, Jl Veteran, Jakarta Pusat, Kamis (26/10/2017).

Kandungan susu, kata Nila, tak hanya protein saja. Selain itu ada lemak dan juga glukosa (gula).

Menurut Nila, susu bisa digantikan dengan ikan yang juga kaya akan protein. Jumlah ikan di Indonesia lebih banyak ketimbang sapi perah.

Pernyataan Nila sempat disanggah Waketum Gerindra Fadli Zon. Fadli Zon membalas kritik Menkes Nila F Moeloek serta Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti soal gerakan 'Revolusi Putih' gagasan Prabowo Subianto. Fadli menilai semestinya Menkes dan Susi tak membenturkan gerakan minum susu dengan konsumsi ikan.

"Seharusnya Menteri Kesehatan atau Menteri Kelautan dan Perikanan tidak membenturkan konsumsi susu dengan konsumsi ikan. Apalagi usulan gagasan Revolusi Putih kepada Gubernur DKI Jakarta itu ditujukan untuk perbaikan gizi anak-anak di DKI, bukan untuk 250 juta penduduk Indonesia," ujar Fadli melalui keterangan tertulis, Senin (30/10/2017).

Atas kritik dari Menkes Nila, Hashim yang juga menjabat Wakil Ketua Dewan Pembina DPP Gerindra menemui Nila untuk menjelaskan soal konsep Revolusi Putih. Ia didampingi salah satu anggota Komisi IX dari fraksi Gerindra Suir Syam.

"Saya memang meminta waktu bertemu Menkes, untuk menjelaskan mengenai Revolusi Putih ini," kata Hashim dalam keterangan tertulis yang diterima detikcom, Kamis (3/11/2017).

Adik Ketum Gerindra Prabowo Subianto itu mengatakan gagasan revolusi putih muncul atas keinginan untuk pemerataan gizi anak-anak Indonesia. Dengan gizi yang cukup Hashim yakin anak-anak Indonesia tumbuh sehat, menjadi insan berprestasi, dan berdaya saing tinggi.

"Itulah yang melatar-belakangi gagasan Revolusi Putih, sebagai solusi tingkatkan kesehatan dan prestasi bangsa yang pernah disampaikan dan dilaksanakan oleh Prabowo Subianto dan Partai Gerindra sejak tahun 2008," ujarnya.

Sebelumnya Wakil Ketua Majelis Syuro PKS Hidayat Nur Wahid (HNW) juga sempat mengkritik soal revolusi putih. Ia meminta Ketum Gerindra Prabowo Subianto kembali menjelaskan definisi revolusi putih yang digagasnya. Sebab, frasa 'revolusi putih' gagasan Prabowo bisa multitafsir.

"Perlu juga mendapatkan penjelasan lebih detail dari beliau (Prabowo Subianto) 'revolusi putih' yang beliau maksudkan bagaimana, karena ini juga satu ungkapkan yang bisa punya multitafsir dan yang beragam-beragam. Menurut saya, biarlah beliau jelaskan dulu," ujar Hidayat di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Jumat (27/10/2017).

Penjelasan terkait revolusi itu akhirnya dijawab oleh Prabowo. Dikutip dari akun Facebook resmi Prabowo Subianto, Kamis (26/10/2017), Revolusi Putih adalah pemikiran Prabowo dan Partai Gerindra untuk membangun karakter bangsa yang sehat dan kuat.

Salah satu caranya menjadikan susu sebagai konsumsi rakyat Indonesia setiap hari. Kata 'putih' dalam Revolusi Putih identik dengan warna susu.

Dengan gerakan ini, diharapkan anak-anak Indonesia dapat menjadi generasi penerus yang kuat dan cerdas dalam mengemban amanat-amanat kebangsaan pada masa-masa berikutnya.

"Kita jangan melihat hasilnya sekarang. Tunggu 10 sampai 15 tahun mendatang, jika gerakan ini simultan, yakinlah generasi kita akan menjadi generasi yang mumpuni. Hal itu juga sudah dilakukan India dan China," kata Prabowo dalam posting akun FB-nya. Penjelasan soal Revolusi Putih yang dikutip detikcom diunggah di akun FB @PrabowoSubianto pada 21 Oktober 2012.

Sedangkan Fraksi NasDem DPRD DKI Jakarta menyetujui pemberian subsidi susu oleh Pemprov DKI Jakarta pada 2018. Ketua Fraksi NasDem Bestari Barus tak mempermasalahkan hal tersebut selagi kebijakan itu demi kesejahteraan masyarakat.

"Yang penting begini saja, bahwa apa yang dilakukan itu adalah untuk menyejahterakan masyarakat, utamanya anak usia didik. Kalau mengenai Revolusi Putih ataupun susu disesuaikan dengan kebutuhan," kata Bestari di gedung DPRD DKI Jakarta, Jl Kebon Sirih, Jakarta Pusat, Kamis (22/11/2017).

Subsidi susu ini memang mengingatkan pada ide Revolusi Putih yang sempat jadi perdebatan. Dia meminta kebijakan itu tak dijadikan upaya untuk mendapatkan keuntungan pribadi.

"Nah, jangan dijadikan ini sebagai market bisnis dari para pihak. Itu pesan saya. Jangan dijadikan market bisnis untuk keuntungan pribadi para pihak," tegasnya.

Rencana revolusi putih tersebut juga didukung oleh Fraksi PPP DPRD DKI Jakarta. Asalkan kebijakan tersebut merupakan upaya menyejahterakan masyarakat Jakarta.

"Yang pertama, kalau itu memang bagian dari janji kampanye, bagian dari visi-misi gubernur ingin memberikan kesejahteraan kepada masyarakat Jakarta, ya tentunya kita hormati itu," papar Wakil Ketua Fraksi PPP DPRD DKI Jakarta Riano P Ahmad saat dihubungi detikcom, Kamis (23/11/2017).
(yld/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com